Pelantikan Asisten Praktikum

Hello everybody.

Alhamdulillah yang paling utama saya panjatkan rasa syukur tiada akhir kepada Allah subhana wa ta’ala. Ternyata satu tahap impianku mulai terkabul, impian dimana saat menjadi maba (mahasiswa baru) ingin rasanya seperti mereka yang duduk didepan -dekan, kajur, sekjur, asdos dan asprak- ketika hari kedua OPAK 2015 yang artinya saat itu pengenalan fakultas dan jurusan masing-masing. Hari itu aku duduk ditengah-tengah barisan teman lainnya, disana ku melihat para atasan di fakultas Sains dan Teknologi, pastinya ada Bapak Opik (Dekan). Setelah itu dipanggil lah satu persatu kajur+sekjur dari setiap jurusan, tiba saatnya jurusan Agroteknologi dikenalkan kajurnya yaitu Bapak Taufik dan sekjurnya Ibu Liberty. Nah setelah itu dipanggilah para dosen/asdosnya yang salah satunya membuat saya terinspirasi ingin seperti orang-orang dipanggil adalah Teh Fika, beliau inspirator saya, beliau semangat saya, jujur saya katakan.

Entah kenapa hanya kepada Teh Fika, waktu itu saya hanya menulis nama kajur, sekjur dan Teh Fika yang nama lengkapnya itu Frieska Mega Wahyuni. Sampai detik ini saya masih terinspirasi olehnya, dari pertemuan di aula lama pertama kenal sampai di praktikum selalu jadi panutan. Mungkin waktu itu jika asdosnya yang hadir bukan Teh Fika mungkin saya tidak akan sampai begini, bisa jadi saya terinspirasi oleh asdos semuanya. Inilah takdir-Mu yang selalu membuat saya terkagum-kagum.

Sejak dahulu saya selalu ingin menjadi atau mempunyai suatu kegiatan/organisasi penting seperti OSIS, MTsN dan MA saya sangat aktif mengikuti OSIS karena entah kenapa saya selalu semangat dengan organisasi apalagi OSIS. Kesannya itu punya banyak pengalaman, itu saja sih paling utama karena yang selebihnya seperti ilmu, kepemimpinan, relasi, keberanian, itu sekedar bonus. Niat dan dan semangat yang kuat bisa mencapai titik tersebut, di MTsN menjadi kabid 10 dan di MA menjadi sekbid 6. Senang? Lebih dari senang, guys.

Nah, ini dia bahasan paling utamanya, tadi hanya pembuka kenapa saya begini dan sangat menyukai kesibukan yang dimana teman-teman lainnya spesifiknya temen deket saya selalu memilih untuk di zona nyaman, sekolah hanya sekolah, belajar hanya sampai pukul 1, untuk kuliah seperti istilah ‘kupu-kupu’, pasti udah tau kepanjanganya yakkkkk. Pokoknya hari Jumat saya senang, titik.

Tidak akan menyangka sampai dititik ini – pengukuhan asisten – mulai dari pendaftaran, pengumpulan dokumen, wawancara, sampai dimasukan ke grup calon asisten yang dimana saya sudah diterima dan lulus di perekrutan dan anggota asisten praktikum.

Iklan

Mengembalikan Bahasa Daerah Sebagai Bahasa Ibu

Dengan buku menjadi banyak tahu tentang dunia dan dengan bahasa seakan kita hidup selamanya. Begitulah singkatnya jika kita bekumpul dengan keluarga yang digunakan untuk menjalin keakraban adalah bahasa, berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari kampung halaman sama pun menggunakan bahasa. Namun, saat ini bahasa-bahasa daerah tersebut akan semakin punah di daerahnya masing-masing akibat paradigma masyarakat yang cenderung menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari dan gengsi jika menggunakan bahasa dari daerah asal mereka. Boleh-boleh saja jikalau ingin belajar bahasa asing dan menguasai berbagai macam bahasa baik itu bahasa Inggris, Korea, Jepang maupun Arab hanya untuk meningkatkan pengetahuan tentunya, tapi jangan sampai bahasa daerah kita sendiri dilupakan serta kita selaku mahasiswa yang akan menjadi penerus bangsa ini kedepannya harus bisa menjaga dan melestarikan budaya lokal. Karena, Negara kita ini sangat kaya akan budaya dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri salah satunya adalah bahasa.

Dari situs berita nasional yang mengutip dari situs riset linguistic dan telaah bahasa dunia, Ethonologue, Indonesia menempati urutan kedua dengan bahasa lokal terbanyak di dunia, situs tersebut menyatakan Indonesia memiliki 707 bahasa daerah. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia mempunyai lebih dari 700 bahasa daerah. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia Negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini. Bahkan berdasarkan buku yang pernah saya baca pun berjudul “Life Science for a Better Life” menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman bahasa daerahnya masing-masing dan isi buku tersebut intinya ingin menggugah kesadaran masyarakat betapa strategisnya life science, mengingat Indonesia memiliki modal kebudayaan dan biodiversitas yang tak tertandingi oleh Negara manapun di dunia. Tahukah kalian? Bahwa dari 700 bahasa daerah di Indonesia saat ini hanya 19 bahasa yang aman dan tetap kita gunakan sebagai alat komunikasi di daerahnya masing-masing. Lalu bahasa yang dinyatakan punah oleh Badan Bahasa sebanyak 11 bahasa, keberadaan bahasa yang telah punah tersebut tersebar di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Kemudian usaha Badan Bahasa untuk melestarikan bahasa daerah sampai tahun 2016 sebanyak 646 bahasa daerah telah didokumentasikan.

