Kontaminasi (Browning) Pada Teknik Kultur Jaringan

Dalam bidang pertanian saat ini selain budidaya pertanian organik yang sedang digalakkan disamping itu untuk memanfaatkan perkembangan teknologi terbaru yang ada dalam bidang pertanian saat ini dan masa depan yaitu dengan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan atau kultur in vitro atau tissue culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi sel, jaringan, dan organ kemudian menumbuhkan bagian tersebut pada media buatan yang mengandung kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh pada kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan berenegerasi menjadi tumbuhan sempurna kembali (Kristina et al, 2017). Menurut Erizka Fauzy (2017), kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman (daun muda, mata tunas, ujung akar, keping biji atau bagian lain yang bersifat meristematik) serta menumbuhkannya dalam media buatan yang kaya nutrisi dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) secara aseptik (steril) dalam wadah in vitro yang tembus cahaya sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Kultur in vitro tidak hanya dapat digunakan untuk konservasi dan perbanyakan tanaman, melainkan dapat juga diterapkan untuk produksi metabolit sekunder (Anis dan Oetami, 2010). Namun, kontaminasi oleh mikroba merupakan salah satu masalah serius dalam kultur in vitro tanaman (Leifert dan Cassells, 2001).

Ciri yang terdapat pada kontaminasi tersebut diantaranya pencoklatan pada eksplan ataupun media. Proses pembuatan kultur jaringan, komponen yang paling rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme adalah media tumbuh dan eksplan Gunawan (1988). Berdasarkan hasil penelitian Anis dan Oetami (2010), penyebab dari kontaminasi (browning) akibat gejala yang ditimbulkan dari adanya serangan jamur adalah tumbuhnya hifa-hifa jamur pada permukaan media maupun eksplan setelah inokulasi selama rata-rata 4-10 hari setelah tanam. Di samping itu, mikrooganisme akan menyerang eksplan melalui luka-luka akibat pemotongan dan penanganan waktu sterilisasi sehingga mengakibatkan jaringan eksplan. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala berwarna putih, biru, coklat atau krem yang disebabkan jamur dan bakteri. Media tumbuh dan eksplan dapat terkontaminasi oleh mikrooganisme karena keduanya dapat berfungsi sebagai subsrat yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme termasuk bakteri (Doods dan Roberts, 1983) dan jamur (Gunawan, 1987). Pandiangan (2003), mengatakan bahwa kontaminasi dapat terjadi dari eksplan baik eksternal maupun internal, mikroorganisme yang masuk kedalam media, botol kultur atau alat-alat tanam yang kurang steril, ruang kerja dan kultur yang kotor (mengandung spora di udara ruangan laboratorium) dan kecerobohan dalam pelaksanaan.

Selain itu, masalah lingkungan inkubator juga tidak bisa diabaiakan karena ini juga sering menjadi masalah. Suhu ruangan inkubator sangat menentukan optimasi pertumbuhan eksplan, suhu yang terlalu rendah atau tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada eksplan. Kebutuhan antara satu tananaman dengan tanaman yang lain berbeda, namun demikian solusinya sulit dilakukan mengingat umumnya ruangan inkubator suatu ruangan laboratorium kultur jaringan tidak bisa dibuat variasi antara satu ruangan dengan bagian ruangan yang lainnya.

 

 

Referensi :

Anis S dan Oetami Dwi H. 2010. Pengaruh Sterilan Dan Waktu Perendaman Pada Eksplan Daun Kencur (Kaemferia galanga L) Untuk Meningkatkan Keberhasilan Kultur Kalus. AGRITECH, Vol. XII (1) 11 – 29

Erizka F, Mansyur, dan Ali Husni. 2017. The Effect Of Using Murashige And Skoog Medium (Ms) And Vitamin To Callus Regeneration Of Napier Grass (Pennisetum Purpureum) Cv. Hawaii Post On Gamma Radiation Ld50 Doses (In Vitro). Fakultas Pertanian UNPAD, Vol. 1 (1) 1-22

Gunawan, L. W. 1987. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. 36-101.

