Andalan

Bukit Pamoyanan – Subang

Nice to meet you all…

IMG-20170716-WA0011

Kali ini saya akan memberikan sedikit pengalaman ketika camping di Bukit Pamoyanan. Sejak beberapa bulan yang lalu tempat tersebut menjadi gencar dan terkenal di banyak media sosial, salah satunya yaitu Instagram. Saya waktu itu melihat sekilas di instagram yang di unggah oleh teman-teman saya. Ketika itu postingan-postingan mereka tentang Bukit Pamoyanan semakin ramai dan pastinya semakin menunjukan bahwa tempat itu indah sekali, asli. Disitulah rasa penasaran saya muncul dan semakin menjadi ingin segera kesana. Pasti kalian juga akan pensaran deh jika belum melihat sebelumnya, dijamin, asyik.

Seminggu setelah saya mengetahui bahwa Bukit Pamoyanan merupakan tempat wisata baru dan saya harus kesana untuk mengobati rasa penasaran, karena lokasi tempat wisata Bukit Pamoyanan tersebut tidak jauh dari rumah. Ada sahabat saya yang mengajak dan dia ingin sekali camp disana, alhasil rencana jadwal pun dibuat. Mempersiapkannya selama satu minggu itu waktu yang cukup lama menurutku karena kami ingin segera kesana tetapi kami masih ada jadwal kesibukan satu sama lain seperti sekolah, kuliah, kerja dan yang lainnya. Kami sepakat untuk berangkat waktu weekend tiba, yaitu hari Sabtu dan Minggu.

Sesampainya hari Sabtu, kami saling menanyakan perbekalan apa saja yang akan dibawa. Karena, kami akan menginap alias camp disana walau cuma satu malam. Pukul 15:00 dimana jadwal pemberangkatan menuju Bukit Pamoyanan akan segera meluncur. Kemudian saya mempersiapkan kebutuhan dan meminta izin ke orang tua lalu saya berangkat bersama sahabat saya. Ketika itu teman-teman yang ikut dari rombongan Kota Subang menggunakan mobil, sedangkan saya hanya membawa motor. Lalu kami janjian dulu di salah satu rumah sahabat saya yang dekat dengan lokasi Bukit Pamoyanan tersebut yaitu di Cimanggu.

Disana kami mempersiapkan kebutuhan makan seperti timbel, sambal dan ikan untuk di bakar. Setelah menunggu, rombongan dari Kota Subang pun akhirnya datang dengan perbekalan yang penuh dalam mobil seperti 3 buah tenda, karpet, senter dan ayam untuk dibakar. Kemudian kami langsung berangkat berbarengan sekitar pukul 19:00 WIB. Sampai di parkiran kami sangat antusias sekali karena sebentar lagi kami akan di tempat orang-orang yang ada di instagram tersebut di posting, ya, Bukit Pamoyanan. Lumayan jauh untuk menuju puncak saya merasa ngos-ngosan nafasnya, maklum sudah faktor usia dan menjadi anak pasca pramuka juga tidak menjamin semangat terus hehehehe.

Ditemukanlah tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda untuk kami istirahat. Disana kami membangun 2 tenda dom dan 1 tenda segitiga yang dibawa dari rombongan Kota Subang. Selesai mendirikan tenda kami akan makan bersama yang sebelumnya harus mencari kayu bakar untuk memanggang ikan dan ayam, yummy! Memakan waktu cukup lama sih untuk memanggang ayam 2 ekor tersebut tapi ikan sudah semua matang. Saat itu saya pergi ke tenda tetangga untuk mencari suasana baru dan tak lama kemudian waktu makan sudah siap dan saya bersama teman-teman yang lainnya menuju ke tenda utama untuk makan malam bersama. Nikmat.

Waktu malam terus berjalan saya memilih tidur karena kondisi badan yang capek dan ingin beristirahat, sedangkan sahabat-sahabat yang lainnya memilih untuk bermain salah satu permainan di aplikasi handphone. Menjelang shubuh saya sudah bangun dan langsung menuju ke toilet umum, ingin tahu nggak? Pas sampai disana antri banget, guys. Hampir satu jam saya berdiri kuat menunggu giliran masuk toilet. Setelah dari toilet, saya dan sahabat-sahabat lainnya bergegas untuk menuju area utama dimana pemandangan samudra awan akan terlihat. Karena tak ingin membuang kesempatan kami rela mengantri lagi jika ingin naik ke menara untuk berfoto dan melihat pemandangan lebih jelas.

