Our graduation~

IMG_5588
September 2019

Thank you so much, my sister has accompanied and guided from the first day of OPAK (PBAK 2015) start 26 August 2015 to my graduation day 22 September 2019 (Graduation 75). ALHAMDULILLAH 4 years exactly I have been Finished S1 study *emot toga* repeating to the first day of OPAK at that time who always prepared all needs by sister Nisa start from breakfast, white shirt, veil, book, shoes, etc. Did not forget the registration consultation, the administrative requirements until finally received through the SPAN-PTKIN line of 2015. Knowledge of what it is credits & KRS, how to get a good GPA, and many more memories story. TY also to the Kosan Oren behind Puskesmas Cibiru who has held us for 4 years

AND ini ada bonus foto ketika Teh Nisa wisuda~

original (4)
Januari 2017

Bukber Asisten

WhatsApp Image 2019-05-21 at 20.35.50

okay, jadi ceritanya. . .

Selamat kepada Ibu Ida yang telah diangkat menjadi Dosen tetap, saya senang dan berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk menjadi asistennya di Praktikum Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT), Pengolahan HPT Pasca Panen dan HPT Pengelolaan Pestisida.

#syukuran #tahundepanbubar #bubarbarisan #crewlab

k

 

Mengejar Bola Untuk Jadi Sang Juara #AGC2018

Oke akhirnya saya bisa mendapatkan lagi kesempatan untuk menulis tentang sebuah acara besar di Himpunan Agroteknologi dan merupakan acara idaman kaum adam yakni apalagi kalau bukan “ f u t s a l ”. Ya, secara rutin satu tahun sekali turnamen ini diselenggarakan oleh Bidang Minat dan Bakat dibawah himpunan jurusan saya also known as HIMAGI yang kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Agroteknologi. HIMAGI telah sukses dalam turnamen futsal ini pada tahun 2017 dengan Tema “Let’s Play Together Fair Play Our Game” dan dibuka langsung oleh Ketua Jurusan yang bertempat di Zone 73 Futsal. Dan pada tahun ini HIMAGI telah membuka kesempatan untuk semua jurusan agroteknologi/agroekoteknologi khususnya dan jurusan yang berkaitan dengan pertanian se-Jawa Barat untuk mengikuti kompetisi Agrochampionship 2018.

Tema yang telah disepakati oleh para panitia dan juga jajaran Ex-officio (termasuk ada saya didalamnya :D) yaitu “Mengejar Bola Untuk Jadi Sang Juara” lalu pertandingan ini dibuka secara langsung dengan simbolis memasukan bola kedalam gawang oleh Bapak Ir. Ahmad Taofik, MP. selaku Ketua Jurusan Agroteknologi UIN SGD Bandung yang sangat kita banggakan. Secara keseluruhan rangkaian acara semua sama dengan sistem Group yang terdapat 4 group A, B, C dan D. Serta yang tak kalah penting dan point utama dari pertandingan ini adalah perebutan hadiah senilai 5 juta rupiah selain mempererat silaturahim se-antar fakultas pertanian. Pertandingan ini berlangsung selama 2 hari dari tanggal 17 – 18 November 2018 dan telah dipersiapkan dan dipersembahkan dengan terbaik oleh M. Fachryl Hisbullah sebagai Ketua Pelaksana (OC) dan Ketua Bidang sebagai SC dinahkodai oleh Agung Robani atau keluarga agroteknologi akrab menyebutnya dengan Agung Bapak.