Kristina M, Oratmangun, Dingse P, dan Febby K. 2017. Deskripsi Jenis-Jenis Kontaminan Dari Kultur Kalus Catharanthus roseus (L.) G. Don. Jurnal Mipa Unsrat Online, Vol. 6 (1) 47—52

Litz, R. E. and D. J. Gray. 1995. Somatic Embryogenesis for Agricultural Improvement. World Journal Microbiology and Biotechnology. 11:416-425

Iklan

Pinalti Keberuntungan

HAH? Goal?

Itulah pertanyaan yang langsung ada dalam pikiran pada saat itu.

Screenshot_2018-02-17-15-10-36-59
Yeay goaaaaallllllllllllllllllllllll

Hari ini adalah hari pelaksanaan acaranya para alumni yang sering dikenal dengan “Doledocleng Cup”. Kelasku yakni 2015/A mendapatkan bagian main hari pertama, ya hari Sabtu dan lawan mainnya adalah maba (mahasiswa baru) yakni 2017/B. Sebelum pertandingan tadi, kelas A itu penuh dengan ngadadak yang artinya serba mendadak, baik itu pemainnya, kostum, sepatu, kerudung dan lainnya. Itulah kelasku walaupun begitu kami tetap hebat dan berjalan saling bergandengan alias selalu bersama. *eaaaa*

Babak pertama pun dimulai, aku, Firda, Fuji, Hindun dan Maya masuk sebagai pemain. Ini juga ada yang lebih mendadak lho, kalian harus tahu kalau Maya itu nggak niat jadi kipper awalnya dan memang bukan pekerjaan dia menjadi seorang kipper. Tetapi dengan tekad dan kemauan yang membara itulah Maya memutuskan ingin menjadi kipper di beberapa jam sebelum pertandingan. Pada babak pertama ini aku dan Fuji ditempatkan di depan untuk menyerang. Aslinya, aku nggak bisa jadi penyerang lah ngoper bola aja masih kaku apalagi nge-shoot ke gawang L

Peluit babak pertama sudah berbunyi yang artinya pertandingan sudah selesai dan diharapkan kepada para pemain untuk istirahat dulu sejenak. Setelah beberapa saat dan posisi kami telah bertuakr dengan lawan, itulah babak kedua dimulai. Kata coach Agung entah Fhandan (aku lupa) aku dan Fuji dipindah tempat menjadi di belakang dan yang maju ke depan menjadi penyerang adalah Firda dan Fitra. Huft. Akhirnya lega bisa maen dibelakang lagi jadi back with my partner is Fuji.

Bola masuk ke gawang oleh Fitra! Good Job! Kedudukan 1-0 harus dipertahankan. Tapi saying ketika aku nendang dari lawan untuk diarahkan ke team, bola itu malah salah sasaran dan aku tidak bisa menahannya karena harus lari dari pinggir ke tengah lalu menahan bola itu rasanya capek (hehehe) dan Maya tidak bisa mengendalikan bolanya karena lumayan agak kenceng sih. Akhirnya goal terjadilah goal untuk angakatan 2017 kedudukan imbang menjadi 1-1.

Fifit –panggilan Fitra- sudah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk bisa mencetak gola lagi tetapi belum waktunya, hingga bunyi peluit terdengar pertanda pertandingan sudah selesai. Kami pasrah, karena ini adalah babak penentuan siapa yang menang diantara kita. Kemudian coach Fhandan memberikan intruksi bahwa yang maju  untuk pinalti yang pertama Firda, kedua Fuji dan ketiga Fitra. Namun, mereka gagal alias tidak bisa memasukan bola satupun ke gawang karena selalu tertangkap oleh kipper.

Alhamdulillahnya angkatan 2017 juga tidak ada yang bisa memasukan satupun ke gawang kelas kami. Akhirnya penentuan ada dipemain terkahir, yakni adalah aku. Aku hanya berdoa dan berprinsip tidak akan memasukan ke tengah gawang dan akan memasukan ke sudut gawang. Dengan keberanian dan percaya diri, setelah peluit ditiup oleh wasit, akupun tidak lama beberapa detik kemudian menendang bolanya sampai di sudut gawang dan bola itu tidak tertahan oleh kipper lalu akhirnya bola itu lolos masuk ke gawang yang artinya GOAL.