Sesampainya diatas menara saya bersyukur sekali kepada Tuhan, karena telah mengizinkan saya untuk berdiri diatas menara itu. Ternyata do’aku terkabul cepat, alhamdulillah. Puas berfoto-foto diatas menara sebelum turun saya mengabadikan betapa ramainya dibawah sana, orang-orangnya dan banyak juga tenda-tenda yang berdiri dibawah menara. Bukit Pamoyanan itu hanyalah kabut tebal yang membentuk lautan awan putih. Disana terdapat 1 menara dan 1 jembatan sebagai tempat-tempat instagramable. Setelah dari menara kami bergegas menuju jembatan karena kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan mumpung ada disini, pikirnya.

Di menara maupun di jembatan sama-sama di waktu, lho. Dan sama-sama di batas orangnya. Karena menara dan jembatan tersebut dibuat dari bambu jadi kita harus berhati-hati jika banyak yang naik. Saya bersama 3 teman naik menara itu sebab batas maximal orang yang boleh naik hanya 4 orang begitupun di jembatan. Tetapi, itu semua nggak bikin saya kecewa saat saya dan teman-teman lain harusnya naik bersama ke menara itu, karena yang terpenting saya bisa naik di menara itu (jahatnya diriku). Disana terdapat antrian yang panjang jadi kami harus cepat-cepat untuk mengambil fotonya dan bagaimanapun hasilnya terimalah ketika difoto diburu-buru dan saat itu saya yang tak punya gaya difoto hanya seadanya, saja. Sedih.

Sudah puas naik menara dan jembatan akhirnya saya menemukan sunrise lalu berfoto sendirian dengan matahari tersebut (kasihan), ketika orang-orang berfoto sama pasangannya hahaha. Tak lama dari sana saya langsung pulang ke tenda dan prepare untuk pulang. Sebelumnya saya mengabadikan suasana tenda kami dan pemandangan gunung-gunungnya untuk kenang-kenangan. Lalu kami membuka tenda masing-masing dan pulang menuju arah area utama untuk sekali lagi berfoto ria. Itu lah pengalaman saya ketika camp di Bukit Pamoyanan demi mendapatkan view samudera awan dan berburu matahari terbit. Semoga tempat wisata ini akan selalu berkembang terus untuk memajukan Kabupaten Subang! Merdeka!

 

IMG20170716055624IMG20170716055627IMG20170716055629

Iklan

Cileat Lagi

Thanks for todaaaay 😍 – with Iqma and Yita at Curug Cileat Subang

for the second time to this waterfall again with the prospective teachers of physical education UPI Bandung and my twin friends~

 

Acara Perpisahan Zombie (XI IPA 3)

Zombie

Wahhhh Seru Banget lah lumayan 🙂

Terimakasih Ya Allah Engkau telah menyelamatkan kami semua!

Tadi acara main XI IPA 3 alias perpisahan kelas ceritanya wkwk, acaranya hampir saja gagal karena hujan besar. Tapi, alhamdulillah terlaksana juga dan nggak jadi pakai angkot katanya mahal…

Jadinya kami bawa motor deh, semuanya ada 8 motor nah sebutin yaaa ada motor Denawan, Iqma, Hana, Deni S, Deni H, Roro, Lutfi, Etik. Oh iyaaa ada 9 harusnya, karena Onda pulang duluan (ah gak seru deh jadinya) tapi yang ikut juga lumayan banyak lho. Kita absen yuk ada me, Barkah, Iqma, Chyntia, Yuyun, Roro, Ridha, Ayu, Mira, Etik, Ipinge (Tri Silvia), Meyda, Laena, Deni H, Deni S, Denawan, Lutfi, Hadi, Onda and a Aprin~

Semuanya ada 20 orang (horeeeeeeeee *tepuk tangan*) seru kan luamyan 😀 tempat yang dituju yaitu (apa ya aku lupa, guys) kalau gak salah Curug Sadim deh awalnya bukan disana tapi berhubung banyak yang tidak sesuai rencana maka dipilih lah alternative terakhir yaitu Curug Sadim yang berada di Panaruban Ciater atau bisa juga lewat Sagalaherang. Kami disana bakar-bakar ikan dulu terus yang terkahir bakar jagung deh! Pulangnya aku sama bu Ridha (panggilannya pake ‘bu’ jadi burid) mampir dulu ke “TOKMA” toserba baru yang di buka pada tanggal 24 Juni 2014 di Jalancagak – Subang.

