Mengenal Politik

Hari ini tepatnya malam minggu aku mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga lagi. Dengan takdir Allah yang begitu indah dan surprise ini aku dipertemukan dengan seorang tukang ojek yang tidak sembarangan. Namanya Pak Deden asal dari Tasik, beliau kelahiran 65 yang mempunyai usaha penggilingan beras dan pabrik kerupuk dengan nama dagangnya yaitu Eka Sari. Beliau mulai bercerita dari bisnisnya, tentang rumah tangganya sampai cerita unek-uneknya terhadap pemerintah setempat.

Rumahnya digusur oleh proyek Toll Cisumdawu dan kini uang ganti belum juga turun akibat ada kelainan harga jual. Pak Deden menginginkan total ganti rugi semuanya sebesar 24 miliyar dari total keseluruha, sedangkan pemerintah menawarkan hanya sejumlah 17 miliyar. Menurutku itu dikatakan lumayan karena ya memang pemerintah sudah membagi dengan sebaik mungkin dan menghitung se-rata mungkin, tetapi masyarakat menolak selain harga yang tidak sesuai faktor utama adalah kebudayaan alias sejarah desa itu sendiri, penuh dengan sejarah dan kenangan. Akibatnya mereka belum melaksanakan pembayaran yang ‘deal‘ untuk membereskan masalah tersebut.

Saya kaget ketika beliau mengatakan bahwa anaknya baru punya satu dan itupun baru sekolah di PAUD karena Istri beliau umurnya jauh lebih muda perbedaannya hampir 20 tahunan karena kelahiran tahun 92. Akhirnya mereka baru di karuniai seorang anak perempuan dan yang bernama Aesha Putri Nugraha. Istrinya alumni IKOPIN dan sekarang sedang bekerja di Bank BJB Sumedang lalu setelah pulang kerja Istrinya itu ketika siang dilanjutkan dengan bantu-bantu di pabrik kerupuk.

 

Terimakasih, Pak Deden.
Sudah mengantarkan ku sampai ke rumah dengan selamat :)))

 

Iklan

First Time

Thanks for today Ya Allah…

Terima kasih atas rencana-Mu yang selalu indah untukku. Penuh dengan pengalaman, penuh dengan rasa syukur. Tadi tanggal 26 Februari 2018 adalah hari pertama ngasprak (asisten praktikum), iya awal kerja hari Senin itu ada jadwal Praktikum Teknologi Benih yang partner-nya sama Hasna dan jadwal kedua itu pada hari Rabu ada jadwal Praktikum Kesehatan Tanah dengan partner Hikmaya Ajiningrum. It’s so Alhamdulillah bisa punya pengalaman jadi asisten dosen juga. Jadi, intinya Hana kamu harus lebih gesit dan berani lagi, ya!! YOU CAN DO IT!!

Wujudkan impian mamah kalau kamu juga bisa jadi guru/dosen dengan sedikit berbekal dari pekerjaan jadi asisten ini, setidaknya kamu sudah punya pengalaman di bidang mengajar 🙂

 

 

 

Regards,

Pinalti Keberuntungan

HAH? Goal?

Itulah pertanyaan yang langsung ada dalam pikiran pada saat itu.

Screenshot_2018-02-17-15-10-36-59
Yeay goaaaaallllllllllllllllllllllll

Hari ini adalah hari pelaksanaan acaranya para alumni yang sering dikenal dengan “Doledocleng Cup”. Kelasku yakni 2015/A mendapatkan bagian main hari pertama, ya hari Sabtu dan lawan mainnya adalah maba (mahasiswa baru) yakni 2017/B. Sebelum pertandingan tadi, kelas A itu penuh dengan ngadadak yang artinya serba mendadak, baik itu pemainnya, kostum, sepatu, kerudung dan lainnya. Itulah kelasku walaupun begitu kami tetap hebat dan berjalan saling bergandengan alias selalu bersama. *eaaaa*

Babak pertama pun dimulai, aku, Firda, Fuji, Hindun dan Maya masuk sebagai pemain. Ini juga ada yang lebih mendadak lho, kalian harus tahu kalau Maya itu nggak niat jadi kipper awalnya dan memang bukan pekerjaan dia menjadi seorang kipper. Tetapi dengan tekad dan kemauan yang membara itulah Maya memutuskan ingin menjadi kipper di beberapa jam sebelum pertandingan. Pada babak pertama ini aku dan Fuji ditempatkan di depan untuk menyerang. Aslinya, aku nggak bisa jadi penyerang lah ngoper bola aja masih kaku apalagi nge-shoot ke gawang L

