First Time

Thanks for today Ya Allah…

Terima kasih atas rencana-Mu yang selalu indah untukku. Penuh dengan pengalaman, penuh dengan rasa syukur. Tadi tanggal 26 Februari 2018 adalah hari pertama ngasprak (asisten praktikum), iya awal kerja hari Senin itu ada jadwal Praktikum Teknologi Benih yang partner-nya sama Hasna dan jadwal kedua itu pada hari Rabu ada jadwal Praktikum Kesehatan Tanah dengan partner Hikmaya Ajiningrum. It’s so Alhamdulillah bisa punya pengalaman jadi asisten dosen juga. Jadi, intinya Hana kamu harus lebih gesit dan berani lagi, ya!! YOU CAN DO IT!!

Wujudkan impian mamah kalau kamu juga bisa jadi guru/dosen dengan sedikit berbekal dari pekerjaan jadi asisten ini, setidaknya kamu sudah punya pengalaman di bidang mengajar 🙂

 

 

 

Regards,

Iklan

Kuliah itu susah, TAPI…

ilustrasi-kuliah
Sudah banyak motivasi yang saya baca mengenai perkuliahan. Namun, di salah satu momen aplikasi ternama terdapat akun seseorang yang membuat saya sangat kagum, dia adalah anak Fakultas Kedokteran UGM. Didalam ceritanya dia menuliskan sebuah motivasi untuk kita renungkan apa saja ruginya kalau kita bolos kuliah, telat kuliah dan tidur saat kuliah. Berikut ini akan saya bagikan ceritanya.

***

Misalnya saja, uang kuliahku sebesar 10 juta per semester. Anggap 5 juta pertama dibayarkan murni untuk kegiatan kuliah. Sedangkan, 5 juta kedua dibayarkan untuk kegiatan lab, fasilitas kampus, administrasi dan semacamnya. Yah, 5 juta untuk kuliah satu semester. Satu semester di Fakultasku terdiri dari 4 blok. Satu nlok terdiri dari sekitar 10 kuliah oleh dosen. Berarti satu semester kira-kira terdapat 40 kali kuliah oleh dosen. 5 juta. Bagi 5 juta itu ke 40 kuliah. 125ribu. Wah, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 125ribu. Sekali saja aku bolos kuliah, berarti aku memubadzirkan 125ribu. YaAllah, mungkin bisa kupakai untuk makan selama seminggu.

Belum selesai kawan!

Sekali  kuliah itu sekitar 100 menit. Bagi 125ribu dengan 100 menit. 1.250 rupiah. Berarti, satu menit aku telat kuliah, aku membuang 1.250 rupiah secara Cuma-Cuma. Berarti, satu menit aku tertidur saat kuliah, aku hamburkan 1.250 rupiah tanpa makna. Waw. Bayangin, kuliah 5 menit = Indomie goreng telur + Es teh. Wih, mending dibuat sarapan gak toh?

***

        Begitu kira-kira gambaran umumnya. Bagaimana bisa dibayangkan kalau kita bolos uang tersebut melayang sia-sia dari hasil usaha orang tua kita yang telah mencarinya. Sungguh ngeri. Nah dari sana saya berjanji untuk tidak telat kuliah dan tertidur saat jam perkuliahan berlangsung. Apalagi sampai bolos, ih. Kemudian saya coba perhitungan dia dengan uang kuliahku per-semesternya. Jadi, spp dikampusku atau sering dibilang ukt (uang kuliah tunggal) adalah sebesar Rp. 1.700.000,- lalu setiap mata kuliah terdiri dari 16 pertemuan. 1.700.000. Bagi 16 kuliah. 106ribu. Uh, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 106ribu. Maka, sekali saya bolos uang seharga 106ribu itu akan mubadzir. Lumayan buat beli 2 novel, tuh. Iya kagak?