Menurut kutipan dari UNESCO menyatakan “ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga, sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah” kemudian menurut data UNESCO, daerah yang paling terancam punah bahasanya adalah Halmahera. Oleh sebab itu, usaha yang bisa membantu guna untuk mempertahankan dan mengembalikan keragaman bahasa daerah sebagai bahasa ibu yaitu penutur sebelumnya ketika memiliki keturunan harus dikenalkan dan diaplikasikan bahasa daerah mulai sejak dini sesuai suku dan budayanya masing-masing. Manfaat yang akan didapatkannya banyak sekali selain untuk menjaga warisan yang sangat berharga, seperti yang telah disebutkan oleh UNESCO maka sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi tersebut akan terjaga dan dilestarikan. Walaupun saat ini rata-rata para orang tua telah meninggalkan bahasa daerahnya dan mengajarkan anak-anaknya ke kelas privat bahasa untuk bisa bahasa asing. Faktor tersebut yang menyebabkan semakin berkurangnya pemakaian bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kutipan dari Dadang Sunendar (Kepala Badan Bahasa) ketika membuka Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional tahun 2017 “Penggunaan bahasa asing harus sesuai dengan tempat dan waktunya”.

Kemudian bahasa daerah harus ada di sekolah sebagai mata pelajaran. Seperti yang telah dikatakan oleh Anies Baswedan adalah “cara agar bahasa tidak hilang adalah dengan diajari di sekolah, di rumah dan semua orang harus mempromosikannya”.  Contohnya di Jawa Barat sendiri ada mata pelajaran khusus bahasa yaitu Bahasa Sunda,  di Jawa ada mata pelajaran Bahasa Jawa. Mereka wajib mempelajarinya, mengetahui  dan mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Dengan begitu para generasi muda akan tahu walau hanya sedikit demi sedikit lalu akan terbiasa dengan bahasa daerah yang mereka pelajari. Selain kenal dengan bahasa daerah masing-masing, mereka juga akan berfikir bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap budaya yang beraneka ragam tersebut. Karena, semboyan Negara kita adalah “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, yang menggambarkan bahwa Negara kita memiliki macam-macam budaya yang salah satunya yaitu bahasa dan setiap dialek bahasa daerahnya pun berbeda-beda. Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh sampai melupakan bahasa daerah tersebut. Seperti Ewis Taime (25) dan Imannuel (20) dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2017 menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan bahasa daerah, karena bagi mereka bahasa merupakan salah satu elemen dan sarana penting sebagai pemersatu bangsa.

Mari kita sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan dari Bhinneka Tunggal Ika, dengan cara menggunakan bahasa daerah dan jangan malu untuk melakukan itu. Utamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pemersatu bangsa dan lestarikan bahasa daerah sebagai ciri khas Negara kita yang dimana setiap suku bangsa mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Maka, sudah sangat jelas kita harus mengembalikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Data : Badan Bahasa (2016)

Kontaminasi (Browning) Pada Teknik Kultur Jaringan

Dalam bidang pertanian saat ini selain budidaya pertanian organik yang sedang digalakkan disamping itu untuk memanfaatkan perkembangan teknologi terbaru yang ada dalam bidang pertanian saat ini dan masa depan yaitu dengan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan atau kultur in vitro atau tissue culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi sel, jaringan, dan organ kemudian menumbuhkan bagian tersebut pada media buatan yang mengandung kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh pada kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan berenegerasi menjadi tumbuhan sempurna kembali (Kristina et al, 2017). Menurut Erizka Fauzy (2017), kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman (daun muda, mata tunas, ujung akar, keping biji atau bagian lain yang bersifat meristematik) serta menumbuhkannya dalam media buatan yang kaya nutrisi dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) secara aseptik (steril) dalam wadah in vitro yang tembus cahaya sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Kultur in vitro tidak hanya dapat digunakan untuk konservasi dan perbanyakan tanaman, melainkan dapat juga diterapkan untuk produksi metabolit sekunder (Anis dan Oetami, 2010). Namun, kontaminasi oleh mikroba merupakan salah satu masalah serius dalam kultur in vitro tanaman (Leifert dan Cassells, 2001).

Ciri yang terdapat pada kontaminasi tersebut diantaranya pencoklatan pada eksplan ataupun media. Proses pembuatan kultur jaringan, komponen yang paling rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme adalah media tumbuh dan eksplan Gunawan (1988). Berdasarkan hasil penelitian Anis dan Oetami (2010), penyebab dari kontaminasi (browning) akibat gejala yang ditimbulkan dari adanya serangan jamur adalah tumbuhnya hifa-hifa jamur pada permukaan media maupun eksplan setelah inokulasi selama rata-rata 4-10 hari setelah tanam. Di samping itu, mikrooganisme akan menyerang eksplan melalui luka-luka akibat pemotongan dan penanganan waktu sterilisasi sehingga mengakibatkan jaringan eksplan. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala berwarna putih, biru, coklat atau krem yang disebabkan jamur dan bakteri. Media tumbuh dan eksplan dapat terkontaminasi oleh mikrooganisme karena keduanya dapat berfungsi sebagai subsrat yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme termasuk bakteri (Doods dan Roberts, 1983) dan jamur (Gunawan, 1987). Pandiangan (2003), mengatakan bahwa kontaminasi dapat terjadi dari eksplan baik eksternal maupun internal, mikroorganisme yang masuk kedalam media, botol kultur atau alat-alat tanam yang kurang steril, ruang kerja dan kultur yang kotor (mengandung spora di udara ruangan laboratorium) dan kecerobohan dalam pelaksanaan.