Terimakasih semuanya, sudah mau mendengarkan curhatannya 🙂

 

 

 

Brsma guru fav
XI IPA 3 with favorite teacher Mrs. Fifit 🙂

 

Don’t give up!

ipm

Kemarin Minggu, 2 Maret 2013 aku udah selesai mengikuti acara LDK nih, kepanjangan dari Latihan Dasar Kepemimpinan dalam organisasi IPM (Ikatan Pelajar Muslim) Kab. Subang. Acara itu dilaksanakan didaerah Panaruban-Ciater, letaknya di Curug Sadim. Iya Curug Sadim itu lho!

Ya Allah. Subhanallah. Pemandangan curugnya itu sangat jarang sekali kita temui di sekeliling kita. Indahnya 🙂 karunia alam dari sang Maha Pencipta. Disana aku belajar untuk tidak terus mengeluh dan belajar bertanggung jawab. Seperti halnya seorang pemimpin, andaikan kita jadi seorang pemimpin (Aamiin) itu harus adil dan bijaksana. Aku telah mempelajarinya itu semua pada acara LDK tersebut. Oh iya, aku juga disana telah belajar arti dari KESABARAN.

Pada waktu tengah malam yang sangat gelap gulita itu. Kita semua di uji dalam arti sebuah kesabaran untuk memasukan benang pada lubang jarumnya. Pikirku itu hal yang mudah, dan ternyata pemikiranku salah besar, guys. Itu lumayan sangat sulit, lho. Karena, gelapnya malam membuat kita susah untuk melihat benda yang kecil, seperti halnya lubang jarum itu yang sangat kecil. Aku mencoba, dan terus mencoba! Ternyata tetap saja susah.

Tidak lama kemudian ada seseorang yang sudah berhasil memasukan benangnya, yaitu Teh Dewila (Teh = panggilan untuk kakak perempuan) dan hadiahnya itu dari Aby. Aby adalah Ketua IPM dan menjadi pemimpin di LDK tersebut, maka Aby telah memutuskan bagi siapa yang berhasil memasukan pertama akan mendapatkan sebuah buku yang berjudul “Chairul Tanjung si anak singkong”. Ya Allah Teh Dewila bisa, berarti itu hal yang biasa. Kenapa aku tidak bisa?

Aku terus, terus dan terus mencoba. Aku juga mencoba untuk sabar. Tapi, susah sekali untuk mendapatkan kesabaran itu. Ketika waktu terus berjalan dan cukup lama ada 2 orang lagi yang berhasil, yaitu Teh Novianti dan Teh Julaeha. Saat beberapa orang yang telah berhasil itu. Akhirnya ku menyerah dan tak ada lagi harapan 😦 hingga ku putuskan untuk tidur saja (mengantuk). Tidak lama kemudian Patriot juga berhasil.

Pada saat itu juga aku langsung terbangun dari kepasrahan niat tidur tersebut dan mulai bangkit. Karena, seorang demi seorang telah bisa melewati kesabaran itu. Aku tidak boleh kalah, aku harus dan mesti bisa menyusul mereka yang telah berhasil. Akhirnya, ku putuskan aku berkata “bisa” dan tak lama kemudian aku berhasil memasukan benang itu kedalam lubang jarum yang sangat kecil itu. Allahu Akbar!

 

Ternyata, aku bisa dan berhasil alhamdulillah. Dengan kesabaran dan tekad yang kuat itu aku akhirnya bisa melewati tantangan tersebut dengan menjadi orang ke-5 yang berhasil. Selamat, Han!

 

Intinya, kita tidak boleh berputus asa dan mengeluh. Ketika kita dilanda musibah maupun ujian seharusnya kita lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta, apalagi curhat sampai air mata membasahi pipi kita saat sedang qiyamul lail, subhanallah. Dan, ketika tertinggal jauh dari perjuangan keras teman lainnya kita tidak boleh berhenti berjuang dan terus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan kita dalam hal pengetahuan pun untuk menjemput cita-cita kita semua.

 

 

With love,

 

ipm 2

ipm 3

ipm 4