Perbedaan Agrochampionship 2017 dengan tahun sekarang hanya di lokasi pertandingan, kalau tahun kemarin di Zone 73 yang beralamat di Jl. A.H. Nasution No.73, Cipadung, Kec. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat 40614 atau sebrang Borm* Cipadung (kayak promosi deh! he he). Untuk turnamen kali ini kita sepakati di Mayasari Futsal Cibiru atau Mayasari Sport Hall yang beralamat di Cipadung Kidul, Kec. Panyileukan, Kota Bandung, Jawa Barat 40614 dekat bunderan Cibiru, inget bukan Xabiru ya 😀 (maafkan aku Mama Rachel~,~). Selain itu sekelompok wasit yang dipilih baru dari tahun sebelumnya, diantaranya ada wasit yang merupakan teman saya ketika di SMA yaitu M. Lutfhiana Fajri saat ini kuliah semester 5 dijurusan Manajemen FISIP UIN Bandung. Dia aktif bermain futsal sejak SD (mungkin) dan terkenal dengan perannya sebagai keeper atau penjaga gawang ketika dibangku SMA. Semoga ranah perfutsalan khususnya di Jawa Barat dan umumnya futsal nasional semakin sukses. Aamiin!

Tulisan ini saya tidak akan menyebutkan masing-masing urutan juara karena saya lupa dan tidak sempat mencatat dikarenakan pas hari-H pertandingan berlangsung saya harus pergi ke Gedung Sate untuk menghadiri acara undangan dari GenPI Subang dan dilanjutkan dengan pelantikan masing-masing daerah oleh Gubernur Jawa Barat yakni Bpk. H. Ridwan Kamil di ruangan gedung sate lantai 1. Acara ini bersifat wajib sebagai anggota GenPI Subang dan saya harus datang jika tidak saya tidak mendapatkan fasilitas anggota dan belum resmi menjadi anggota GenPI Kabupaten Subang. Jika kalian ingin tahu atau saya hanya memberi tahu bahwa ketika itu hari Sabtu tanggal 17 November 2018 ada 3 agenda yang harus saya lakukan secara bersamaan. Saat itu saya merasa stress harus bisa membagi waktu dan ingin rasanya membelah diri seperti amoeba agar menjadi 3 bagian (CURHAT YA GPP).

Pertama, saya sebagai Fasilitator Praktikum atau tak asing dikenal sebagai “asdos” ini hari Sabtu ada jadwal praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Mata kuliah ini diampu oleh Pak Efrin dan beliau memberikan pesan kepada saya bahwa minggu ini harus masuk praktikum, sehingga saya tidak bisa menolaknya dan memang jadwal praktikum ini hari Sabtu pemirsa. Pagi-pagi sekali saya pergi ke laboratorium dan teman-teman mahasiswa sudah berkumpul disana, langsung diberikan responsi tentang perangkap hama (yellow trap kalau ga salah) dan pukul 8/9 gitu ya (i’m forget) saya harus sudah pergi ke Gedung Sate. Setelah materi selesai praktikan saya tinggalkan untuk bisa praktikum sendiri di belakang laboratorium dan saya titipkan kepada kosma masing-masing kelas. Setelah itu saya langsung cus Bersama teman saya yang sudah menunggu didepan gerbang kampus.

Kedua, pukul 10 saya telah sampai di Gedung Sate dan disana banyak sekali berdiri stand-stand tentang pariwisata masing-masing daerah se-Jawa Barat. Tak lama kemudian kami -GenPI Subang- berkumpul dengan para GenPI lainnya untuk melaksanakan pengukuhan Bersama bapak gubernur. Sebelum diresmikan kami diberikan dulu amanat dari pak gubernur untuk menjadi anggota yang aktif mempromosikan tempat pariwisata atau wisata yang ada di daerahnya masing-masing. Selesai pengukuhan pukul 1 kami semua berfoto bersama anggota GenPI se-Jabar dan tak lupa kami foto dengan masing-masing wilayah. Sejak disana perasaan saya galau karena meninggalkan tugas sebagai panitia Agrochampionship, sebelumnya kenapa saya tidak meminta izin saja atau memberi tahu akan telat datangnya? Saya tidak bilang karena jika saya bilang pasti tidak akan diberikan izin oleh sang ketua (Khairul Razaq) karena saya bagian dari tim inti yang harus hadir di pertandingan besar itu (my opinion). Intinya saya tidak bilang waktu itu he he he