Selain itu, masalah lingkungan inkubator juga tidak bisa diabaiakan karena ini juga sering menjadi masalah. Suhu ruangan inkubator sangat menentukan optimasi pertumbuhan eksplan, suhu yang terlalu rendah atau tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada eksplan. Kebutuhan antara satu tananaman dengan tanaman yang lain berbeda, namun demikian solusinya sulit dilakukan mengingat umumnya ruangan inkubator suatu ruangan laboratorium kultur jaringan tidak bisa dibuat variasi antara satu ruangan dengan bagian ruangan yang lainnya.

 

 

Referensi :

Anis S dan Oetami Dwi H. 2010. Pengaruh Sterilan Dan Waktu Perendaman Pada Eksplan Daun Kencur (Kaemferia galanga L) Untuk Meningkatkan Keberhasilan Kultur Kalus. AGRITECH, Vol. XII (1) 11 – 29

Erizka F, Mansyur, dan Ali Husni. 2017. The Effect Of Using Murashige And Skoog Medium (Ms) And Vitamin To Callus Regeneration Of Napier Grass (Pennisetum Purpureum) Cv. Hawaii Post On Gamma Radiation Ld50 Doses (In Vitro). Fakultas Pertanian UNPAD, Vol. 1 (1) 1-22

Gunawan, L. W. 1987. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. 36-101.

Kristina M, Oratmangun, Dingse P, dan Febby K. 2017. Deskripsi Jenis-Jenis Kontaminan Dari Kultur Kalus Catharanthus roseus (L.) G. Don. Jurnal Mipa Unsrat Online, Vol. 6 (1) 47—52

Litz, R. E. and D. J. Gray. 1995. Somatic Embryogenesis for Agricultural Improvement. World Journal Microbiology and Biotechnology. 11:416-425

Kenangan MAPAH di Kalijati

Kalijati is here…

Sekarang jam 00:42 WIB

____________________________________________________________________________________________

Cerita dimulai pada hari Jum’at sore pulang nganter Ami dari Jatos aku langsung mandi dan buru-buru packing terus keburu disamper Puja, deh. Udah gitu kita on the way-nya ba’da Magrib mau adzan Isya pokoknya. Nah, kita bareng sama rombongan yang lain juga pada bawa motor ada 12 motor #mantap #boaedan #pawaimotor.

Aku sama Puja bawa motornya gantian, di Bandung sampai Cijambe itu dibawa sama Puja dan di akhiran aku bawa dari Sindangpalay sampai lokasi tujuannya yaitu di Ponpes YAFATA Kalijati. Kalian harus tahu kalau kita itu dari Rumah Makan Pengkolan kehujanan lalu neduh dulu di warung yang depan RM Pengkolan dan kita nunggu lumayan lama sampai aku tidur nyenyak lah -________________-

Sudah sampai lokasi aku langsung tidur dah. Sabtu Subuh berjama’ah dan langsung kultum (kuliah tujuh menit) dengan materi 1 yang dibawakan oleh Asep Supriatna alias “Asep Dollar” (?) entahlah kenapa Dollar -_-“). Lanjut, materi ke-2 ada dari Ketua Umum HIMKAS yaitu  A Ibad. Yap, lanjut materi ke-3 ada “Group Discussion” yang dimana aku masuk ke kelompok 1 dan anggotanya ada Alawi, Iwan, Wulan, Linda, Sofi, Nurhayati dan pastinya ada aku jadi kita bertujuh orang. Materi ke-4 ada “Sejarah Subang”. Cihuy! Subang sejarahnya ternyata gitu toh yaks~

Materi Sejarah ini dibawakan oleh A Ulul Fahmi Fauzi dan pokoknya dia kerja di OPPO Smartphone lalu diakhir materi kita dibagi-bagi pamflet handphone OPPO. Jadinya, aku kepengin beli hape baru deh, OPPO A39 hehehe terus jadinya mau OPPO lagi Han apa Sams*ng nich? *mikir keras*. Materi ke-5 adalah materi tentang “Fungsi Mahasiswa Terhadap Subang” yang dibawakan oleh Pak Subhan (staff ahli DPR), yang ditemani dengan Pak ALdo/Didin (sekwan). Next, kita belajar nyanyi dums, ya kita harus bisa nyanyi Mars HIMKAS and than ada materi 5 “Simulasi Sidang” oleh Kang Deden Fahruji. Nah pas malemnya baru lah keadaan sudah tidak kondusif lagi, asli. Banyak alumni pada datang dan judulnya itu katanya tentang “Rempug Alumni” sampai jam 10 malam deh (kalau tak salah).

Next,  ada penampilan inagurasi dari setiap kelompok (Y). Aku asli kangen koyol-konyolan pas inagurasi ini, because kita tuh pakai sarung semua anggota kelompok 1 lalu nyanyi “Manuk Dadali” it’s so funtastic aku tak peduli lagi penampilannya kayak gimana dan pokoknya aku enggak liat audience sama sekali. Asli suka lupa, ngebleng, parah deh malu-maluin kelakuan itu dan semua ide berasal dari Wulan Tupis (tukang pipis).