Sempat tidak percaya tetapi kejadian barusan adalah kenyataan, iya maksudnya nggak percaya aja gitu bisa masukin bola ke gawang dan lebih kerennya lagi (menurutku) itu tuh lagi pinalti, penentuan antara pemenangnya siapa apakah angkatan 2015 atau 2017. Dan sejarah tadi menciptakan goal untuk saya. Banyak yang bilang itu keliatan bohongan, keliatan nggak nendang dan emang bukan tendangan yang baik. Tetapi percayalah aku hanya senang bisa mencetak goal yang tidak terduga dan mungkin apakah itu hanya sebuah keberuntungan?

Darurat Agraria

darurat agraria

Pada pembahasan pendahuluan praktikum Budidaya Tanaman Pangan Utama dan praktikum Pengelolaan Air kali ini diadakan seminar atau sharing dan diskusi terbuka bersama Wanggi Hoed (Seniman dan Pemerhati Isu Lingkungan dan Agraria). Beliau lahir di Cirebon tepatnya tanggal 24 Mei 1988 lalu merupakan Alumni STSI atau sekarang kita kenal dengan ISBI Bandung dan lulus tahun 2012. Aktif berkarya dan berproses kreatif di dunia seni pertujunkan sejak tahun 2004 sebagai alumnus jurusan teater tersebut beliau sekarang produktif berkarya di berbagai ruang publik dan ruang budaya. Wanggi Hoediyatno begitu nama aslinya adalah Seniman Pantomime Indonesia. Selalu menggunakan bahasa perdamaian dalam aksinya. 

darurat wanggi
Wanggi Hoed

Sebelum dimulai ke sesi diskusi dan sharing kami disajikan 2 buah film tentang kasus ke-agraria-an. Film pertama yang berjudul “SAMIN vs SEMEN” dan film kedua adalah “KASUS LANGKAT 3”. Pada intro film pertama ditayangkan luas lahan pertanian daerah Jawa Timur yang selanjutnya luas pabrik semen (Gresik/Indocement) sisa penggerukan. Awal mulanya PT. Indocement akan membangun di wilayah orang Samin, akan tetapi penolakan orang Samin begitu kuat sehingga berhasil pindah ke daerah lain yaitu ke Rembang tepatnya di Kecamatan Gunen. Sejak zaman dahulu juga orang-orang Samin memang selalu menentang apa saja terhadap pemerintah Belanda seperti contohnya enggan membayar pajak. Lalu dengan penolakan orang Samin pabrik semen terhambat. “Sedulur Sikep” itulah motto dari orang-orang Samin.

 

Selain di Rembang, aksi penolakan terhadap pembangunan semen juga terjadi di Pati Kecamatan Tambakromo. Mereka – para petani Jawa – sangat sedih jika tanah nenek moyangnya di alih fungsikan menjadi lahan industri. Karena, lahan pertanian masyarakat Jawa Timur jauh lebih penting untuk menyambung kehidupannya dan akan menjadi harta warisan untuk anak cucu mereka. Disana lebih diutamakan menjadi petani dan pantang untuk menjadi pedagang apalagi untuk menjadi orang yang terpandang. Sebuah kutipan yang saya ambil dari film pertama yaitu dari masyarakat Jawa Timur adalah

 

Lebih baik meperbaiki tindakan dan ucapan, tidak mengejar harta, pangkat serta jabatan” tutur Ketua Desa.

 

        Selanjutnya dari film pertama tersebut kita diberikan rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap perjuangan masyarakat Jawa terhadap perlawanan para aparat keamanan serta oknum yang pro terhadap pembangunan semen. Diantara masyarakat yang kontra terhadap pembangunan semen rela pagi, siang, sore untuk melawan para petugas penjaga gerbang sampai membuat tenda-tenda di pinggir jalan lalu setiap malam harinya selalu mengaji dan bershalawat sambil menangis. Perjuangan mereka sangat hebat sekali dan luar biasa hingga membuat para pekerja seni tersentuh hati nuraninya untuk melihat dan pastinya untuk menyemangati aksi tersebut. Salah satunya yaitu Melanie Subono, beliau banyak mewawancarai termasuk tukang ojek yang mengantarkannya ke tempat peristiwa penolakan pembangunan pabrik semen.