Peluit babak pertama sudah berbunyi yang artinya pertandingan sudah selesai dan diharapkan kepada para pemain untuk istirahat dulu sejenak. Setelah beberapa saat dan posisi kami telah bertuakr dengan lawan, itulah babak kedua dimulai. Kata coach Agung entah Fhandan (aku lupa) aku dan Fuji dipindah tempat menjadi di belakang dan yang maju ke depan menjadi penyerang adalah Firda dan Fitra. Huft. Akhirnya lega bisa maen dibelakang lagi jadi back with my partner is Fuji.

Bola masuk ke gawang oleh Fitra! Good Job! Kedudukan 1-0 harus dipertahankan. Tapi saying ketika aku nendang dari lawan untuk diarahkan ke team, bola itu malah salah sasaran dan aku tidak bisa menahannya karena harus lari dari pinggir ke tengah lalu menahan bola itu rasanya capek (hehehe) dan Maya tidak bisa mengendalikan bolanya karena lumayan agak kenceng sih. Akhirnya goal terjadilah goal untuk angakatan 2017 kedudukan imbang menjadi 1-1.

Fifit –panggilan Fitra- sudah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk bisa mencetak gola lagi tetapi belum waktunya, hingga bunyi peluit terdengar pertanda pertandingan sudah selesai. Kami pasrah, karena ini adalah babak penentuan siapa yang menang diantara kita. Kemudian coach Fhandan memberikan intruksi bahwa yang maju  untuk pinalti yang pertama Firda, kedua Fuji dan ketiga Fitra. Namun, mereka gagal alias tidak bisa memasukan bola satupun ke gawang karena selalu tertangkap oleh kipper.

Alhamdulillahnya angkatan 2017 juga tidak ada yang bisa memasukan satupun ke gawang kelas kami. Akhirnya penentuan ada dipemain terkahir, yakni adalah aku. Aku hanya berdoa dan berprinsip tidak akan memasukan ke tengah gawang dan akan memasukan ke sudut gawang. Dengan keberanian dan percaya diri, setelah peluit ditiup oleh wasit, akupun tidak lama beberapa detik kemudian menendang bolanya sampai di sudut gawang dan bola itu tidak tertahan oleh kipper lalu akhirnya bola itu lolos masuk ke gawang yang artinya GOAL.

Sempat tidak percaya tetapi kejadian barusan adalah kenyataan, iya maksudnya nggak percaya aja gitu bisa masukin bola ke gawang dan lebih kerennya lagi (menurutku) itu tuh lagi pinalti, penentuan antara pemenangnya siapa apakah angkatan 2015 atau 2017. Dan sejarah tadi menciptakan goal untuk saya. Banyak yang bilang itu keliatan bohongan, keliatan nggak nendang dan emang bukan tendangan yang baik. Tetapi percayalah aku hanya senang bisa mencetak goal yang tidak terduga dan mungkin apakah itu hanya sebuah keberuntungan?

Kenangan MAPAH di Kalijati

Kalijati is here…

Sekarang jam 00:42 WIB

____________________________________________________________________________________________

Cerita dimulai pada hari Jum’at sore pulang nganter Ami dari Jatos aku langsung mandi dan buru-buru packing terus keburu disamper Puja, deh. Udah gitu kita on the way-nya ba’da Magrib mau adzan Isya pokoknya. Nah, kita bareng sama rombongan yang lain juga pada bawa motor ada 12 motor #mantap #boaedan #pawaimotor.

Aku sama Puja bawa motornya gantian, di Bandung sampai Cijambe itu dibawa sama Puja dan di akhiran aku bawa dari Sindangpalay sampai lokasi tujuannya yaitu di Ponpes YAFATA Kalijati. Kalian harus tahu kalau kita itu dari Rumah Makan Pengkolan kehujanan lalu neduh dulu di warung yang depan RM Pengkolan dan kita nunggu lumayan lama sampai aku tidur nyenyak lah -________________-