Selanjutnya kita sidang deh baru sampai jam 1 udah diganggu dan baru sampai BAB 1 padahaal (-_-“). Jam 3 kita dibangunin buat di uji mental (ceritanya) semuanya ada 4 pos. Pada pos 1 aku aman dan teman-teman yang lainnya juga. Eh, by the way di kelompok pos-posan ini kita beda lagi lah kelompoknya, jadi aku sama Saoqi, Yanti, Nurhayati, Sifa. Parah lah di pos selanjutnya tuh makin extrem apalagi pos 4 (zerem).

Pos 2 ini yaitu tentang Sejarah Subang yang dimarahin terus gara-gara enggak bener neranginnya katanya kaya anak SD? Lah terus kita nyeritainnya harus begimane kakak-kakak ku, harus pake bahasa isarat? Lucu nget nget. And than di pos 3 me and all diam tanpa kata (sepertinya kenal kaya judul lagu), sampai-sampai kita disamain seperti pohon karena enggak beda jauh diem mele wkwkwk (diem-diem bae, ngopi napa ngopi).

Tuh rasain aja dah nyampe capek, lagian pasti deh kalau dijawab juga serba salah ujungnya. Daripada nguras energi kakak-kakak semua dan kita juga, jadi mendingan aku diem saja until the end. Next, di pos 4 lebih parah lagi bahasanya itu, lho! But, be grateful enggak sampai dibanjur *tepuk tangan*. Selesai adzan subuh langsung pada mandi bersih-bersih and etc.

Pas mau lanjut sidang itu kita dipindah alias disuruh hijrah dari asalnya di Gor & KBIH jadi harusnya pindah ke ruangan kelas MTs. Jam 8-an kita selesaikan sidang sampai adzan Dzuhur+pemilihan ketua angkatan (ketung). Kemudian makan siang dan acara penutupan, deh. -The End-

Next, for go to Bandung jam 2-an and arrived in here jam 7 malam. Mantap, cyin 5 jam? Aku langsung tidur lagi aja dah soalnya enggak kuat pusing banget, niat mau ngeblog juga eh malah teler duluan. ASELI. 

Cukup segitu pengalaman MAPAH-nya. Aku harap bisa mengembangkan HIMKAS supaya lebih maju Kota Subang dan aku bisa punya banyak kenalan di Pemerintahan Subang khususnya dan umumnya se-Indonesia. Amiin Ya Allah.

 

Thank YOU for time~

 

 

Darurat Agraria

darurat agraria

Pada pembahasan pendahuluan praktikum Budidaya Tanaman Pangan Utama dan praktikum Pengelolaan Air kali ini diadakan seminar atau sharing dan diskusi terbuka bersama Wanggi Hoed (Seniman dan Pemerhati Isu Lingkungan dan Agraria). Beliau lahir di Cirebon tepatnya tanggal 24 Mei 1988 lalu merupakan Alumni STSI atau sekarang kita kenal dengan ISBI Bandung dan lulus tahun 2012. Aktif berkarya dan berproses kreatif di dunia seni pertujunkan sejak tahun 2004 sebagai alumnus jurusan teater tersebut beliau sekarang produktif berkarya di berbagai ruang publik dan ruang budaya. Wanggi Hoediyatno begitu nama aslinya adalah Seniman Pantomime Indonesia. Selalu menggunakan bahasa perdamaian dalam aksinya. 

darurat wanggi
Wanggi Hoed

Sebelum dimulai ke sesi diskusi dan sharing kami disajikan 2 buah film tentang kasus ke-agraria-an. Film pertama yang berjudul “SAMIN vs SEMEN” dan film kedua adalah “KASUS LANGKAT 3”. Pada intro film pertama ditayangkan luas lahan pertanian daerah Jawa Timur yang selanjutnya luas pabrik semen (Gresik/Indocement) sisa penggerukan. Awal mulanya PT. Indocement akan membangun di wilayah orang Samin, akan tetapi penolakan orang Samin begitu kuat sehingga berhasil pindah ke daerah lain yaitu ke Rembang tepatnya di Kecamatan Gunen. Sejak zaman dahulu juga orang-orang Samin memang selalu menentang apa saja terhadap pemerintah Belanda seperti contohnya enggan membayar pajak. Lalu dengan penolakan orang Samin pabrik semen terhambat. “Sedulur Sikep” itulah motto dari orang-orang Samin.

 

Selain di Rembang, aksi penolakan terhadap pembangunan semen juga terjadi di Pati Kecamatan Tambakromo. Mereka – para petani Jawa – sangat sedih jika tanah nenek moyangnya di alih fungsikan menjadi lahan industri. Karena, lahan pertanian masyarakat Jawa Timur jauh lebih penting untuk menyambung kehidupannya dan akan menjadi harta warisan untuk anak cucu mereka. Disana lebih diutamakan menjadi petani dan pantang untuk menjadi pedagang apalagi untuk menjadi orang yang terpandang. Sebuah kutipan yang saya ambil dari film pertama yaitu dari masyarakat Jawa Timur adalah

 

Lebih baik meperbaiki tindakan dan ucapan, tidak mengejar harta, pangkat serta jabatan” tutur Ketua Desa.

 

        Selanjutnya dari film pertama tersebut kita diberikan rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap perjuangan masyarakat Jawa terhadap perlawanan para aparat keamanan serta oknum yang pro terhadap pembangunan semen. Diantara masyarakat yang kontra terhadap pembangunan semen rela pagi, siang, sore untuk melawan para petugas penjaga gerbang sampai membuat tenda-tenda di pinggir jalan lalu setiap malam harinya selalu mengaji dan bershalawat sambil menangis. Perjuangan mereka sangat hebat sekali dan luar biasa hingga membuat para pekerja seni tersentuh hati nuraninya untuk melihat dan pastinya untuk menyemangati aksi tersebut. Salah satunya yaitu Melanie Subono, beliau banyak mewawancarai termasuk tukang ojek yang mengantarkannya ke tempat peristiwa penolakan pembangunan pabrik semen.