 

Dalam wawancaranya Melanie menanyakan berapa luas lahan yang diambil/digunakan PT. Indocement lalu menurut pernyataan tukang ojek tersebut lahan yang terkena penjualan/pembuatan untuk pabrik semen sebesar 180 hektar yang dimiliki dari 156 orang. Sesampainya disana, Melanie dan rombongan disambut dengan para ibu yang semangat menyanyikan lagu kemenangan yang dipimpin oleh Kepala Desa. Namanya tanah air, masa kita punya tanah tapi nggak punya air”, begitu pendapat Melanie setelah melihat semangat nyanyian para ibu di Pati. Selain itu, Melanie berpendapat bahwa semangat yang luar biasa itu telah mengantarkan dia ke tanah Jawa ini.

 

Semangat para wanita yang luar biasa di kampung ini, tidak seperti wanita di kota yang banyak nyeleneh dan mengeluh” jelasnya.

 

Selain di Rembang dan Pati sebelumnya pembuatan pabrik semen juga terjadi di Tuban. Kemudian para petani disana mengeluh akan dampak pengaruh negatif yang tercemar dari pembuangan pabrik semen. Mereka menginginkan segera ditutup pabrik tersebut tetapi sampai sekarang masih beroperasi saja. Menurut penuturan bapak petani di Tuban yang awalnya mereka di iming-imingi lahan pekerjaan setelah lahan budidayanya dijual. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan perjanjian lalu bapak tersebut merasa menyesal serta rekan-rekan yang lainnya pun merasakan hal yang sama.

 

Lebih baik tanah pertanian dapat menghasilkan sampai akhir hayat dari pada uang hanya sesaat dan pasti bakal hilang” tutur bapak tersebut.

 

Contohnya adalah anak bapak petani sendiri yaitu hasil dari penjualan lahan hanya dihargai sebesar Rp. 600.000,- per meter dan langsung dibelikan 2 buah sepeda motor oleh anaknya dan sampai sekarang motor tersebut semuanya rusak.

 

            Wawancara dengan bapak petani tadi menutup dari film pertama dan diakhiri dengan aksi nyata masyarakat Jawa khususnya orang-orang Samin. Walaupun mereka baru mendapatkan tanda pengenal negeri yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk) tetapi semangat berjuang untuk menghadapi perlawanan dari zaman Kolonial Belanda sampai sekarang masih kuat. Dilihat dari atas menggunakan bantuan drone, masyarakat petani Jawa membuat sebuah tulisan pembelaan terhadap penolakan pembuatan pabrik semen “TOLAK PABRIK SEMEN DI JAWA”. Film ini didokumentasikan oleh Tim Ekspedisi Indonesia Biru karya Dandhy Laksono dan Ucok. Menurut saya, film ini sangat bagus sekali karena ada unsur humornya dan membuat persuasif seseorang termasuk saya. Cara pengambilan gambar yang keren dan memadukan musiknya dengan tepat.

 

darurat 2
Film SAMIN vs SEMEN

Film kedua ini menceritakan hal yang serupa tentang darurat agraria yaitu pengalihan lahan sawit di Tanjunglangkat Sumatera Utara. Lalu membuat seorang aktor Rio Dewanto tergugah menuju kesana disela-sela proyek shooting film Filosofi Kopi 2 dan disana beliau langsung disambut oleh Tim SPI (Serikat Pertanian Indonesia). Sama seperti orang-orang Samin di Sumatera mereka menolak pengalihannlahan di PTPN II. Disini mereka lebih parah perlawanannya karena sampai ada yang dilempari batu oleh petugas keamanan sampai berdarah. Rio mewawancarai banyak termasuk Sekretaris Umum SPI. Jumlah areal luas lahan yang dialih fungsikan yaitu seluas 554 hektar menurut anggota SPI yang telah diwawancarai oleh Rio.

