Cerita sebelum sidang PKL

Terima kasih kepada kawan-kawan semua atas dukungan dan do’anya!

Tepatnya di hari Kamis kemarin tanggal 27 September 2018 saya telah melaksanakan proses menuju SP yang dimana tahap ini sering dikenal oleh kakak tingkat dengan satu per enam atau 1/6. Kalian tahu tidak apa artinya 1/6 itu? Pasti bingung bukan? Pengertian dari 1/6 ini merupakan tahap pertama atau awalun atau bisa juga disebut start dari beberapa tahap sampai akhirnya sidang Munaqosah a.k.a Sidang skripsi. Seminar PKL ini lah tahap pertama di jurusan Agroteknologi UIN SGD Bandung sebagai syarat untuk memperoleh gelas Sarjana Pertanian (SP).  Siapa yang tidak menyangka dibalik perjuangan saya seminar PKL hari Kamis pukul 15:30 tersebut telah banyak melewati waktu yang sangaaaaaaaaaaaat padat. Dimulai pukul 07:00 pagi saya harus periksa kesehatan ke Puskesmas, karena sudah 4 hari tenggorokan saya bermasalah dan takut terjadi apa-apa. Pernah berfikir untuk acuh dengan tenggorokan yang semakin hari semakin sakit dan lebih didiamkan saja mungkin besok akan agak mendingan. Setelah puncaknya malam Kamis tenggorokan ini tidak ada tanda-tanda sembuh dan malah semakin parah, kemudian saya pun panik. Maka diputuskan pada Kamis pagi untuk periksa ke Puskesmas Cibiru. Satu jam berlalu dengan antrian yang lumayan lama dan di ruang antiran saya kebagian kartu antrian ke 13 putih (periksa umum). Disana ada warna-warna tersendiri untuk pemeriksaan, seperti kartu antrian untuk lansia berwarna kuning, ibu dan anak warna hijau, dokter gigi warna merah dan lainnya. Kemudian saya duduk di bangku kedua dari belakang dan ditemukan kursi kosong ditengah dan dipinggirnya ada seorang Ibu (lupa kenalan) konon katanya mempunyai rumah biro jodoh yang sebelumnya saya bertanya mengenai antrian giliran untuk dipanggil, dan terjadilah sebuah percakapan :

IBU         : “Neng, kuliah di UIN? Semester berapa sekarang?”

HANA    : “Muhun Ibu, semester akhir”.

IBU         : “Ohhh iya anak Ibu juga sekarang kuliah di Mesir, dan bla….bla….bla….

Teman-temanku yang budiman, maafkan tidak bisa melanjutkan percakapan diatas, dikarenakan saya lupa lagi isi percakapannya ditambah naskah ini sudah lama disimpan dalam folder. Sehingga saya lupa lagi mau cerita apa, intinya sih ini cerita rasa syukur ketika menjalani proses awal sidang di semester 7 yaitu siding PKL tahap 1/6 OK! Ada tambahan sedikit cerita nih, lumayan lah supaya sampai 500 kata 😊

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kosan Oren, 14 September 2018

Hari ini super duper hectic (mungkin) mulai dari laporan KKN yang tinggal nunggu cover dan TTD dari bapak DPL di LH (Lecture Hall). Laluuuu yang bikin panik adalah pengumpulan berkas pendaftaran siding PKL masyaAllah. Mulai dari print laporan PKL lumayan banyak di waktu yang mepet yaitu jam 3 sedangkan terakhir pengumpulan itu adalah jam 4. It’s so very very panic. Tapi alhamdulillah semuanya diperlancar. Terima Kasih ya Allah…

Dan tadi siang itu ada balad-balad KKN, yaitu ada Kudus, Bungsu, Kakak and Bunda. Maaf ya gaes untuk si bungsu Ivi dan Kudus ditinggal dulu dikosan pada saat riweuh ngurus berkas PKL 😀

Terima Kasih gengs….

Lalu kita ngebaso dan foto-foto grupie nyampe penuh memori hmmm ada sekitar 50 foto lho!