 

Dalam wawancaranya Melanie menanyakan berapa luas lahan yang diambil/digunakan PT. Indocement lalu menurut pernyataan tukang ojek tersebut lahan yang terkena penjualan/pembuatan untuk pabrik semen sebesar 180 hektar yang dimiliki dari 156 orang. Sesampainya disana, Melanie dan rombongan disambut dengan para ibu yang semangat menyanyikan lagu kemenangan yang dipimpin oleh Kepala Desa. Namanya tanah air, masa kita punya tanah tapi nggak punya air”, begitu pendapat Melanie setelah melihat semangat nyanyian para ibu di Pati. Selain itu, Melanie berpendapat bahwa semangat yang luar biasa itu telah mengantarkan dia ke tanah Jawa ini.

 

Semangat para wanita yang luar biasa di kampung ini, tidak seperti wanita di kota yang banyak nyeleneh dan mengeluh” jelasnya.

 

Selain di Rembang dan Pati sebelumnya pembuatan pabrik semen juga terjadi di Tuban. Kemudian para petani disana mengeluh akan dampak pengaruh negatif yang tercemar dari pembuangan pabrik semen. Mereka menginginkan segera ditutup pabrik tersebut tetapi sampai sekarang masih beroperasi saja. Menurut penuturan bapak petani di Tuban yang awalnya mereka di iming-imingi lahan pekerjaan setelah lahan budidayanya dijual. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan perjanjian lalu bapak tersebut merasa menyesal serta rekan-rekan yang lainnya pun merasakan hal yang sama.

 

Lebih baik tanah pertanian dapat menghasilkan sampai akhir hayat dari pada uang hanya sesaat dan pasti bakal hilang” tutur bapak tersebut.

 

Contohnya adalah anak bapak petani sendiri yaitu hasil dari penjualan lahan hanya dihargai sebesar Rp. 600.000,- per meter dan langsung dibelikan 2 buah sepeda motor oleh anaknya dan sampai sekarang motor tersebut semuanya rusak.

 

            Wawancara dengan bapak petani tadi menutup dari film pertama dan diakhiri dengan aksi nyata masyarakat Jawa khususnya orang-orang Samin. Walaupun mereka baru mendapatkan tanda pengenal negeri yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk) tetapi semangat berjuang untuk menghadapi perlawanan dari zaman Kolonial Belanda sampai sekarang masih kuat. Dilihat dari atas menggunakan bantuan drone, masyarakat petani Jawa membuat sebuah tulisan pembelaan terhadap penolakan pembuatan pabrik semen “TOLAK PABRIK SEMEN DI JAWA”. Film ini didokumentasikan oleh Tim Ekspedisi Indonesia Biru karya Dandhy Laksono dan Ucok. Menurut saya, film ini sangat bagus sekali karena ada unsur humornya dan membuat persuasif seseorang termasuk saya. Cara pengambilan gambar yang keren dan memadukan musiknya dengan tepat.

 

darurat 2
Film SAMIN vs SEMEN

Film kedua ini menceritakan hal yang serupa tentang darurat agraria yaitu pengalihan lahan sawit di Tanjunglangkat Sumatera Utara. Lalu membuat seorang aktor Rio Dewanto tergugah menuju kesana disela-sela proyek shooting film Filosofi Kopi 2 dan disana beliau langsung disambut oleh Tim SPI (Serikat Pertanian Indonesia). Sama seperti orang-orang Samin di Sumatera mereka menolak pengalihannlahan di PTPN II. Disini mereka lebih parah perlawanannya karena sampai ada yang dilempari batu oleh petugas keamanan sampai berdarah. Rio mewawancarai banyak termasuk Sekretaris Umum SPI. Jumlah areal luas lahan yang dialih fungsikan yaitu seluas 554 hektar menurut anggota SPI yang telah diwawancarai oleh Rio.

Setelah itu, dilahan yang dipermasalahkan mereka mendirikan tenda untuk mengaji bersama sekaligus untuk penyambutan kedatangan aktor terpandang – Rio Dewanto – atas partisipasinya untuk menyempatkan hadir di Tanjunglangkat tepatnya di Desa Mekar Jaya. Pertemuan diawali dengan sambutan bapak Kepala Desa dilanjutkan pidato dan aksi perlawanan yang terkait. Masyarakat disana menginginkan ucapan dari Presiden Joko Widodo tahun lalu tersebut sesuai yaitu akan membagikan kepada setiap petani lahan seluas 2 hektar untuk pertanian dan 0,25 hektar untuk pemukiman setiap satu rumah. Semoga ter-realisasi dengan baik. Menurut saya di film kedua ini memfokuskan wawancara masyarakat dan wawancara khusus bersama anggota SPI. Tetapi melalui video karya Rio Dewanto tersebut dapat menjadi video dokumenter yang persuasif dimana bisa mengubah serta menghasut kita sebagai mahasiswa untuk mampu seperti beliau yaitu peduli dan peka tehadap kedaruratan agraria.