         Selanjutnya saya coba hitung lagi seperti diatas degan membagi waktu perkuliahan. Yaitu 100 menit setiap satu kali pertemuan. Bagi 106ribu dengan 100 menit, guys. 1.060 rupiah. Sorabi aja udah 2ribuan. Nah, kalo saya telat  5 menit saja itu uang akan terbuang sia-sia, jadi mendingan dibeliin sorabi dapet 2 setengah potong lah buat sarapan, yegak? Berarti, setiap menit saat perkuliahan kalo tertidur dikelas maka kita akan hamburkan 1.060 rupiah per menit. Dan uang itu melayang tanpa makna. Sekali lagi. Mubadzir. Mulai saat ini saya dan teman-teman semua berikan yang terbaik untuk kedua orang tua kita bahwa kita sungguh-sungguh kuliah untuk menjemput cita-cita yang mulia.

Yakin masih mau bolos kuliah?

Yakin masih mau telat kuliah?

Yakin masih mau tidur saat kuliah?

Yakinkah itu hal tepat yang kita lakukan untuk membalas kebaikan serta kasih sayang orang tua kita yang sudah ikhlas mengerahkan seluruh jiwa raganya untuk membiayai kita kuliah?

Yakin, guys?

 

KULIAH itu SUSAH

TAPI

Masih susah perjuangan Orang Tua nguliahin anaknya

 

Tetap dalam diam mu

Tak usah kau ceritakan.

Tak usah banyak orang mengetahuinya.

Apalagi kita jelaskan siapa orangnya. Cukup simpan rapat-rapat dalam hatimu.

Dan, tak perlu tahu siapapun. Sekalipun pada seseorang yang paling di percayai di dunia ini.

Pada dasarnya manusia sering gagal pada ujian menahan. 

Menahan rasa, menahan hati, maupun menahan pikiran.

Dan, ingat kita adalah ujian bagi satu sama lain.

Allah, mempertemukan kita dengan dirinya itu pasti ada maksudnya, hidayah itu mutlak milik Allah. Tapi, kita tidak tahu lantaran siapa hidayah itu akan sampai kepada kita, bisa saja lantaran dirinya, kita menjadi lebih baik lagi, bisa saja dengan perkenalan dengan kita dirinya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, semua kemungkinan itu bisa terjadi.

Karena, seseorang dipertemukan itu untuk merubah hidup seseorang lainnya, lakukan peranmu sebaik mungkin. Tetap rendah hati, ya.

Ketika beribu kenangan datang, dilanjut beribu rindu itu menghampiri, biarkan beribu do’a kita yang membumbung ke Arsy-Nya, pun ditekankan apapun ujian kita jangan pernah tinggalkan Allah. Allah dulu. Allah lagi. Allah terus.

Saat kesulitan datang menghampiri, Allah perintahkan kita untuk shalat dan sabar. Allah ingin mengetahui seberapa besar, azzamnya kita dalam melibatkan Allah, seberapa besar kekuatan kita dalam meminta pertolongan Allah.

Tetap jaga prinsipmu wahai perempuan, tetap menjadi wanita yang mahal, jangan mudah mengobral cinta kesana kemari, tetap dalam diammu, sayang. Karena, muslimah itu dagangan Allah yang paling mahal.

Jika dia adalah pemuda baik, dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan. Dan, jangan mudah terpengaruh oleh kebaikan-kebaikan laki-laki. Kita tahu sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah dan ibu) seorang perempuan hanyalah satu, yaitu melamar.

Jika ada seorang pemuda yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum sepenuhnya. Sebaliknya, pun begitu dia yang (belum) berbuat apa-apa tetapi berani melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

Sebab, bukan perkara kecil bagi seorang pemuda untuk meminta perempuan dari orang tuanya. Tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu).

Ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil.

Ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakannya di pundaknya sendiri.