Sekali lagi izinkan saya ucapkan kata Terima Kasih, untuk teman-teman yang sudah membacanya dengan penuh rasa gaje (mungkin).

Aku, Ibu dan Full-day school

Siapa yang tahu dengan program baru dalam bidang Pendidikan pada tahun 2017? Iya! Betul sekali sistem jam sekolah dengan tersohornya full day school. Full day school merupakan sistem Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilampari oleh Permendikbud RI Nomor 23 tahun 2017. Dilihat secara harfiah bahwa full day yang berarti sehari penuh dan school = sekolah. Jadi bisa kita artikan bahwa waktu pembelajaran di sekolah dengan durasi terpanjang yaitu 8-9 jam perhari. Tujuannya sih supaya mendapatkan proposi materi yang intens dan lebih banyak melalui aplikasi ilmu secara nyata seperti menghadirkan cara belajar yang menyenangkan, praktis dan interaktif. Kenyataannya harapan pemerintah ironi dengan keadaan SDM dan fasilitas pendidikan kita saat ini. Boleh berbagi pendapatnya bagi yang setuju dan juga yang kontra pun boleh mengungkapkan kerisauannya disini. Mengapa sistem pendidikan sangat penting sekali untuk kita bahas, karena pada dasarnya harapan suatu bangsa agar tetap berdiri kokoh yaitu dengan melakukan banyak usaha pembenahan yang salah satunya adalah perbaikan sistem pendidikan. Ini sudah pasti termasuk ke dalam bagian dari reformasi, akan tetapi reformasi yang belum tuntas hingga saat ini. #TuntaskanReformasi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini telah menerapkan sistem zonasi yang tertera dalam Permendikbud RI Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020. Peraturan tersebut menuai kontrovesi dan juga protes dikalangan orang tua murid. Menurut Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy, menjelaskan kebijakan sistem zonasi ini menggurah ide dari negara maju yang telah lama menerapkan sistem zonasi seperti Amerika, Australia, Jepang, Jerman, Malaysia dan negara-negara Skandinavia. Adapun alasan yang dipaparkan pihak kontra karena belum meratanya infrastruktur pendidikan di seluruh wilayah. Isu ini sangat penting juga dan luar biasa penting bagi masa depan Ibu Pertiwi. Maka saya mengajak kawan-kawan semua untuk terus bersuara, setuju atau tidak dengan kebijakan sistem zonasi ini?

Kembali ke topik awal bahwa hal yang belum tuntas dengan baik melalui sistem full day school ini menurut pendapat saya adalah minimnya tenaga pengajar yang memiliki kreativitas tinggi. Kalian tahu? Ya, guru profesional. Masih banyak guru yang terbelakang (belum pensium) ini di pelbagai desa kelurahan dan bahkan kecamatan, bagaimana rumitnya mengajar dengan sistem KBM atau Kurtilas (Kurikulum 2013). Sulitnya menjangkau sistem internet dan yang paling utama untuk bisa membawa siswa belajar secara aplikatif dengan cara studi ke lapangan. Contohnya ada pendapat teman saya yang pro dengan full day school.

“Setiap pembelajaran nggak harus di ruangan, misal belajar sejarah yang anak IPS bisa pergi ke museum yang berbau sejarah sosial, atau yang IPA bisa ke Museum Geologi, dan lain-lain. Setiap minggunya diadakan agenda lihat yang hehijauan biar nggak gitu-gitu aja rasanya, buat anak SMA sama SMP yang udah dewasa bisa main identifikasi lapangan, atau lingkungan sekitar dan dikaitkan sama materi.” pungkas Marhama (mahasiswi yang mengambil judul skripsi “Peran Bokhasi Paitan (Tithonia diversifolia) dan FMA Terhadap Perbaikan Sifat Fisik Tanah Serta Produktivitas Tanaman Bawang Merah Varietas Batu Ijo Pada Tanah Pasca Galian C”).