darurat wanggi najwa
Wanggi Hoed di acara Mata Najwa

Setelah film kedua selesai selanjutnya dimulai sesi diskusi setiap kelompok. Berdasarkan pemaparan narasumber bahwa kia sebagai Agent of Change harus bisa menuntaskan masalah darurat agraria seperti 2 film yang telah ditayangkan. Bisa lebih peka terhadap problem seputar pertanian khususnya dan umumnya untuk semuanya. Kita sebagai mahasiswa harus mempunyai inovasi dan memperbanyak ilmu-ilmu seperti kesenian, hukum yang ada UU dan sebagainya. Contohnya seperti di Tuban ada pabrik semen yang sudah beroperasi sudah lama dan akan ditutup lalu bagaimana caranya agar segera ditutup/dihilangkanpabrik tersebut. Maka, kita sebagai mahasiswa harus mempunyai inovasi, ide dan gagasan se-efektif mungkin. Intinya kita harus bisa dan ahli dalam semua bidang keilmuan dan menjaga harta warisan Ibu Pertiwi yaitu lahan pertanian tanah air Indonesia. 

darurat

Rio-Dewanto-Film-Dokumenter

Berkunjung ke Loop Station dan Maen di UPI Bandung

Suasana siang kemarin sangat berbeda, rasanya senang sekali. Jujur saja tempat yang aku kunjungi kemarin itu sangatlah membuat mata ini terbelalak dan juga mulut sering berkata ‘wow’. Mungkin, ini biasa untuk orang-orang asli Bandung and apa emang aku yang kudet, banget. Nyatanya emang begitu guys, aku sangat beruntung bisa ke tempat itu yang awalnya aku mau ke gerai Telkomsel biasa di jalan A. H Nasution. Tetapi,  Allah mengurungkan niatku dan menjadi batal karena aku harus ke tempat yang lebih cocok dan tentunya mengagumkan yaitu, Loop Station Bandung. Ini sangat tidak dibayangkan sebelumnya rencana Engkau sungguh indah. Jadi, ceritanya aku beres perkuliahan mempunyai rencana buat ngebenerin id simcard yang udah jelek pokoknya dan pengen di upgrade ke 4G. Yay! Akhirnya aku rencanakan ke gerai Telkomsel biasa di jalan kampus yang tak begitu jauh. Dan sekalian juga pulang arah Lembang karena aku punya rencana lagi mau maen ke perpustakaan UPI dan berakhir di kosan Iqma – kembaran ceritanya – anak FPOK UPI punya. Dimulai hari Rabu aku akan pergi ke gerai pukul 1 siang, nyatanya emang males kalo berpergian jam segituan. Panas. Ngantuk. Sumpek.

Akhirnya aku tegaskan lagi niat untuk besok. Berhubung aku suka banget sama makaroni dan berencana buat bawain Iqeum (panggilan akrab) makaroni tersebut. Dia memesan rasa pedas, pedas banget katanya. So, aku meng-iya-kan karena itu bukan urusanku jika nanti nyatanya pedes itu berujung kenapa-kenapa. Lalu hari esoknya sepulang kuliah tidak seperti biasa nongkrong dulu depan fakultas tetapi aku langsung caw ke kosan untuk prepare. Ketika sampai dikosan aku lihat jam masih menunjukan angka 10 pagi, ya emang kepagian karena aku janji sama Iqeum buat otw pukul 1 siang. Di pikir-pikir daripada berangkat jam segitu pasti macet, mending sekarang biar waktu dijalannya santai dan aku lebih bisa menikmati perjalanan (gaya bet sih, Han). Tepat pukul 11:30 aku berangkat menuju depan kampus karena mau beli makaroni yang special itu. Sesampainya di depan kok nggak buka ya, aku dekatin lagi penglihatan dan ah yaa memang belum buka masih tertutup rapat guys. Rasa kecewa merasuki hatiku dan penyesalan telah menjanjikan untuk aku bawakan apa gantinya? Dengan niat yang tulus aku lanjutkan saja langsung naek angkot daripada memikirkan makanan apa gantinya buat Iqeum, berdoa saja supaya nanti ada makanan yang aneh di jalan. Dengan kelalaianku sendiri akhirnya gerai Telkomsel itu terlewat. Bagaimana ini rencana yang menurutku gagal dan mengecewakan itu sungguh menyedihkan.

Aku menerima saat makaroni masih tutup, gerai Telkomsel terlewat dan apakah aku harus gagal juga buat maen ke UPI dan kosan Iqeum. Karena tidak ada yang sia-sia di dunia ini setelah itu aku berusaha kembali, ikhlas. Mungkin belum saatnya aku memperbaiki id simcard tersebut. Belajar dari kesalahan aku tak boleh lalai kembali dan ya ketika ada penumpang turun di daerah Ujung Berung bahagia aku membaca dari dalam angkot tulisan “makaroni”. Tanpa pikir panjang lagi aku juga ikut turun walaupun sebenarnya tujuanku bukan disana, ah siapa yang tahu aku akan punya rencana aneh itu buat turun ditempat yang bukan tujuan awal. Tempatnya hampir sama seperti tempat  makaroni dilangganan aku dekat kampus, ada makaroni yang basah dan kering, tempat pencampuran bumbu dan daftar hargnya. Perbedaannya di tempat makaroni ini lebih luas dan hmm harganya pun berbeda, guys. Bedanya Cuma 1k kok nggak banyak-banyak hahaha kalo harganya lebih mahal 2 kali lipat dari makaroni langganan disana mungkin aku akan pura-pura salah tempat dan kelihatan bingung (biasa akting). Oh iya aku nggak sempet foto tempatnya karena malu bet, karyawannya juga pada fresh and ketjeh gitu. Disini mereka memakai seragam berwarna hitam berikut topi pelengkapnya dan juga tempat pembayarannya khusus alias ada kasirnya. It’s so good!