Sudah sampai lokasi aku langsung tidur dah. Sabtu Subuh berjama’ah dan langsung kultum (kuliah tujuh menit) dengan materi 1 yang dibawakan oleh Asep Supriatna alias “Asep Dollar” (?) entahlah kenapa Dollar -_-“). Lanjut, materi ke-2 ada dari Ketua Umum HIMKAS yaitu  A Ibad. Yap, lanjut materi ke-3 ada “Group Discussion” yang dimana aku masuk ke kelompok 1 dan anggotanya ada Alawi, Iwan, Wulan, Linda, Sofi, Nurhayati dan pastinya ada aku jadi kita bertujuh orang. Materi ke-4 ada “Sejarah Subang”. Cihuy! Subang sejarahnya ternyata gitu toh yaks~

Materi Sejarah ini dibawakan oleh A Ulul Fahmi Fauzi dan pokoknya dia kerja di OPPO Smartphone lalu diakhir materi kita dibagi-bagi pamflet handphone OPPO. Jadinya, aku kepengin beli hape baru deh, OPPO A39 hehehe terus jadinya mau OPPO lagi Han apa Sams*ng nich? *mikir keras*. Materi ke-5 adalah materi tentang “Fungsi Mahasiswa Terhadap Subang” yang dibawakan oleh Pak Subhan (staff ahli DPR), yang ditemani dengan Pak ALdo/Didin (sekwan). Next, kita belajar nyanyi dums, ya kita harus bisa nyanyi Mars HIMKAS and than ada materi 5 “Simulasi Sidang” oleh Kang Deden Fahruji. Nah pas malemnya baru lah keadaan sudah tidak kondusif lagi, asli. Banyak alumni pada datang dan judulnya itu katanya tentang “Rempug Alumni” sampai jam 10 malam deh (kalau tak salah).

Next,  ada penampilan inagurasi dari setiap kelompok (Y). Aku asli kangen koyol-konyolan pas inagurasi ini, because kita tuh pakai sarung semua anggota kelompok 1 lalu nyanyi “Manuk Dadali” it’s so funtastic aku tak peduli lagi penampilannya kayak gimana dan pokoknya aku enggak liat audience sama sekali. Asli suka lupa, ngebleng, parah deh malu-maluin kelakuan itu dan semua ide berasal dari Wulan Tupis (tukang pipis).

Selanjutnya kita sidang deh baru sampai jam 1 udah diganggu dan baru sampai BAB 1 padahaal (-_-“). Jam 3 kita dibangunin buat di uji mental (ceritanya) semuanya ada 4 pos. Pada pos 1 aku aman dan teman-teman yang lainnya juga. Eh, by the way di kelompok pos-posan ini kita beda lagi lah kelompoknya, jadi aku sama Saoqi, Yanti, Nurhayati, Sifa. Parah lah di pos selanjutnya tuh makin extrem apalagi pos 4 (zerem).

Pos 2 ini yaitu tentang Sejarah Subang yang dimarahin terus gara-gara enggak bener neranginnya katanya kaya anak SD? Lah terus kita nyeritainnya harus begimane kakak-kakak ku, harus pake bahasa isarat? Lucu nget nget. And than di pos 3 me and all diam tanpa kata (sepertinya kenal kaya judul lagu), sampai-sampai kita disamain seperti pohon karena enggak beda jauh diem mele wkwkwk (diem-diem bae, ngopi napa ngopi).

Tuh rasain aja dah nyampe capek, lagian pasti deh kalau dijawab juga serba salah ujungnya. Daripada nguras energi kakak-kakak semua dan kita juga, jadi mendingan aku diem saja until the end. Next, di pos 4 lebih parah lagi bahasanya itu, lho! But, be grateful enggak sampai dibanjur *tepuk tangan*. Selesai adzan subuh langsung pada mandi bersih-bersih and etc.

Pas mau lanjut sidang itu kita dipindah alias disuruh hijrah dari asalnya di Gor & KBIH jadi harusnya pindah ke ruangan kelas MTs. Jam 8-an kita selesaikan sidang sampai adzan Dzuhur+pemilihan ketua angkatan (ketung). Kemudian makan siang dan acara penutupan, deh. -The End-

Next, for go to Bandung jam 2-an and arrived in here jam 7 malam. Mantap, cyin 5 jam? Aku langsung tidur lagi aja dah soalnya enggak kuat pusing banget, niat mau ngeblog juga eh malah teler duluan. ASELI. 

Cukup segitu pengalaman MAPAH-nya. Aku harap bisa mengembangkan HIMKAS supaya lebih maju Kota Subang dan aku bisa punya banyak kenalan di Pemerintahan Subang khususnya dan umumnya se-Indonesia. Amiin Ya Allah.