Ketiga, merupakan kegiatan terakhir di hari Sabtu tanggal 17 November 2018 ini yaitu kembali ke Cibiru untuk melaksanakan tugas saya sebagai tuan rumah acara Agrochampionship. Saya pulang pakai angkot waktu itu karena teman-teman saya ada yang langsung pulang ke Subang kebanyakan dan tidak kembali ke Cibiru, sehingga saya harus pulang sendirian. Zaman 2018 saya belum mengenal yang Namanya “GoJ*k” atau “Gr*b” untuk transportasi yang cepat dan tidak macet. Kenal sih aplikasinya hanya saja tidak menggunakannya waktu itu entahlah saya lupa kenapa. Pulang pukul 2/3 dari Gedung Sate (i’m forget) dan karena saya menggunakan angkot otomatis sampai di Cibiru pukul 4/5 sore. Otomatis acara hampir telah selesai, ya begitulah penyesalan wakti itu saya tidak sempat ketemu Tim Futsal dari Subang yaitu jurusan Agroteknologi Univeristas Subang (UNSUB).

Tapiiiiiiiii, setidaknya saya telah menunaikan tugas saya untuk menyempatkan hadir di waktu pertandingan turnamen futsal tersebut. Saya juga jadi tidak punya banyak waktu lebih untuk bisa menonton karena sudah hampir selesai, dan dilanjutkan keesokan harinya saya harus maksimal dengan mempersiapkan piala dan papan juara dan top skor, bekerja sama dengan partner terbaik saya sepanjang masa yakni “Lucky Fitriyanie” a.k.a Dede 😊. Hari Minggu tanggal 18 November 2018 adalah hari kedua pertandingan dan sebagai penentuan juara 1, 2, 3 dan Top Skor. Perolehan juara 1 Agrochampionship 2018 jatuh kepada pendatang baru yaitu dimenangkan oleh Agribisnis UIN Jakarta dan memborong lagi piala Top Skor oleh saudara Awalun Davy si master of futsal yang sudah tidak diragukan lagi dan sangat berkelas! Diakhir cerita ini saya mau menyampaikan satu kalimat “Thank You Dav!”

IMG_1276

Mengembalikan Bahasa Daerah Sebagai Bahasa Ibu

Dengan buku menjadi banyak tahu tentang dunia dan dengan bahasa seakan kita hidup selamanya. Begitulah singkatnya jika kita bekumpul dengan keluarga yang digunakan untuk menjalin keakraban adalah bahasa, berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari kampung halaman sama pun menggunakan bahasa. Namun, saat ini bahasa-bahasa daerah tersebut akan semakin punah di daerahnya masing-masing akibat paradigma masyarakat yang cenderung menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari dan gengsi jika menggunakan bahasa dari daerah asal mereka. Boleh-boleh saja jikalau ingin belajar bahasa asing dan menguasai berbagai macam bahasa baik itu bahasa Inggris, Korea, Jepang maupun Arab hanya untuk meningkatkan pengetahuan tentunya, tapi jangan sampai bahasa daerah kita sendiri dilupakan serta kita selaku mahasiswa yang akan menjadi penerus bangsa ini kedepannya harus bisa menjaga dan melestarikan budaya lokal. Karena, Negara kita ini sangat kaya akan budaya dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri salah satunya adalah bahasa.