Setelah itu, dilahan yang dipermasalahkan mereka mendirikan tenda untuk mengaji bersama sekaligus untuk penyambutan kedatangan aktor terpandang – Rio Dewanto – atas partisipasinya untuk menyempatkan hadir di Tanjunglangkat tepatnya di Desa Mekar Jaya. Pertemuan diawali dengan sambutan bapak Kepala Desa dilanjutkan pidato dan aksi perlawanan yang terkait. Masyarakat disana menginginkan ucapan dari Presiden Joko Widodo tahun lalu tersebut sesuai yaitu akan membagikan kepada setiap petani lahan seluas 2 hektar untuk pertanian dan 0,25 hektar untuk pemukiman setiap satu rumah. Semoga ter-realisasi dengan baik. Menurut saya di film kedua ini memfokuskan wawancara masyarakat dan wawancara khusus bersama anggota SPI. Tetapi melalui video karya Rio Dewanto tersebut dapat menjadi video dokumenter yang persuasif dimana bisa mengubah serta menghasut kita sebagai mahasiswa untuk mampu seperti beliau yaitu peduli dan peka tehadap kedaruratan agraria.

darurat wanggi najwa
Wanggi Hoed di acara Mata Najwa

Setelah film kedua selesai selanjutnya dimulai sesi diskusi setiap kelompok. Berdasarkan pemaparan narasumber bahwa kia sebagai Agent of Change harus bisa menuntaskan masalah darurat agraria seperti 2 film yang telah ditayangkan. Bisa lebih peka terhadap problem seputar pertanian khususnya dan umumnya untuk semuanya. Kita sebagai mahasiswa harus mempunyai inovasi dan memperbanyak ilmu-ilmu seperti kesenian, hukum yang ada UU dan sebagainya. Contohnya seperti di Tuban ada pabrik semen yang sudah beroperasi sudah lama dan akan ditutup lalu bagaimana caranya agar segera ditutup/dihilangkanpabrik tersebut. Maka, kita sebagai mahasiswa harus mempunyai inovasi, ide dan gagasan se-efektif mungkin. Intinya kita harus bisa dan ahli dalam semua bidang keilmuan dan menjaga harta warisan Ibu Pertiwi yaitu lahan pertanian tanah air Indonesia. 

darurat

Rio-Dewanto-Film-Dokumenter

Kuliah itu susah, TAPI…

ilustrasi-kuliah
Sudah banyak motivasi yang saya baca mengenai perkuliahan. Namun, di salah satu momen aplikasi ternama terdapat akun seseorang yang membuat saya sangat kagum, dia adalah anak Fakultas Kedokteran UGM. Didalam ceritanya dia menuliskan sebuah motivasi untuk kita renungkan apa saja ruginya kalau kita bolos kuliah, telat kuliah dan tidur saat kuliah. Berikut ini akan saya bagikan ceritanya.

***

Misalnya saja, uang kuliahku sebesar 10 juta per semester. Anggap 5 juta pertama dibayarkan murni untuk kegiatan kuliah. Sedangkan, 5 juta kedua dibayarkan untuk kegiatan lab, fasilitas kampus, administrasi dan semacamnya. Yah, 5 juta untuk kuliah satu semester. Satu semester di Fakultasku terdiri dari 4 blok. Satu nlok terdiri dari sekitar 10 kuliah oleh dosen. Berarti satu semester kira-kira terdapat 40 kali kuliah oleh dosen. 5 juta. Bagi 5 juta itu ke 40 kuliah. 125ribu. Wah, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 125ribu. Sekali saja aku bolos kuliah, berarti aku memubadzirkan 125ribu. YaAllah, mungkin bisa kupakai untuk makan selama seminggu.

Belum selesai kawan!

Sekali  kuliah itu sekitar 100 menit. Bagi 125ribu dengan 100 menit. 1.250 rupiah. Berarti, satu menit aku telat kuliah, aku membuang 1.250 rupiah secara Cuma-Cuma. Berarti, satu menit aku tertidur saat kuliah, aku hamburkan 1.250 rupiah tanpa makna. Waw. Bayangin, kuliah 5 menit = Indomie goreng telur + Es teh. Wih, mending dibuat sarapan gak toh?