 

Thank YOU for time~

 

 

Desaku yang Kucintai

Well, to the point. Kemaren itu hari pawai atau sering kita kenal arak-arakan agustusan di Kecamatan Cisalak – Subang. Jujur saya senang sekali ketika masa-masa ini dirasakan kembali. Sebuah pawai atau karnaval dalam memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan NKRI ke 72 tahun. Seneng banget! Jadi inget masa-masa dulu, by the way terakhir saya ikutan pawai ini kapan, ya? Kira-kira kelas 7 atau kelas 9 sih, saya lupa. Soalnya sejak SMA hingga lulus saya jarang ikut lagi berpatisipasi di acara HUT RI. Because, saya sekolah di Kota Kabupaten sedangkan rumah di Cisalak atau lebih tepatnya jauh sekali dari sekolahku. So, my school is far very very far~

Kemarin itu saya berangkat nonton dari pukul 9 pagi sampai waktu dzuhur. Tadinya nunggu Desa saya buat tampil tapi, berhubung Desa Cigadog the last yup, urutan terakhir yaitu ke 5. Jadi, saya hanya menonton Desa Cisalak dan Desa Mayang yang setengah nontonnya karena harus pulang untuk sholat Dzuhur. Oh iya, sebelumnya urutan pertama itu ada Desa Darmaga dan kedua Desa Cisalak. Makanya pawai di mulai jam 08:00 WIB dan saya baru nonton jam 9 so i am the late. Sempet liat sih pawai Desa Darmaga pas lewat rumahku di jalan saya sedang membeli kupat tahu. Ada kuda-kudaan bagus banget, lebih tepatnya unik sih. Terus motor hias, dangdong – dangdonnya juga lucu.

Saya sangat bersyukur bisa terlahir di bumi pertiwi ini, Cisalak. Ya, itulah nama daerah saya. Dan Kabupaten Subang menjadi Kota yang tak akan pernah saya lupakan sepanjang hayat. Kota Subang didirikian pada tanggal 5 April dan saya selalu ikut andil dalam memeriahkan hari lahirnya Kota kelahiran saya ini. Maka saya lebih aktif ketika HUT Kabupaten Subang ketimbang HUT RI pada saat sekolah puith abu dulu. HUT RI tak akan pernah kalah kemeriahannya juga walaupun saya tidak ikut. Karena, di sekolah itu kalau HUT RI selalu tanggal merah dan saya memilih untuk pulang ke kampung halaman lalu diam dirumah. HEHEHE

Sedangkan HUT Kabupaten Subang dimeriahkan ketika kalender normal dan khusus Kabupaten Subang semuanya menjadi bebas alias libur lalu saya masih berada di Subang dan ada waktu lah saat itu untuk ikut pawai atau karnaval. Lagian kalau HUT RI itu kan semua kalender tanggal merah, ya kan? Jadi ada alasan dah untuk pulang ke rumah wkwk. Ah pokoknya saya sangat merindukan Kota Subang dan sejuta bahkan semilyar kenangannya (agak sedikit lebay sih). But, that’s really really my beautiful memories in the self with so much experience and i never forget all until my life to the end. Seriously.

Sudah sampai di akhir cerita, saya akan memberikan dan membagikan gambaran-gambaran tentang Perayaan Pawai Pembangunan Kecamatan Cisalak. Semoga kalian mencintai daerahnya, ya. Karena kita tidak akan pernah terlepas dari kampung halaman yang sejuk dan damai. Apalagi tempat itu telah menjadikan tempat kita untuk lahir di dunia ini dan sampai saat ini kita bisa hidup sejahtera dari hasil bumi pertanian di desa-desa kita. Semoga Allah selalu memberikan perlindungan untuk Kabupaten Tercintaku yakni Subang dan khususnya untuk kampungku.

Terima Kasih, Ibu Pertiwi. Desaku yang kucintai. Pujaan hatiku…

 

 

Andalan

Bukit Pamoyanan – Subang

Nice to meet you all…

IMG-20170716-WA0011

Kali ini saya akan memberikan sedikit pengalaman ketika camping di Bukit Pamoyanan. Sejak beberapa bulan yang lalu tempat tersebut menjadi gencar dan terkenal di banyak media sosial, salah satunya yaitu Instagram. Saya waktu itu melihat sekilas di instagram yang di unggah oleh teman-teman saya. Ketika itu postingan-postingan mereka tentang Bukit Pamoyanan semakin ramai dan pastinya semakin menunjukan bahwa tempat itu indah sekali, asli. Disitulah rasa penasaran saya muncul dan semakin menjadi ingin segera kesana. Pasti kalian juga akan pensaran deh jika belum melihat sebelumnya, dijamin, asyik.