Kenyataannya itu bukan solusi yang pas untuk meratakan sistem full day school, karena para siswa yang harus menghabiskan banyak waktunya dengan sekolah terpaksa jarang berjumpa dengan temannya yang dekat rumahnya. Hal ini jelas memberi dampak negative bagi jiwa sosialnya (berinterkasi dengan keluarga/teman sebaya di sekitar rumah). Penelitian Coover & Murphy (2000), mengabarkan ketika semakin tinggi konsep diri dan perencanaan diri, maka semakin positif gambaran diri seseorang dan cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Menambahkan Coover & Murphy bahwa pengenalan pada diri sendiri berkembang melalui interaksi sosial dan adanya komunikasi dengan orang lain. Hal ini memberikan saran bahwa faktor eksternal (salahsatunya sosial) yang mempengaruhi prestasi belajar, karena anak yang bersekolah di sistem (non) full day lebih banyak memiliki waktu beristirahat, melatih jiwa sosialnya dan berinteraksi dengan lingkungan luar atau bahkan sekitar rumah. Nah, jika anak-anak hanya mempunyai teman di area sekolah saja dan tidak mendapatkan interaksi sosial lebih dengan orang yang ada disekitar rumahnya, bagaimana?

Selain contoh diatas, ada dampak negative lain dari sistem full day school yaitu hal yang sering terlupakan oleh para orang tua khususnya ibu-ibu. Anak tidak makan dan tidur secara teratur, true? Makan adalah kebutuhan utama sebagai sumber energi bagi otak untuk bisa mengolah, menyerap, dan menyimpan informasi. Tidur berguna untuk memperkuat proses otak menyimpan informasi baru sebagai memori jangka panjang, sehingga materi yang didapatkan dari sekolah dapat mudah mereka ingat kembali di waktu akan datang. Ironisnya, sistem sekolah yang menerapkan full day tidak semua memberikan layanan utama tentang dua kebutuhan tersebut karena, tidak semua sekolah memiliki fasilitas katering makan siang atau kantin dengan pilihan makanan padat gizi dan bervariasi. Di sisi lain, sekolah sampai sore (8-9 jam perhari) artinya siswa jadi kehilangan waktu berharga untuk istirahat dan tidur. Akhirnya menyebabkan anak berisiko lebih gampang sakit terkena maag atau flu akibat kurang makan dan tidur.

Sistem Pendidikan
Mengingat beberapa dampak negative dari sistem full day school yang telah disebutkan diatas, saya mendapatkan keluhan dari seorang Ibu (dirahasiakan namanya) yang mengeluh akibat dari perilaku anaknya sekarang (usia SMA) karena sering bolos sekolah. Kata anaknya “pusing sekolah terus pengin tidur saja.” lalu Ibu itu pasrah dan mengizinkan anaknya untuk bolos sekolah. Anak ibu itu sudah mengikuti full day school dari dia seragam putih merah sampai putih abu sekarang, akibatnya dia rentan stress karena seluruh tenaga habis dicurahkan untuk bisa memahami “serbuan” informasi baru tanpa henti. Anak itu mempunyai waktu istirahat dan bermain yang minim karena diharuskan mengikuti berbagai kegiatan tambahan di luar sekolah, termasuk ekstrakurikuler dan bimbingan belajar. Hal ini secara perlahan membuat otak si anak kewalahan dan sangat kelelahan. Gangguan psikologis ini dalam jangka panjang mengakibatkan risiko masalah perilaku anak di sekolah, seperti membolos dan coba-coba narkoba atau miras, dan sampai lebih parah ke pemikiran upaya bunuh diri. Sebuah riset yang telah melaporkan bahwa anak sekolah yang tidur kurang dari enam jam per malam dan waktu belajar yang lebih dari lima jam perhari dilaporkan tiga kali lebih mungkin untuk menderita depresi.

Bagaimana perasaan Ibu yang saya dapati keluhannya dari anaknya yang suka membolos akibat durasi sekolah yang lebih dari lima jam, apakah ada solusi?
Hal ini sesuai dengan argumen Hikmaya teman saya yang mencintai sekali rempah-rempah dan saat ini mempunyai bisnis di merk dagangnya “Jamuku” dia berpendapat tidak setuju dengan adanya sistem full day school, menurutnya begini (hope you all understand).