ngehe
Twitter : @Ngehe_Id
Instagram : @ngehe_id
Fb : makaroningeheofficial
Web : ngehe.com

Aku sebagai anti pedes memesan rasa balado dan untuk Iqeum aku pesankan pedaaaaaaas level akhir yaitu 5. Aku gak tahu sih seberapa pedes-pedesnya karena yang aku tahu hanya Iqeum memesan rasa pedes, banget. Daripada aku malu kok tumben yang rasa balado gak pake pedes kaya anak bocah aja hahaha mungkin ini cobaan dan akhirnya aku bilang tambah pedesnya level 1 (seperti biasa level  1). Seperti gambar diatas nama makaroni itu adalah “Mahe” kepanjangan dari makaroni ngehe. Entah apa maksudnya ngehe disana mungkin rasa yang enak dan membuat pembeli ketagihan untuk membeli lagi dan si pembeli ngehehehe deh karena bulak balik buat beli. It’s my opinion guys, jangan anggap bener apalagi serius, deal?

Selesai beli makaroni dan hatiku sangat L E G A karena janjiku ke Iqma telah ditepati. Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan dengan naek angkot (lagi). Sampai di Terminal Caheum aku bingung akan kemana selanjutnya antara ke gerai Telkomsel yang baru direncanakan atau mampir dulu di Toko Buku setiap hari diskon yaitu “Toga Mas”. Hmm dipikir ulang kalo mau berhenti dulu di disana berarti aku harus membeli 1 atau 2 buku dan sayang ongkos kalo nggak beli. Well, aku putuskan untuk lain kali ke Toga Mas karena baru-baru ini aku udah memborong buku di toko buku online. Walaupun aku harus beli walaupun 1 buku saja, uang dari mana deh ini juga pas-pasan banget dah buat pulang (jujur amat si gua).

Setelah aku nyari-nyari di mbah segala tahu (Google), aku mendapatkan macam-macam gerai Telkomsel di Bandung dan dipilih lah gerai id simcard yang sesuai dengan jenis kartu yaitu Loop Station di jalan Dipenogoro No. 41 Bandung. Gembira banget gak bohong karena tempat itu sebelumnya aku idamkan-idamkan karena sesuai sama id simcard aku, Simpati Loop. Setelah turun dari angkot lalu aku masuk ke gerbang stationnya, rasanya disitu dag dig dug antara senang, terharu dan deg-degan baru pertama kali. Ketika melihat sekeliling termasuk ada pos satpam aku tersenyum kaku karena baru pertama kali dan takut ditanya hahaha. Setelah itu aku masuk dan WOW suasananya sangat berbeda dari apa yang aku pikirkan sebelumnya, guys.

Lihat lantainya kaya rumah yang jarang ditempati semacam jalanan diluar atau lebih tepatnya jalan raya soalnya nggak pakai keramik, lucu kan. Kemudian yang bikin aku WOW lagi itu tempat layanan service-nya ada diatas, guys. Dibawah itu tempat komunitas dan juga ada banyak permainan beberapa yang aku tahu ada ruangan pees, permainan bola dimeja, skateboard, billliard, catur, tempat foto, tempat nongkrong, tempat pentas dan masih banyak lagi. Speechles banget semuanya lengkap ada mushola nya juga didalem walaupun kecil pun tapi penataannya bagus beud. Ruangan dan bangunannya zaman dulu banget tapi isinya serba modern. Kalian harus coba kesana gengs! Oh iya aku kebagian antrian no 09 lho, lumayan dah nggak terlalu lama nunggu u,u

nomor antrian

Cuma beberapa menit menunggu akhirnya id simcard ku sudah beres, yeay! Jadi bisa dipakai nano dan juga mikro. Next trip go to campus UPI guys, dan lagi-lagi aku menunggu angkot (lagi) untuk menuju sana. Sesampainya di UPI aku bingung mau kemana aku ini, wkwk. Melihat sekeliling sepi banget deh jarang dijumpai orang berjalan, kebanyakannya pakai mobil. Untung ada se-geng mahasiswi yang sedang menuju atas melewati gedung isola. Tak menunggu waktu lama aku langsung mengikuti jejak mereka kemana jalan untuk bisa keatas dan menuju gedung museum. Tujuan awal sih perpustakaan tapi berhubung aku nggak tahu dimana letaknya aku putuskan untuk jalan-jalan saja. Sampai lah di gedung museum UPI dan ragu-ragu untuk masuk akhirnya aku duduk saja di keong-keongan dan membuka sebuah buku novel.

Tepat pukul 16:00 Iqeum ada menghubungi untuk menanyakan keberadaan aku. So, aku langsung menutup buku dan makaroni yang sedang aku makan dipegang saja karena tinggal sedikit lagi. Perasaan senang mengahmpiri lagi ketika aku bertemu dengan Iqeum – my kembaran – tak lama dari itu kita menuju kosannya dibelakang kampus. Ternyata letak perpustakaan itu ada didalam sebelah kiri, hmm. Di ujung kampus ada fakultas Iqeum yaitu FPOK (Fakultas Penjas Olahraga dan Kesehatan) dengan banyak fasilitasnya seperti gelanggang kolam renang, stadion, lapangan, gymnasium dan yang lainnya. Setelah melewati jalan gang yang berbelok belok lebih bingung dari jalan gang menuju kosan aku, bre. Sampai dirumah tingkat dan kosan Iqeum itu terletak diatasnya. Hari kemarin menjadi sangat istimewa bagiku. Alhamdulillah. Berjalan sesuai dengan rencana.