Seminggu setelah saya mengetahui bahwa Bukit Pamoyanan merupakan tempat wisata baru dan saya harus kesana untuk mengobati rasa penasaran, karena lokasi tempat wisata Bukit Pamoyanan tersebut tidak jauh dari rumah. Ada sahabat saya yang mengajak dan dia ingin sekali camp disana, alhasil rencana jadwal pun dibuat. Mempersiapkannya selama satu minggu itu waktu yang cukup lama menurutku karena kami ingin segera kesana tetapi kami masih ada jadwal kesibukan satu sama lain seperti sekolah, kuliah, kerja dan yang lainnya. Kami sepakat untuk berangkat waktu weekend tiba, yaitu hari Sabtu dan Minggu.

Sesampainya hari Sabtu, kami saling menanyakan perbekalan apa saja yang akan dibawa. Karena, kami akan menginap alias camp disana walau cuma satu malam. Pukul 15:00 dimana jadwal pemberangkatan menuju Bukit Pamoyanan akan segera meluncur. Kemudian saya mempersiapkan kebutuhan dan meminta izin ke orang tua lalu saya berangkat bersama sahabat saya. Ketika itu teman-teman yang ikut dari rombongan Kota Subang menggunakan mobil, sedangkan saya hanya membawa motor. Lalu kami janjian dulu di salah satu rumah sahabat saya yang dekat dengan lokasi Bukit Pamoyanan tersebut yaitu di Cimanggu.

Disana kami mempersiapkan kebutuhan makan seperti timbel, sambal dan ikan untuk di bakar. Setelah menunggu, rombongan dari Kota Subang pun akhirnya datang dengan perbekalan yang penuh dalam mobil seperti 3 buah tenda, karpet, senter dan ayam untuk dibakar. Kemudian kami langsung berangkat berbarengan sekitar pukul 19:00 WIB. Sampai di parkiran kami sangat antusias sekali karena sebentar lagi kami akan di tempat orang-orang yang ada di instagram tersebut di posting, ya, Bukit Pamoyanan. Lumayan jauh untuk menuju puncak saya merasa ngos-ngosan nafasnya, maklum sudah faktor usia dan menjadi anak pasca pramuka juga tidak menjamin semangat terus hehehehe.

Ditemukanlah tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda untuk kami istirahat. Disana kami membangun 2 tenda dom dan 1 tenda segitiga yang dibawa dari rombongan Kota Subang. Selesai mendirikan tenda kami akan makan bersama yang sebelumnya harus mencari kayu bakar untuk memanggang ikan dan ayam, yummy! Memakan waktu cukup lama sih untuk memanggang ayam 2 ekor tersebut tapi ikan sudah semua matang. Saat itu saya pergi ke tenda tetangga untuk mencari suasana baru dan tak lama kemudian waktu makan sudah siap dan saya bersama teman-teman yang lainnya menuju ke tenda utama untuk makan malam bersama. Nikmat.

Waktu malam terus berjalan saya memilih tidur karena kondisi badan yang capek dan ingin beristirahat, sedangkan sahabat-sahabat yang lainnya memilih untuk bermain salah satu permainan di aplikasi handphone. Menjelang shubuh saya sudah bangun dan langsung menuju ke toilet umum, ingin tahu nggak? Pas sampai disana antri banget, guys. Hampir satu jam saya berdiri kuat menunggu giliran masuk toilet. Setelah dari toilet, saya dan sahabat-sahabat lainnya bergegas untuk menuju area utama dimana pemandangan samudra awan akan terlihat. Karena tak ingin membuang kesempatan kami rela mengantri lagi jika ingin naik ke menara untuk berfoto dan melihat pemandangan lebih jelas.

Sesampainya diatas menara saya bersyukur sekali kepada Tuhan, karena telah mengizinkan saya untuk berdiri diatas menara itu. Ternyata do’aku terkabul cepat, alhamdulillah. Puas berfoto-foto diatas menara sebelum turun saya mengabadikan betapa ramainya dibawah sana, orang-orangnya dan banyak juga tenda-tenda yang berdiri dibawah menara. Bukit Pamoyanan itu hanyalah kabut tebal yang membentuk lautan awan putih. Disana terdapat 1 menara dan 1 jembatan sebagai tempat-tempat instagramable. Setelah dari menara kami bergegas menuju jembatan karena kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan mumpung ada disini, pikirnya.