“I think full-day not to good. But if any full day at some school they are must have a good program like gardening, or fishing, and do what who like child feel happy.” jelasnya.

Jadi harus bagaimana?

Dari keluhan seorang Ibu yang saya temukan, maka saya tergiat untuk menuliskan opini saya dan sharing discussion dengan teman-teman saya. Jadi kelebihan dan kekurangan diatas bisa menjadi pertimbangan Anda untuk memilih sekolah untuk anak ibu bapak sekalian. Adapun kita lihat lagi kemampuan dan keinginan anak anak kita, karena setiap anak itu unik.

Regards,

Mengembalikan Bahasa Daerah Sebagai Bahasa Ibu

Dengan buku menjadi banyak tahu tentang dunia dan dengan bahasa seakan kita hidup selamanya. Begitulah singkatnya jika kita bekumpul dengan keluarga yang digunakan untuk menjalin keakraban adalah bahasa, berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari kampung halaman sama pun menggunakan bahasa. Namun, saat ini bahasa-bahasa daerah tersebut akan semakin punah di daerahnya masing-masing akibat paradigma masyarakat yang cenderung menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari dan gengsi jika menggunakan bahasa dari daerah asal mereka. Boleh-boleh saja jikalau ingin belajar bahasa asing dan menguasai berbagai macam bahasa baik itu bahasa Inggris, Korea, Jepang maupun Arab hanya untuk meningkatkan pengetahuan tentunya, tapi jangan sampai bahasa daerah kita sendiri dilupakan serta kita selaku mahasiswa yang akan menjadi penerus bangsa ini kedepannya harus bisa menjaga dan melestarikan budaya lokal. Karena, Negara kita ini sangat kaya akan budaya dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri salah satunya adalah bahasa.

Dari situs berita nasional yang mengutip dari situs riset linguistic dan telaah bahasa dunia, Ethonologue, Indonesia menempati urutan kedua dengan bahasa lokal terbanyak di dunia, situs tersebut menyatakan Indonesia memiliki 707 bahasa daerah. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia mempunyai lebih dari 700 bahasa daerah. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia Negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini. Bahkan berdasarkan buku yang pernah saya baca pun berjudul “Life Science for a Better Life” menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman bahasa daerahnya masing-masing dan isi buku tersebut intinya ingin menggugah kesadaran masyarakat betapa strategisnya life science, mengingat Indonesia memiliki modal kebudayaan dan biodiversitas yang tak tertandingi oleh Negara manapun di dunia. Tahukah kalian? Bahwa dari 700 bahasa daerah di Indonesia saat ini hanya 19 bahasa yang aman dan tetap kita gunakan sebagai alat komunikasi di daerahnya masing-masing. Lalu bahasa yang dinyatakan punah oleh Badan Bahasa sebanyak 11 bahasa, keberadaan bahasa yang telah punah tersebut tersebar di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Kemudian usaha Badan Bahasa untuk melestarikan bahasa daerah sampai tahun 2016 sebanyak 646 bahasa daerah telah didokumentasikan.

Menurut kutipan dari UNESCO menyatakan “ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga, sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah” kemudian menurut data UNESCO, daerah yang paling terancam punah bahasanya adalah Halmahera. Oleh sebab itu, usaha yang bisa membantu guna untuk mempertahankan dan mengembalikan keragaman bahasa daerah sebagai bahasa ibu yaitu penutur sebelumnya ketika memiliki keturunan harus dikenalkan dan diaplikasikan bahasa daerah mulai sejak dini sesuai suku dan budayanya masing-masing. Manfaat yang akan didapatkannya banyak sekali selain untuk menjaga warisan yang sangat berharga, seperti yang telah disebutkan oleh UNESCO maka sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi tersebut akan terjaga dan dilestarikan. Walaupun saat ini rata-rata para orang tua telah meninggalkan bahasa daerahnya dan mengajarkan anak-anaknya ke kelas privat bahasa untuk bisa bahasa asing. Faktor tersebut yang menyebabkan semakin berkurangnya pemakaian bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kutipan dari Dadang Sunendar (Kepala Badan Bahasa) ketika membuka Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional tahun 2017 “Penggunaan bahasa asing harus sesuai dengan tempat dan waktunya”.