***

        Begitu kira-kira gambaran umumnya. Bagaimana bisa dibayangkan kalau kita bolos uang tersebut melayang sia-sia dari hasil usaha orang tua kita yang telah mencarinya. Sungguh ngeri. Nah dari sana saya berjanji untuk tidak telat kuliah dan tertidur saat jam perkuliahan berlangsung. Apalagi sampai bolos, ih. Kemudian saya coba perhitungan dia dengan uang kuliahku per-semesternya. Jadi, spp dikampusku atau sering dibilang ukt (uang kuliah tunggal) adalah sebesar Rp. 1.700.000,- lalu setiap mata kuliah terdiri dari 16 pertemuan. 1.700.000. Bagi 16 kuliah. 106ribu. Uh, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 106ribu. Maka, sekali saya bolos uang seharga 106ribu itu akan mubadzir. Lumayan buat beli 2 novel, tuh. Iya kagak?

         Selanjutnya saya coba hitung lagi seperti diatas degan membagi waktu perkuliahan. Yaitu 100 menit setiap satu kali pertemuan. Bagi 106ribu dengan 100 menit, guys. 1.060 rupiah. Sorabi aja udah 2ribuan. Nah, kalo saya telat  5 menit saja itu uang akan terbuang sia-sia, jadi mendingan dibeliin sorabi dapet 2 setengah potong lah buat sarapan, yegak? Berarti, setiap menit saat perkuliahan kalo tertidur dikelas maka kita akan hamburkan 1.060 rupiah per menit. Dan uang itu melayang tanpa makna. Sekali lagi. Mubadzir. Mulai saat ini saya dan teman-teman semua berikan yang terbaik untuk kedua orang tua kita bahwa kita sungguh-sungguh kuliah untuk menjemput cita-cita yang mulia.

Yakin masih mau bolos kuliah?

Yakin masih mau telat kuliah?

Yakin masih mau tidur saat kuliah?

Yakinkah itu hal tepat yang kita lakukan untuk membalas kebaikan serta kasih sayang orang tua kita yang sudah ikhlas mengerahkan seluruh jiwa raganya untuk membiayai kita kuliah?

Yakin, guys?

 

KULIAH itu SUSAH

TAPI

Masih susah perjuangan Orang Tua nguliahin anaknya

 

Bukber edisi 2

1497531040118

Tadi, kita makan-makan lagi di rumah mantan kosma siapa lagi kalau bukan di rumah Edo *tepuk tangan* yang meriah yaa. Acara ini untuk merayakan bukber+bucat bisul alias tadi hari UAS terakhir di semester 4.

Alhamdulillah semester 4 is done!

Hallo semester 5 !!

Be fine, be dilligent, be smart~

 

 

1497531048287
Selamat Idul Fitri 1439 H

1497531037341

 

Nonton Teater Awal edisi 2

Tadi malam aku bisa nonton lagi Teater Awal. Ah senang sekali bisa mengingat satu tahun yang lalu dimana aku nonton sendirian hujan-hujanan lagi dan sekarang pun sendiri wkwk (jujur amat sih, Han). Nah judul yang teater ini namanya “Serikat Kaca Mata Hitam” pas banget ini sama jurusan gue yaitu pertanian. Jadi, kurang lebih tentang mempertahankan lahan alias ke-agraria-an, gitu.

Tapi, sekarang ada  yang berbeda. What is that ? kali ini tiketnya G R A T I S alias free guys~

Thank youuuuuu Fegy tiketnya 🙂

Maen ke Begonia Lembang

Next story… datang di hari Minggu.

Aku, Atay, Chacha, Diki, Auf, Agung bapak, Anita, Maya, Hasna, Ifeh, Intan and Dedew pergi ke Cibodas – Taman Bunga Begonia – . Oiya aku nggak masuk kesana sih cuma nganter kelompoknya Anita, nah walaupun nggak masuk tapi kami bisa foto-foto di taman luarnya juga bagus lho. Dan satu lagi, yang penting pengalamannya. Jika kalian berminat mau maen atau sekedar foto-foto bisa datang ke lokasinya, nih aku share alamatnya di Jalan Raya Maribaya No.120 A, Langensari, Lembang, Langensari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391

 

 

IMG20170219160803
this is Hasna

 

 

IMG20170219160835
this is Hikmaya