Di menara maupun di jembatan sama-sama di waktu, lho. Dan sama-sama di batas orangnya. Karena menara dan jembatan tersebut dibuat dari bambu jadi kita harus berhati-hati jika banyak yang naik. Saya bersama 3 teman naik menara itu sebab batas maximal orang yang boleh naik hanya 4 orang begitupun di jembatan. Tetapi, itu semua nggak bikin saya kecewa saat saya dan teman-teman lain harusnya naik bersama ke menara itu, karena yang terpenting saya bisa naik di menara itu (jahatnya diriku). Disana terdapat antrian yang panjang jadi kami harus cepat-cepat untuk mengambil fotonya dan bagaimanapun hasilnya terimalah ketika difoto diburu-buru dan saat itu saya yang tak punya gaya difoto hanya seadanya, saja. Sedih.

Sudah puas naik menara dan jembatan akhirnya saya menemukan sunrise lalu berfoto sendirian dengan matahari tersebut (kasihan), ketika orang-orang berfoto sama pasangannya hahaha. Tak lama dari sana saya langsung pulang ke tenda dan prepare untuk pulang. Sebelumnya saya mengabadikan suasana tenda kami dan pemandangan gunung-gunungnya untuk kenang-kenangan. Lalu kami membuka tenda masing-masing dan pulang menuju arah area utama untuk sekali lagi berfoto ria. Itu lah pengalaman saya ketika camp di Bukit Pamoyanan demi mendapatkan view samudera awan dan berburu matahari terbit. Semoga tempat wisata ini akan selalu berkembang terus untuk memajukan Kabupaten Subang! Merdeka!

 

IMG20170716055624IMG20170716055627IMG20170716055629

Berkunjung ke Loop Station dan Maen di UPI Bandung

Suasana siang kemarin sangat berbeda, rasanya senang sekali. Jujur saja tempat yang aku kunjungi kemarin itu sangatlah membuat mata ini terbelalak dan juga mulut sering berkata ‘wow’. Mungkin, ini biasa untuk orang-orang asli Bandung and apa emang aku yang kudet, banget. Nyatanya emang begitu guys, aku sangat beruntung bisa ke tempat itu yang awalnya aku mau ke gerai Telkomsel biasa di jalan A. H Nasution. Tetapi,  Allah mengurungkan niatku dan menjadi batal karena aku harus ke tempat yang lebih cocok dan tentunya mengagumkan yaitu, Loop Station Bandung. Ini sangat tidak dibayangkan sebelumnya rencana Engkau sungguh indah. Jadi, ceritanya aku beres perkuliahan mempunyai rencana buat ngebenerin id simcard yang udah jelek pokoknya dan pengen di upgrade ke 4G. Yay! Akhirnya aku rencanakan ke gerai Telkomsel biasa di jalan kampus yang tak begitu jauh. Dan sekalian juga pulang arah Lembang karena aku punya rencana lagi mau maen ke perpustakaan UPI dan berakhir di kosan Iqma – kembaran ceritanya – anak FPOK UPI punya. Dimulai hari Rabu aku akan pergi ke gerai pukul 1 siang, nyatanya emang males kalo berpergian jam segituan. Panas. Ngantuk. Sumpek.

Akhirnya aku tegaskan lagi niat untuk besok. Berhubung aku suka banget sama makaroni dan berencana buat bawain Iqeum (panggilan akrab) makaroni tersebut. Dia memesan rasa pedas, pedas banget katanya. So, aku meng-iya-kan karena itu bukan urusanku jika nanti nyatanya pedes itu berujung kenapa-kenapa. Lalu hari esoknya sepulang kuliah tidak seperti biasa nongkrong dulu depan fakultas tetapi aku langsung caw ke kosan untuk prepare. Ketika sampai dikosan aku lihat jam masih menunjukan angka 10 pagi, ya emang kepagian karena aku janji sama Iqeum buat otw pukul 1 siang. Di pikir-pikir daripada berangkat jam segitu pasti macet, mending sekarang biar waktu dijalannya santai dan aku lebih bisa menikmati perjalanan (gaya bet sih, Han). Tepat pukul 11:30 aku berangkat menuju depan kampus karena mau beli makaroni yang special itu. Sesampainya di depan kok nggak buka ya, aku dekatin lagi penglihatan dan ah yaa memang belum buka masih tertutup rapat guys. Rasa kecewa merasuki hatiku dan penyesalan telah menjanjikan untuk aku bawakan apa gantinya? Dengan niat yang tulus aku lanjutkan saja langsung naek angkot daripada memikirkan makanan apa gantinya buat Iqeum, berdoa saja supaya nanti ada makanan yang aneh di jalan. Dengan kelalaianku sendiri akhirnya gerai Telkomsel itu terlewat. Bagaimana ini rencana yang menurutku gagal dan mengecewakan itu sungguh menyedihkan.

