Mengenal Politik

Hari ini tepatnya malam minggu aku mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga lagi. Dengan takdir Allah yang begitu indah dan surprise ini aku dipertemukan dengan seorang tukang ojek yang tidak sembarangan. Namanya Pak Deden asal dari Tasik, beliau kelahiran 65 yang mempunyai usaha penggilingan beras dan pabrik kerupuk dengan nama dagangnya yaitu Eka Sari. Beliau mulai bercerita dari bisnisnya, tentang rumah tangganya sampai cerita unek-uneknya terhadap pemerintah setempat.

Rumahnya digusur oleh proyek Toll Cisumdawu dan kini uang ganti belum juga turun akibat ada kelainan harga jual. Pak Deden menginginkan total ganti rugi semuanya sebesar 24 miliyar dari total keseluruha, sedangkan pemerintah menawarkan hanya sejumlah 17 miliyar. Menurutku itu dikatakan lumayan karena ya memang pemerintah sudah membagi dengan sebaik mungkin dan menghitung se-rata mungkin, tetapi masyarakat menolak selain harga yang tidak sesuai faktor utama adalah kebudayaan alias sejarah desa itu sendiri, penuh dengan sejarah dan kenangan. Akibatnya mereka belum melaksanakan pembayaran yang ‘deal‘ untuk membereskan masalah tersebut.

Saya kaget ketika beliau mengatakan bahwa anaknya baru punya satu dan itupun baru sekolah di PAUD karena Istri beliau umurnya jauh lebih muda perbedaannya hampir 20 tahunan karena kelahiran tahun 92. Akhirnya mereka baru di karuniai seorang anak perempuan dan yang bernama Aesha Putri Nugraha. Istrinya alumni IKOPIN dan sekarang sedang bekerja di Bank BJB Sumedang lalu setelah pulang kerja Istrinya itu ketika siang dilanjutkan dengan bantu-bantu di pabrik kerupuk.

 

Terimakasih, Pak Deden.
Sudah mengantarkan ku sampai ke rumah dengan selamat :)))

 

Iklan

Ayo biasakan jalan kaki!

Hallo…

Kembali lagi di opini saya sekarang yang sedang ramai-ramainya berita di situs aplikasi ternama tentang ‘malasnya orang Indonesia berjalan’ or ‘orang Indonesia peringkat terakhir dalam berjalan’ dan mungkin masih banyak lagi artikel tersebut yang belum saya baca. Secara garis besar negara kita ini kurang sekali melangkah di setiap harinya dibandingkan dengan China, Japan, Hongkong dan yang lainnya ada juga negara Amerika berada diurutan tengah dan setelah itu barisan bawah yakni ada negara kita dan peringkat sebelumnya diduduki oleh Malaysia. So, saya perhatikan kenapa itu bisa terjadi mungkin dilihat dari hal yang terkecil dulu untuk fasilitas berjalan alias trotoar tersebut sangat minim keberadaannya. Selain itu, ada juga fasilitas trotoar namun tidak terpakai sama sekali dikarenakan trotoar tersebut malah digunakan untuk berjualan seperti pedagang kaki lima, gerobak, emepran dan semacamnya.

Melihat permasalahan diatas kita ketahui selain itu juga banyak orang-orang lebih menggunakan motor untuk menempuh jarak dekat tersebut guna meminimalisir telat. Namun, lihat di kota-kota besar halnya ibu kota kita yang setiap harinya panas dipenuhi oleh asap kendaraan yang menandakan jalanan penuh sesak alias macet. Hal tersebut tidak lah bagus karena semakin kita telat karena terjebak macet dan juga polusi tidak baik untuk pernafasan. Baik, contoh lainnya adalah ibu saya sendiri jika pergi bekerja beliau lebih menggunakan motor daripada jalan, padahal jaraknya pun tidak lebih dari 1 KM. Hal tersebut terjadi akibat tidak adanya jalan khusus untuk pejalan kaki alias trotoar yang layak dan aman. Seperti yang kita ketahui dampak dari berjalan banyak setiap harinya akan menyehatkan seperti membuat otot-otot kaki semakin kuat, mengurangi gejala stroke dan otot-otot kaki tidak mudah mengecil akibat jarang dipakai untuk berjalan.