Kemudian bahasa daerah harus ada di sekolah sebagai mata pelajaran. Seperti yang telah dikatakan oleh Anies Baswedan adalah “cara agar bahasa tidak hilang adalah dengan diajari di sekolah, di rumah dan semua orang harus mempromosikannya”.  Contohnya di Jawa Barat sendiri ada mata pelajaran khusus bahasa yaitu Bahasa Sunda,  di Jawa ada mata pelajaran Bahasa Jawa. Mereka wajib mempelajarinya, mengetahui  dan mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Dengan begitu para generasi muda akan tahu walau hanya sedikit demi sedikit lalu akan terbiasa dengan bahasa daerah yang mereka pelajari. Selain kenal dengan bahasa daerah masing-masing, mereka juga akan berfikir bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap budaya yang beraneka ragam tersebut. Karena, semboyan Negara kita adalah “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, yang menggambarkan bahwa Negara kita memiliki macam-macam budaya yang salah satunya yaitu bahasa dan setiap dialek bahasa daerahnya pun berbeda-beda. Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh sampai melupakan bahasa daerah tersebut. Seperti Ewis Taime (25) dan Imannuel (20) dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2017 menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan bahasa daerah, karena bagi mereka bahasa merupakan salah satu elemen dan sarana penting sebagai pemersatu bangsa.

Mari kita sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan dari Bhinneka Tunggal Ika, dengan cara menggunakan bahasa daerah dan jangan malu untuk melakukan itu. Utamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pemersatu bangsa dan lestarikan bahasa daerah sebagai ciri khas Negara kita yang dimana setiap suku bangsa mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Maka, sudah sangat jelas kita harus mengembalikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Data : Badan Bahasa (2016)

Kontaminasi (Browning) Pada Teknik Kultur Jaringan

Dalam bidang pertanian saat ini selain budidaya pertanian organik yang sedang digalakkan disamping itu untuk memanfaatkan perkembangan teknologi terbaru yang ada dalam bidang pertanian saat ini dan masa depan yaitu dengan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan atau kultur in vitro atau tissue culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi sel, jaringan, dan organ kemudian menumbuhkan bagian tersebut pada media buatan yang mengandung kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh pada kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan berenegerasi menjadi tumbuhan sempurna kembali (Kristina et al, 2017). Menurut Erizka Fauzy (2017), kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman (daun muda, mata tunas, ujung akar, keping biji atau bagian lain yang bersifat meristematik) serta menumbuhkannya dalam media buatan yang kaya nutrisi dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) secara aseptik (steril) dalam wadah in vitro yang tembus cahaya sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Kultur in vitro tidak hanya dapat digunakan untuk konservasi dan perbanyakan tanaman, melainkan dapat juga diterapkan untuk produksi metabolit sekunder (Anis dan Oetami, 2010). Namun, kontaminasi oleh mikroba merupakan salah satu masalah serius dalam kultur in vitro tanaman (Leifert dan Cassells, 2001).

Ciri yang terdapat pada kontaminasi tersebut diantaranya pencoklatan pada eksplan ataupun media. Proses pembuatan kultur jaringan, komponen yang paling rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme adalah media tumbuh dan eksplan Gunawan (1988). Berdasarkan hasil penelitian Anis dan Oetami (2010), penyebab dari kontaminasi (browning) akibat gejala yang ditimbulkan dari adanya serangan jamur adalah tumbuhnya hifa-hifa jamur pada permukaan media maupun eksplan setelah inokulasi selama rata-rata 4-10 hari setelah tanam. Di samping itu, mikrooganisme akan menyerang eksplan melalui luka-luka akibat pemotongan dan penanganan waktu sterilisasi sehingga mengakibatkan jaringan eksplan. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala berwarna putih, biru, coklat atau krem yang disebabkan jamur dan bakteri. Media tumbuh dan eksplan dapat terkontaminasi oleh mikrooganisme karena keduanya dapat berfungsi sebagai subsrat yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme termasuk bakteri (Doods dan Roberts, 1983) dan jamur (Gunawan, 1987). Pandiangan (2003), mengatakan bahwa kontaminasi dapat terjadi dari eksplan baik eksternal maupun internal, mikroorganisme yang masuk kedalam media, botol kultur atau alat-alat tanam yang kurang steril, ruang kerja dan kultur yang kotor (mengandung spora di udara ruangan laboratorium) dan kecerobohan dalam pelaksanaan.