Oleh sebab itu, janganlah kita mudah terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. Semua itu akan kalah dengan dia yang melagkahkan kaki kepada Ayah kita nanti. Karena, ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu. Maka, hitunglah kebaikan yang satu itu – hitung baik-baik –

Jadilah, wanita yang sulit didapatkan tetapi beruntung yang mendapatkannya. Sejatinya, wanita itu suka dipuji tetapi jangan tebar pesonamu, ya. Jangan biarkan obral perhatian sana-sini, jadilah putri yang cantik, anggun, shaleha dan mahal harganya. Bersabralah, biarkan cukup suami sajalah yang mengagumi dan memberi seribu pujian untuk kita.

Ayo biasakan jalan kaki!

Hallo…

Kembali lagi di opini saya sekarang yang sedang ramai-ramainya berita di situs aplikasi ternama tentang ‘malasnya orang Indonesia berjalan’ or ‘orang Indonesia peringkat terakhir dalam berjalan’ dan mungkin masih banyak lagi artikel tersebut yang belum saya baca. Secara garis besar negara kita ini kurang sekali melangkah di setiap harinya dibandingkan dengan China, Japan, Hongkong dan yang lainnya ada juga negara Amerika berada diurutan tengah dan setelah itu barisan bawah yakni ada negara kita dan peringkat sebelumnya diduduki oleh Malaysia. So, saya perhatikan kenapa itu bisa terjadi mungkin dilihat dari hal yang terkecil dulu untuk fasilitas berjalan alias trotoar tersebut sangat minim keberadaannya. Selain itu, ada juga fasilitas trotoar namun tidak terpakai sama sekali dikarenakan trotoar tersebut malah digunakan untuk berjualan seperti pedagang kaki lima, gerobak, emepran dan semacamnya.

Melihat permasalahan diatas kita ketahui selain itu juga banyak orang-orang lebih menggunakan motor untuk menempuh jarak dekat tersebut guna meminimalisir telat. Namun, lihat di kota-kota besar halnya ibu kota kita yang setiap harinya panas dipenuhi oleh asap kendaraan yang menandakan jalanan penuh sesak alias macet. Hal tersebut tidak lah bagus karena semakin kita telat karena terjebak macet dan juga polusi tidak baik untuk pernafasan. Baik, contoh lainnya adalah ibu saya sendiri jika pergi bekerja beliau lebih menggunakan motor daripada jalan, padahal jaraknya pun tidak lebih dari 1 KM. Hal tersebut terjadi akibat tidak adanya jalan khusus untuk pejalan kaki alias trotoar yang layak dan aman. Seperti yang kita ketahui dampak dari berjalan banyak setiap harinya akan menyehatkan seperti membuat otot-otot kaki semakin kuat, mengurangi gejala stroke dan otot-otot kaki tidak mudah mengecil akibat jarang dipakai untuk berjalan.

Maka, permasalahan yang sekarang dihadapi yakni menurut saya perbanyaklah jalan-jalan khusus untuk pengguna jalan kaki karena itu bisa membuat kita terasa nyaman dan aman ketika sedang berjalan lalu kurangilah kebiasaan menggunakan roda 2 seperti motor, disini saya belum mengetahui lebih banyak tentang penggunaan sepeda. Lebih ditingkatkan lagi aktivitas berjalan kita setiap harinya misal jika berangkat ngampus, kerja, sekolah, berkunjung ke rumah teman dan yang lainnya selama itu masih bisa ditempuh oleh kita. Gambar dibawah memberitahukan kepada kita semua bahwa jalan raya padat diisi oleh kendaraan sedangkan orang yang berjalan kaki tidak ditemukan sama sekali seperti gambar ketiga orang-orang lebih menggunakan mobil coltbak alias mobil buntung daripada jalan bersama-sama lebih afdhal dan menyenangkan.

Nangis di Angkot, lagi.