Maka, permasalahan yang sekarang dihadapi yakni menurut saya perbanyaklah jalan-jalan khusus untuk pengguna jalan kaki karena itu bisa membuat kita terasa nyaman dan aman ketika sedang berjalan lalu kurangilah kebiasaan menggunakan roda 2 seperti motor, disini saya belum mengetahui lebih banyak tentang penggunaan sepeda. Lebih ditingkatkan lagi aktivitas berjalan kita setiap harinya misal jika berangkat ngampus, kerja, sekolah, berkunjung ke rumah teman dan yang lainnya selama itu masih bisa ditempuh oleh kita. Gambar dibawah memberitahukan kepada kita semua bahwa jalan raya padat diisi oleh kendaraan sedangkan orang yang berjalan kaki tidak ditemukan sama sekali seperti gambar ketiga orang-orang lebih menggunakan mobil coltbak alias mobil buntung daripada jalan bersama-sama lebih afdhal dan menyenangkan.

Nangis di Angkot, lagi.

Kenapa ya kok berasa ragu dan sedih gini. Hari ini gue tidur di kost-an lagi. Karena, mau persiapan SP ( Semester Pendek) ^_^9

Guys, gue sedih banget beneran. Tadi pas di angkot ada maba (mahasiswa baru) sama emaknya dianter, mau verifikasi kayanya. Guys, kalian tahu enggak disitu gue sedih banget jadi inget dulu! Dari awal sampai akhirnya resmi jadi mahasiswi UIN SGD Bandung tahun 2015, gue selalu sendiri enggak kenal istilah dianter orang tua. Guys, asli gue sedih ngeluarin air mata dihadapan Eka – temen Pramuka – ini temen gue dulu kenalan pas verifikasi. Kata dia “kalau sama orang tua enggak bisa ngerasain bebasnya kenalan sama temen-temen lainnya” (Eka, 2017).

Guys, setiap orang pasti berbeda-beda, dari sini gue sangat bersyukur menjadi seseorang yang dididik sama emak gue menjadi seorang yang pemberani, hebat dan juga bertanggung jawab. Inget lagi dulu pas di angkot menuju UIN untuk yang pertama kalinya (sendiri) ada sms (maklum belum punya hp android) dari Aul, isinya tentang gue diterima di Jurusan Agroteknologi UIN SGD. Tak kuasa menahan air mata disitu juga, didalem angkot. Tak peduli gue banjir air mata di angkot! 🙂 

Teruntuk yang Terkasih

Ayah ibu,
Maafkan si bungsu yang masih sering mengeluh sakit.
Maafkan si bungsu yang masih meninggikan nada suaraku di hadapan mu, si bungsu yang masih membantah.

Maafkan si bungsu mu ini,
Jika sekiranya kesuksesan dunia tak dapat ku raih.

Tetapi saat dunia tak dapat ku raih, percayalah si bungsu akan berusaha meraih ridho-Nya dan membuat mu bahagia.

Maafkan si bungsu mu ini,
Ketika sering membuat mu malu ketika si bungsu tak bisa bersalaman kepada teman-teman ayah dan ibu.

Si bungsu hanya ingin memberikan kalian kebahagiaan akhirat.
Tapi apalah dayaku ketika ayah ibu kakak belum bisa menerima hijrah ini.

Apalah daya si bungsu ketika kalian masih mencemooh teman-teman ku yang seperti diriku.

Ayah, ibu dan kakak,
Si bungsu memang sudah berubah, tapi perubahan ku hanyalah semata-mata untuk menyelamatkan ayah dari api neraka.

Tak ingin kalian jatuh ke lubang yang panas lalu ku biarkan kalian didalam menangis sedangkan aku bahagia.
Tidak, aku tidak ingin seperti itu.
Bukan juga berarti aku sudah yakin akan bahagia di akhirat tapi setidaknya aku mencoba untuk meraih-Nya.

Si bungsu kini sudah dewasa, sudah mampu memilih yang baik dan salah, sudah jatuh cinta dan sudah mudah galau.

Ayah ibu,
Si bungsu kelak akan menjadi orang tua dan akan merasakan bahagianya punya anak.
Lalu meninggalkan ayah ibu di rumah dan hidupku selanjutnya bergantung pada imam ku, begitupun kakak yang kelak akan berumah tangga.

Ayah ibu,
Sibungsu rindu akan masa kecil itu.
Maafkan si bungsu yang belum bisa membuat kalian tersenyum lebar karena hasilku.

 

 

Dari si bungsu,
`

 

                                                                                                                Bandung, 29 Mei 2016