Aku menerima saat makaroni masih tutup, gerai Telkomsel terlewat dan apakah aku harus gagal juga buat maen ke UPI dan kosan Iqeum. Karena tidak ada yang sia-sia di dunia ini setelah itu aku berusaha kembali, ikhlas. Mungkin belum saatnya aku memperbaiki id simcard tersebut. Belajar dari kesalahan aku tak boleh lalai kembali dan ya ketika ada penumpang turun di daerah Ujung Berung bahagia aku membaca dari dalam angkot tulisan “makaroni”. Tanpa pikir panjang lagi aku juga ikut turun walaupun sebenarnya tujuanku bukan disana, ah siapa yang tahu aku akan punya rencana aneh itu buat turun ditempat yang bukan tujuan awal. Tempatnya hampir sama seperti tempat  makaroni dilangganan aku dekat kampus, ada makaroni yang basah dan kering, tempat pencampuran bumbu dan daftar hargnya. Perbedaannya di tempat makaroni ini lebih luas dan hmm harganya pun berbeda, guys. Bedanya Cuma 1k kok nggak banyak-banyak hahaha kalo harganya lebih mahal 2 kali lipat dari makaroni langganan disana mungkin aku akan pura-pura salah tempat dan kelihatan bingung (biasa akting). Oh iya aku nggak sempet foto tempatnya karena malu bet, karyawannya juga pada fresh and ketjeh gitu. Disini mereka memakai seragam berwarna hitam berikut topi pelengkapnya dan juga tempat pembayarannya khusus alias ada kasirnya. It’s so good!

ngehe
Twitter : @Ngehe_Id
Instagram : @ngehe_id
Fb : makaroningeheofficial
Web : ngehe.com

Aku sebagai anti pedes memesan rasa balado dan untuk Iqeum aku pesankan pedaaaaaaas level akhir yaitu 5. Aku gak tahu sih seberapa pedes-pedesnya karena yang aku tahu hanya Iqeum memesan rasa pedes, banget. Daripada aku malu kok tumben yang rasa balado gak pake pedes kaya anak bocah aja hahaha mungkin ini cobaan dan akhirnya aku bilang tambah pedesnya level 1 (seperti biasa level  1). Seperti gambar diatas nama makaroni itu adalah “Mahe” kepanjangan dari makaroni ngehe. Entah apa maksudnya ngehe disana mungkin rasa yang enak dan membuat pembeli ketagihan untuk membeli lagi dan si pembeli ngehehehe deh karena bulak balik buat beli. It’s my opinion guys, jangan anggap bener apalagi serius, deal?

Selesai beli makaroni dan hatiku sangat L E G A karena janjiku ke Iqma telah ditepati. Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan dengan naek angkot (lagi). Sampai di Terminal Caheum aku bingung akan kemana selanjutnya antara ke gerai Telkomsel yang baru direncanakan atau mampir dulu di Toko Buku setiap hari diskon yaitu “Toga Mas”. Hmm dipikir ulang kalo mau berhenti dulu di disana berarti aku harus membeli 1 atau 2 buku dan sayang ongkos kalo nggak beli. Well, aku putuskan untuk lain kali ke Toga Mas karena baru-baru ini aku udah memborong buku di toko buku online. Walaupun aku harus beli walaupun 1 buku saja, uang dari mana deh ini juga pas-pasan banget dah buat pulang (jujur amat si gua).