Selain itu, masalah lingkungan inkubator juga tidak bisa diabaiakan karena ini juga sering menjadi masalah. Suhu ruangan inkubator sangat menentukan optimasi pertumbuhan eksplan, suhu yang terlalu rendah atau tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada eksplan. Kebutuhan antara satu tananaman dengan tanaman yang lain berbeda, namun demikian solusinya sulit dilakukan mengingat umumnya ruangan inkubator suatu ruangan laboratorium kultur jaringan tidak bisa dibuat variasi antara satu ruangan dengan bagian ruangan yang lainnya.

 

 

Referensi :

Anis S dan Oetami Dwi H. 2010. Pengaruh Sterilan Dan Waktu Perendaman Pada Eksplan Daun Kencur (Kaemferia galanga L) Untuk Meningkatkan Keberhasilan Kultur Kalus. AGRITECH, Vol. XII (1) 11 – 29

Erizka F, Mansyur, dan Ali Husni. 2017. The Effect Of Using Murashige And Skoog Medium (Ms) And Vitamin To Callus Regeneration Of Napier Grass (Pennisetum Purpureum) Cv. Hawaii Post On Gamma Radiation Ld50 Doses (In Vitro). Fakultas Pertanian UNPAD, Vol. 1 (1) 1-22

Gunawan, L. W. 1987. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. 36-101.

Kristina M, Oratmangun, Dingse P, dan Febby K. 2017. Deskripsi Jenis-Jenis Kontaminan Dari Kultur Kalus Catharanthus roseus (L.) G. Don. Jurnal Mipa Unsrat Online, Vol. 6 (1) 47—52

Litz, R. E. and D. J. Gray. 1995. Somatic Embryogenesis for Agricultural Improvement. World Journal Microbiology and Biotechnology. 11:416-425

First Time

Thanks for today…

Terima kasih atas rencana-Mu yang selalu indah untukku. Tadi tanggal 26 Februari 2018 adalah hari pertama ngasprak (asisten praktikum), iya awal kerja hari Senin itu adalah jadwal Praktikum Teknologi Benih yang partner-nya sama Hasna dan jadwal kedua itu pada hari Rabu ada Praktikum Kesehatan Tanah dengan partner Hikmaya Ajiningrum. It’s so Alhamdulillah bisa punya pengalaman jadi asisten dosen. I NEVER IMAGINED BEFORE~

Wujudkan impian mamah kalau kamu juga bisa jadi guru/dosen dengan sedikit berbekal dari pekerjaan jadi asisten ini, setidaknya kamu sudah punya pengalaman di bidang mengajar 🙂

ALBUM#IMG_5324

Regards,

Kapal Pesiarku telah tiba

Kapal pesiar kita akan segera tiba di pulau idaman, kawan! Sudah tiba saatnya untuk kita turun dari kapal besar ini, meninggalkan pondok yang penuh kasih dan perjuangan ini. Ingatlah selalu kawan, sebaik-baik alumni pondok pesantren adalah yang dapat menjaga nama baik almamaternya.

Bercahayalah engkau pesantrenku…

Tetaplah memancarkan cahaya cintamu demi santri-santrimu. Disaat mereka dekat ataupun jauh dari keberadaanmu. Karena para santri yang pernah merasakan cintamu, sampai kapanpun dan dimanapun akan tetap menjaga serta membela keutuhan cahayamu dari tangan siapapun yang ingin meredupkannya.