Dari situs berita nasional yang mengutip dari situs riset linguistic dan telaah bahasa dunia, Ethonologue, Indonesia menempati urutan kedua dengan bahasa lokal terbanyak di dunia, situs tersebut menyatakan Indonesia memiliki 707 bahasa daerah. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia mempunyai lebih dari 700 bahasa daerah. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia Negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini. Bahkan berdasarkan buku yang pernah saya baca pun berjudul “Life Science for a Better Life” menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman bahasa daerahnya masing-masing dan isi buku tersebut intinya ingin menggugah kesadaran masyarakat betapa strategisnya life science, mengingat Indonesia memiliki modal kebudayaan dan biodiversitas yang tak tertandingi oleh Negara manapun di dunia. Tahukah kalian? Bahwa dari 700 bahasa daerah di Indonesia saat ini hanya 19 bahasa yang aman dan tetap kita gunakan sebagai alat komunikasi di daerahnya masing-masing. Lalu bahasa yang dinyatakan punah oleh Badan Bahasa sebanyak 11 bahasa, keberadaan bahasa yang telah punah tersebut tersebar di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Kemudian usaha Badan Bahasa untuk melestarikan bahasa daerah sampai tahun 2016 sebanyak 646 bahasa daerah telah didokumentasikan.

Menurut kutipan dari UNESCO menyatakan “ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga, sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah” kemudian menurut data UNESCO, daerah yang paling terancam punah bahasanya adalah Halmahera. Oleh sebab itu, usaha yang bisa membantu guna untuk mempertahankan dan mengembalikan keragaman bahasa daerah sebagai bahasa ibu yaitu penutur sebelumnya ketika memiliki keturunan harus dikenalkan dan diaplikasikan bahasa daerah mulai sejak dini sesuai suku dan budayanya masing-masing. Manfaat yang akan didapatkannya banyak sekali selain untuk menjaga warisan yang sangat berharga, seperti yang telah disebutkan oleh UNESCO maka sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi tersebut akan terjaga dan dilestarikan. Walaupun saat ini rata-rata para orang tua telah meninggalkan bahasa daerahnya dan mengajarkan anak-anaknya ke kelas privat bahasa untuk bisa bahasa asing. Faktor tersebut yang menyebabkan semakin berkurangnya pemakaian bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kutipan dari Dadang Sunendar (Kepala Badan Bahasa) ketika membuka Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional tahun 2017 “Penggunaan bahasa asing harus sesuai dengan tempat dan waktunya”.

Kemudian bahasa daerah harus ada di sekolah sebagai mata pelajaran. Seperti yang telah dikatakan oleh Anies Baswedan adalah “cara agar bahasa tidak hilang adalah dengan diajari di sekolah, di rumah dan semua orang harus mempromosikannya”.  Contohnya di Jawa Barat sendiri ada mata pelajaran khusus bahasa yaitu Bahasa Sunda,  di Jawa ada mata pelajaran Bahasa Jawa. Mereka wajib mempelajarinya, mengetahui  dan mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Dengan begitu para generasi muda akan tahu walau hanya sedikit demi sedikit lalu akan terbiasa dengan bahasa daerah yang mereka pelajari. Selain kenal dengan bahasa daerah masing-masing, mereka juga akan berfikir bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap budaya yang beraneka ragam tersebut. Karena, semboyan Negara kita adalah “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, yang menggambarkan bahwa Negara kita memiliki macam-macam budaya yang salah satunya yaitu bahasa dan setiap dialek bahasa daerahnya pun berbeda-beda. Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh sampai melupakan bahasa daerah tersebut. Seperti Ewis Taime (25) dan Imannuel (20) dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2017 menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan bahasa daerah, karena bagi mereka bahasa merupakan salah satu elemen dan sarana penting sebagai pemersatu bangsa.

Mari kita sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan dari Bhinneka Tunggal Ika, dengan cara menggunakan bahasa daerah dan jangan malu untuk melakukan itu. Utamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pemersatu bangsa dan lestarikan bahasa daerah sebagai ciri khas Negara kita yang dimana setiap suku bangsa mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Maka, sudah sangat jelas kita harus mengembalikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Data : Badan Bahasa (2016)

Tuliskan Impianmu!