Setelah aku nyari-nyari di mbah segala tahu (Google), aku mendapatkan macam-macam gerai Telkomsel di Bandung dan dipilih lah gerai id simcard yang sesuai dengan jenis kartu yaitu Loop Station di jalan Dipenogoro No. 41 Bandung. Gembira banget gak bohong karena tempat itu sebelumnya aku idamkan-idamkan karena sesuai sama id simcard aku, Simpati Loop. Setelah turun dari angkot lalu aku masuk ke gerbang stationnya, rasanya disitu dag dig dug antara senang, terharu dan deg-degan baru pertama kali. Ketika melihat sekeliling termasuk ada pos satpam aku tersenyum kaku karena baru pertama kali dan takut ditanya hahaha. Setelah itu aku masuk dan WOW suasananya sangat berbeda dari apa yang aku pikirkan sebelumnya, guys.

Lihat lantainya kaya rumah yang jarang ditempati semacam jalanan diluar atau lebih tepatnya jalan raya soalnya nggak pakai keramik, lucu kan. Kemudian yang bikin aku WOW lagi itu tempat layanan service-nya ada diatas, guys. Dibawah itu tempat komunitas dan juga ada banyak permainan beberapa yang aku tahu ada ruangan pees, permainan bola dimeja, skateboard, billliard, catur, tempat foto, tempat nongkrong, tempat pentas dan masih banyak lagi. Speechles banget semuanya lengkap ada mushola nya juga didalem walaupun kecil pun tapi penataannya bagus beud. Ruangan dan bangunannya zaman dulu banget tapi isinya serba modern. Kalian harus coba kesana gengs! Oh iya aku kebagian antrian no 09 lho, lumayan dah nggak terlalu lama nunggu u,u

nomor antrian

Cuma beberapa menit menunggu akhirnya id simcard ku sudah beres, yeay! Jadi bisa dipakai nano dan juga mikro. Next trip go to campus UPI guys, dan lagi-lagi aku menunggu angkot (lagi) untuk menuju sana. Sesampainya di UPI aku bingung mau kemana aku ini, wkwk. Melihat sekeliling sepi banget deh jarang dijumpai orang berjalan, kebanyakannya pakai mobil. Untung ada se-geng mahasiswi yang sedang menuju atas melewati gedung isola. Tak menunggu waktu lama aku langsung mengikuti jejak mereka kemana jalan untuk bisa keatas dan menuju gedung museum. Tujuan awal sih perpustakaan tapi berhubung aku nggak tahu dimana letaknya aku putuskan untuk jalan-jalan saja. Sampai lah di gedung museum UPI dan ragu-ragu untuk masuk akhirnya aku duduk saja di keong-keongan dan membuka sebuah buku novel.

Tepat pukul 16:00 Iqeum ada menghubungi untuk menanyakan keberadaan aku. So, aku langsung menutup buku dan makaroni yang sedang aku makan dipegang saja karena tinggal sedikit lagi. Perasaan senang mengahmpiri lagi ketika aku bertemu dengan Iqeum – my kembaran – tak lama dari itu kita menuju kosannya dibelakang kampus. Ternyata letak perpustakaan itu ada didalam sebelah kiri, hmm. Di ujung kampus ada fakultas Iqeum yaitu FPOK (Fakultas Penjas Olahraga dan Kesehatan) dengan banyak fasilitasnya seperti gelanggang kolam renang, stadion, lapangan, gymnasium dan yang lainnya. Setelah melewati jalan gang yang berbelok belok lebih bingung dari jalan gang menuju kosan aku, bre. Sampai dirumah tingkat dan kosan Iqeum itu terletak diatasnya. Hari kemarin menjadi sangat istimewa bagiku. Alhamdulillah. Berjalan sesuai dengan rencana.

Pertama, buat ngebenerin id simcard di gerai yang sangat unik, wonderfull, kreatif dan semacamnya sulit aku katakan karena saking bagus sekali, asli. Kedua, keajaiban tempat makaroni yang ada gantinya lebih kece dan pokoknya sesuai tujuan deh buat beli makaroni. Ketiga, bisa jalan-jalan di kampus UPI walaupun nggak jadi masuk ke perpustakaannya, ya setidaknya jadi tahu posisi dan letak perpustakaan UPI. The last, keempat jadi tahu kosan Iqeum dan bisa menginap disana sekaligus nambah-nambah silaturahim yegak. Aku menginap dikosan Iqeum dari sore sampai pagi, malam harinya kita maen ke jalan geger kalong buat beli makan malam. Kita beli sepakat membeli kwietaw. Tepat pukul 07:00 aku pulang sambil menikmati suasana pagi dikampus UPI menuju terminal Ledeng, karena Mama sudah menunggu dirumah 🙂