Novel by Ira Madan “Cahaya Cinta Pesantren”

Kuliah itu susah, TAPI…

ilustrasi-kuliah
Sudah banyak motivasi yang saya baca mengenai perkuliahan. Namun, di salah satu momen aplikasi ternama terdapat akun seseorang yang membuat saya sangat kagum, dia adalah anak Fakultas Kedokteran UGM. Didalam ceritanya dia menuliskan sebuah motivasi untuk kita renungkan apa saja ruginya kalau kita bolos kuliah, telat kuliah dan tidur saat kuliah. Berikut ini akan saya bagikan ceritanya.

***

Misalnya saja, uang kuliahku sebesar 10 juta per semester. Anggap 5 juta pertama dibayarkan murni untuk kegiatan kuliah. Sedangkan, 5 juta kedua dibayarkan untuk kegiatan lab, fasilitas kampus, administrasi dan semacamnya. Yah, 5 juta untuk kuliah satu semester. Satu semester di Fakultasku terdiri dari 4 blok. Satu nlok terdiri dari sekitar 10 kuliah oleh dosen. Berarti satu semester kira-kira terdapat 40 kali kuliah oleh dosen. 5 juta. Bagi 5 juta itu ke 40 kuliah. 125ribu. Wah, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 125ribu. Sekali saja aku bolos kuliah, berarti aku memubadzirkan 125ribu. YaAllah, mungkin bisa kupakai untuk makan selama seminggu.

Belum selesai kawan!

Sekali  kuliah itu sekitar 100 menit. Bagi 125ribu dengan 100 menit. 1.250 rupiah. Berarti, satu menit aku telat kuliah, aku membuang 1.250 rupiah secara Cuma-Cuma. Berarti, satu menit aku tertidur saat kuliah, aku hamburkan 1.250 rupiah tanpa makna. Waw. Bayangin, kuliah 5 menit = Indomie goreng telur + Es teh. Wih, mending dibuat sarapan gak toh?

***

        Begitu kira-kira gambaran umumnya. Bagaimana bisa dibayangkan kalau kita bolos uang tersebut melayang sia-sia dari hasil usaha orang tua kita yang telah mencarinya. Sungguh ngeri. Nah dari sana saya berjanji untuk tidak telat kuliah dan tertidur saat jam perkuliahan berlangsung. Apalagi sampai bolos, ih. Kemudian saya coba perhitungan dia dengan uang kuliahku per-semesternya. Jadi, spp dikampusku atau sering dibilang ukt (uang kuliah tunggal) adalah sebesar Rp. 1.700.000,- lalu setiap mata kuliah terdiri dari 16 pertemuan. 1.700.000. Bagi 16 kuliah. 106ribu. Uh, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 106ribu. Maka, sekali saya bolos uang seharga 106ribu itu akan mubadzir. Lumayan buat beli 2 novel, tuh. Iya kagak?

         Selanjutnya saya coba hitung lagi seperti diatas degan membagi waktu perkuliahan. Yaitu 100 menit setiap satu kali pertemuan. Bagi 106ribu dengan 100 menit, guys. 1.060 rupiah. Sorabi aja udah 2ribuan. Nah, kalo saya telat  5 menit saja itu uang akan terbuang sia-sia, jadi mendingan dibeliin sorabi dapet 2 setengah potong lah buat sarapan, yegak? Berarti, setiap menit saat perkuliahan kalo tertidur dikelas maka kita akan hamburkan 1.060 rupiah per menit. Dan uang itu melayang tanpa makna. Sekali lagi. Mubadzir. Mulai saat ini saya dan teman-teman semua berikan yang terbaik untuk kedua orang tua kita bahwa kita sungguh-sungguh kuliah untuk menjemput cita-cita yang mulia.

Yakin masih mau bolos kuliah?

Yakin masih mau telat kuliah?

Yakin masih mau tidur saat kuliah?

Yakinkah itu hal tepat yang kita lakukan untuk membalas kebaikan serta kasih sayang orang tua kita yang sudah ikhlas mengerahkan seluruh jiwa raganya untuk membiayai kita kuliah?

Yakin, guys?

 

KULIAH itu SUSAH

TAPI

Masih susah perjuangan Orang Tua nguliahin anaknya