Pertama, buat ngebenerin id simcard di gerai yang sangat unik, wonderfull, kreatif dan semacamnya sulit aku katakan karena saking bagus sekali, asli. Kedua, keajaiban tempat makaroni yang ada gantinya lebih kece dan pokoknya sesuai tujuan deh buat beli makaroni. Ketiga, bisa jalan-jalan di kampus UPI walaupun nggak jadi masuk ke perpustakaannya, ya setidaknya jadi tahu posisi dan letak perpustakaan UPI. The last, keempat jadi tahu kosan Iqeum dan bisa menginap disana sekaligus nambah-nambah silaturahim yegak. Aku menginap dikosan Iqeum dari sore sampai pagi, malam harinya kita maen ke jalan geger kalong buat beli makan malam. Kita beli sepakat membeli kwietaw. Tepat pukul 07:00 aku pulang sambil menikmati suasana pagi dikampus UPI menuju terminal Ledeng, karena Mama sudah menunggu dirumah 🙂

Kuliah itu susah, TAPI…

ilustrasi-kuliah
Sudah banyak motivasi yang saya baca mengenai perkuliahan. Namun, di salah satu momen aplikasi ternama terdapat akun seseorang yang membuat saya sangat kagum, dia adalah anak Fakultas Kedokteran UGM. Didalam ceritanya dia menuliskan sebuah motivasi untuk kita renungkan apa saja ruginya kalau kita bolos kuliah, telat kuliah dan tidur saat kuliah. Berikut ini akan saya bagikan ceritanya.

***

Misalnya saja, uang kuliahku sebesar 10 juta per semester. Anggap 5 juta pertama dibayarkan murni untuk kegiatan kuliah. Sedangkan, 5 juta kedua dibayarkan untuk kegiatan lab, fasilitas kampus, administrasi dan semacamnya. Yah, 5 juta untuk kuliah satu semester. Satu semester di Fakultasku terdiri dari 4 blok. Satu nlok terdiri dari sekitar 10 kuliah oleh dosen. Berarti satu semester kira-kira terdapat 40 kali kuliah oleh dosen. 5 juta. Bagi 5 juta itu ke 40 kuliah. 125ribu. Wah, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 125ribu. Sekali saja aku bolos kuliah, berarti aku memubadzirkan 125ribu. YaAllah, mungkin bisa kupakai untuk makan selama seminggu.

Belum selesai kawan!

Sekali  kuliah itu sekitar 100 menit. Bagi 125ribu dengan 100 menit. 1.250 rupiah. Berarti, satu menit aku telat kuliah, aku membuang 1.250 rupiah secara Cuma-Cuma. Berarti, satu menit aku tertidur saat kuliah, aku hamburkan 1.250 rupiah tanpa makna. Waw. Bayangin, kuliah 5 menit = Indomie goreng telur + Es teh. Wih, mending dibuat sarapan gak toh?

***

        Begitu kira-kira gambaran umumnya. Bagaimana bisa dibayangkan kalau kita bolos uang tersebut melayang sia-sia dari hasil usaha orang tua kita yang telah mencarinya. Sungguh ngeri. Nah dari sana saya berjanji untuk tidak telat kuliah dan tertidur saat jam perkuliahan berlangsung. Apalagi sampai bolos, ih. Kemudian saya coba perhitungan dia dengan uang kuliahku per-semesternya. Jadi, spp dikampusku atau sering dibilang ukt (uang kuliah tunggal) adalah sebesar Rp. 1.700.000,- lalu setiap mata kuliah terdiri dari 16 pertemuan. 1.700.000. Bagi 16 kuliah. 106ribu. Uh, berarti satu kali kuliah, kira-kira seharga 106ribu. Maka, sekali saya bolos uang seharga 106ribu itu akan mubadzir. Lumayan buat beli 2 novel, tuh. Iya kagak?

         Selanjutnya saya coba hitung lagi seperti diatas degan membagi waktu perkuliahan. Yaitu 100 menit setiap satu kali pertemuan. Bagi 106ribu dengan 100 menit, guys. 1.060 rupiah. Sorabi aja udah 2ribuan. Nah, kalo saya telat  5 menit saja itu uang akan terbuang sia-sia, jadi mendingan dibeliin sorabi dapet 2 setengah potong lah buat sarapan, yegak? Berarti, setiap menit saat perkuliahan kalo tertidur dikelas maka kita akan hamburkan 1.060 rupiah per menit. Dan uang itu melayang tanpa makna. Sekali lagi. Mubadzir. Mulai saat ini saya dan teman-teman semua berikan yang terbaik untuk kedua orang tua kita bahwa kita sungguh-sungguh kuliah untuk menjemput cita-cita yang mulia.

Yakin masih mau bolos kuliah?

Yakin masih mau telat kuliah?

Yakin masih mau tidur saat kuliah?

Yakinkah itu hal tepat yang kita lakukan untuk membalas kebaikan serta kasih sayang orang tua kita yang sudah ikhlas mengerahkan seluruh jiwa raganya untuk membiayai kita kuliah?

Yakin, guys?

 

KULIAH itu SUSAH

TAPI

Masih susah perjuangan Orang Tua nguliahin anaknya