Hai~ mumpung lagi santai nih HEHE

me ;)

Tadi siang habis nganter Mama belanja bulanan, akhir bulan sih tapi kita tidak mengenal tanggal tua 😀

Alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah seminggu lagi masuk guys, semester 6! Oh my God aku masih senaaang bangeeeeet liat IP semester lalu nembus target 3,5 ya Allah. Ternyata benar, apa yang kita tulis dan ditarget maka kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai semua tulisan itu. Aku tak pernah pantang menyerah untuk menuliskan semua impian-impianku! Dan, aku akan berjuang semaksimal mungkin, bekerja keras, sampai titik penghabisan demi impianku itu. Aamiin. Semangat.

Aku ingin mewujudkan impianku dan mengejar cita-cita! Wujudkan Impian dan Cita-citaku yang akan ku persembahkan untuk Mamaku tercinta…

-Allahuma sholli ala sayyidina Muhammad-

Bukit Pamoyanan – Subang

Nice to meet you all…

IMG-20170716-WA0011

Kali ini saya akan memberikan sedikit pengalaman ketika camping di Bukit Pamoyanan. Sejak beberapa bulan yang lalu tempat tersebut menjadi gencar dan terkenal di banyak media sosial, salah satunya yaitu Instagram. Saya waktu itu melihat sekilas di instagram yang di unggah oleh teman-teman saya. Ketika itu postingan-postingan mereka tentang Bukit Pamoyanan semakin ramai dan pastinya semakin menunjukan bahwa tempat itu indah sekali, asli. Disitulah rasa penasaran saya muncul dan semakin menjadi ingin segera kesana. Pasti kalian juga akan pensaran deh jika belum melihat sebelumnya, dijamin, asyik.

Seminggu setelah saya mengetahui bahwa Bukit Pamoyanan merupakan tempat wisata baru dan saya harus kesana untuk mengobati rasa penasaran, karena lokasi tempat wisata Bukit Pamoyanan tersebut tidak jauh dari rumah. Ada sahabat saya yang mengajak dan dia ingin sekali camp disana, alhasil rencana jadwal pun dibuat. Mempersiapkannya selama satu minggu itu waktu yang cukup lama menurutku karena kami ingin segera kesana tetapi kami masih ada jadwal kesibukan satu sama lain seperti sekolah, kuliah, kerja dan yang lainnya. Kami sepakat untuk berangkat waktu weekend tiba, yaitu hari Sabtu dan Minggu.

Sesampainya hari Sabtu, kami saling menanyakan perbekalan apa saja yang akan dibawa. Karena, kami akan menginap alias camp disana walau cuma satu malam. Pukul 15:00 dimana jadwal pemberangkatan menuju Bukit Pamoyanan akan segera meluncur. Kemudian saya mempersiapkan kebutuhan dan meminta izin ke orang tua lalu saya berangkat bersama sahabat saya. Ketika itu teman-teman yang ikut dari rombongan Kota Subang menggunakan mobil, sedangkan saya hanya membawa motor. Lalu kami janjian dulu di salah satu rumah sahabat saya yang dekat dengan lokasi Bukit Pamoyanan tersebut yaitu di Cimanggu.

Disana kami mempersiapkan kebutuhan makan seperti timbel, sambal dan ikan untuk di bakar. Setelah menunggu, rombongan dari Kota Subang pun akhirnya datang dengan perbekalan yang penuh dalam mobil seperti 3 buah tenda, karpet, senter dan ayam untuk dibakar. Kemudian kami langsung berangkat berbarengan sekitar pukul 19:00 WIB. Sampai di parkiran kami sangat antusias sekali karena sebentar lagi kami akan di tempat orang-orang yang ada di instagram tersebut di posting, ya, Bukit Pamoyanan. Lumayan jauh untuk menuju puncak saya merasa ngos-ngosan nafasnya, maklum sudah faktor usia dan menjadi anak pasca pramuka juga tidak menjamin semangat terus hehehehe.