Kenapa ya kok berasa ragu dan sedih gini. Hari ini gue tidur di kost-an lagi. Karena, mau persiapan SP ( Semester Pendek) ^_^9

Guys, gue sedih banget beneran. Tadi pas di angkot ada maba (mahasiswa baru) sama emaknya dianter, mau verifikasi kayanya. Guys, kalian tahu enggak disitu gue sedih banget jadi inget dulu! Dari awal sampai akhirnya resmi jadi mahasiswi UIN SGD Bandung tahun 2015, gue selalu sendiri enggak kenal istilah dianter orang tua. Guys, asli gue sedih ngeluarin air mata dihadapan Eka – temen Pramuka – ini temen gue dulu kenalan pas verifikasi. Kata dia “kalau sama orang tua enggak bisa ngerasain bebasnya kenalan sama temen-temen lainnya” (Eka, 2017).

Guys, setiap orang pasti berbeda-beda, dari sini gue sangat bersyukur menjadi seseorang yang dididik sama emak gue menjadi seorang yang pemberani, hebat dan juga bertanggung jawab. Inget lagi dulu pas di angkot menuju UIN untuk yang pertama kalinya (sendiri) ada sms (maklum belum punya hp android) dari Aul, isinya tentang gue diterima di Jurusan Agroteknologi UIN SGD. Tak kuasa menahan air mata disitu juga, didalem angkot. Tak peduli gue banjir air mata di angkot! 🙂 

Teruntuk yang Terkasih

Ayah ibu,
Maafkan si bungsu yang masih sering mengeluh sakit.
Maafkan si bungsu yang masih meninggikan nada suaraku di hadapan mu, si bungsu yang masih membantah.

Maafkan si bungsu mu ini,
Jika sekiranya kesuksesan dunia tak dapat ku raih.

Tetapi saat dunia tak dapat ku raih, percayalah si bungsu akan berusaha meraih ridho-Nya dan membuat mu bahagia.

Maafkan si bungsu mu ini,
Ketika sering membuat mu malu ketika si bungsu tak bisa bersalaman kepada teman-teman ayah dan ibu.

Si bungsu hanya ingin memberikan kalian kebahagiaan akhirat.
Tapi apalah dayaku ketika ayah ibu kakak belum bisa menerima hijrah ini.

Apalah daya si bungsu ketika kalian masih mencemooh teman-teman ku yang seperti diriku.

Ayah, ibu dan kakak,
Si bungsu memang sudah berubah, tapi perubahan ku hanyalah semata-mata untuk menyelamatkan ayah dari api neraka.

Tak ingin kalian jatuh ke lubang yang panas lalu ku biarkan kalian didalam menangis sedangkan aku bahagia.
Tidak, aku tidak ingin seperti itu.
Bukan juga berarti aku sudah yakin akan bahagia di akhirat tapi setidaknya aku mencoba untuk meraih-Nya.

Si bungsu kini sudah dewasa, sudah mampu memilih yang baik dan salah, sudah jatuh cinta dan sudah mudah galau.

Ayah ibu,
Si bungsu kelak akan menjadi orang tua dan akan merasakan bahagianya punya anak.
Lalu meninggalkan ayah ibu di rumah dan hidupku selanjutnya bergantung pada imam ku, begitupun kakak yang kelak akan berumah tangga.

Ayah ibu,
Sibungsu rindu akan masa kecil itu.
Maafkan si bungsu yang belum bisa membuat kalian tersenyum lebar karena hasilku.

 

 

Dari si bungsu,
`

 

                                                                                                                Bandung, 29 Mei 2016

Gumuk Pasir Wediombo

Senja merapat di Wediombo

Gelapnya menjadi penanda waktu

Menutup jiwa diselimuti nafsu

 

Tak ada lagi yang peduli menjaga pantai ini

Merajut lingkungan asri tanpa melukai

Menggores senyum pada bumi

 

Mesti kubisikkan disetiap telinga

Agar mereka peduli

Menjaga dan menata

Dengan rasa cinta

 

Senja merapat di Wediombo

Ada orang menjaja kepedulian

Demi sekarung rupiah dengan dalih penataan

 

Yogyakarta, Januari 2017