Ditemukanlah tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda untuk kami istirahat. Disana kami membangun 2 tenda dom dan 1 tenda segitiga yang dibawa dari rombongan Kota Subang. Selesai mendirikan tenda kami akan makan bersama yang sebelumnya harus mencari kayu bakar untuk memanggang ikan dan ayam, yummy! Memakan waktu cukup lama sih untuk memanggang ayam 2 ekor tersebut tapi ikan sudah semua matang. Saat itu saya pergi ke tenda tetangga untuk mencari suasana baru dan tak lama kemudian waktu makan sudah siap dan saya bersama teman-teman yang lainnya menuju ke tenda utama untuk makan malam bersama. Nikmat.

Waktu malam terus berjalan saya memilih tidur karena kondisi badan yang capek dan ingin beristirahat, sedangkan sahabat-sahabat yang lainnya memilih untuk bermain salah satu permainan di aplikasi handphone. Menjelang shubuh saya sudah bangun dan langsung menuju ke toilet umum, ingin tahu nggak? Pas sampai disana antri banget, guys. Hampir satu jam saya berdiri kuat menunggu giliran masuk toilet. Setelah dari toilet, saya dan sahabat-sahabat lainnya bergegas untuk menuju area utama dimana pemandangan samudra awan akan terlihat. Karena tak ingin membuang kesempatan kami rela mengantri lagi jika ingin naik ke menara untuk berfoto dan melihat pemandangan lebih jelas.

Sesampainya diatas menara saya bersyukur sekali kepada Tuhan, karena telah mengizinkan saya untuk berdiri diatas menara itu. Ternyata do’aku terkabul cepat, alhamdulillah. Puas berfoto-foto diatas menara sebelum turun saya mengabadikan betapa ramainya dibawah sana, orang-orangnya dan banyak juga tenda-tenda yang berdiri dibawah menara. Bukit Pamoyanan itu hanyalah kabut tebal yang membentuk lautan awan putih. Disana terdapat 1 menara dan 1 jembatan sebagai tempat-tempat instagramable. Setelah dari menara kami bergegas menuju jembatan karena kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan mumpung ada disini, pikirnya.

Di menara maupun di jembatan sama-sama di waktu, lho. Dan sama-sama di batas orangnya. Karena menara dan jembatan tersebut dibuat dari bambu jadi kita harus berhati-hati jika banyak yang naik. Saya bersama 3 teman naik menara itu sebab batas maximal orang yang boleh naik hanya 4 orang begitupun di jembatan. Tetapi, itu semua nggak bikin saya kecewa saat saya dan teman-teman lain harusnya naik bersama ke menara itu, karena yang terpenting saya bisa naik di menara itu (jahatnya diriku). Disana terdapat antrian yang panjang jadi kami harus cepat-cepat untuk mengambil fotonya dan bagaimanapun hasilnya terimalah ketika difoto diburu-buru dan saat itu saya yang tak punya gaya difoto hanya seadanya, saja. Sedih.

Sudah puas naik menara dan jembatan akhirnya saya menemukan sunrise lalu berfoto sendirian dengan matahari tersebut (kasihan), ketika orang-orang berfoto sama pasangannya hahaha. Tak lama dari sana saya langsung pulang ke tenda dan prepare untuk pulang. Sebelumnya saya mengabadikan suasana tenda kami dan pemandangan gunung-gunungnya untuk kenang-kenangan. Lalu kami membuka tenda masing-masing dan pulang menuju arah area utama untuk sekali lagi berfoto ria. Itu lah pengalaman saya ketika camp di Bukit Pamoyanan demi mendapatkan view samudera awan dan berburu matahari terbit. Semoga tempat wisata ini akan selalu berkembang terus untuk memajukan Kabupaten Subang! Merdeka!

 

 

 

 

 

 

IMG20170716055624IMG20170716055627IMG20170716055629