Aku, Ibu dan Full-day school

Siapa yang tahu dengan program baru dalam bidang Pendidikan pada tahun 2017? Iya! Betul sekali sistem jam sekolah dengan tersohornya full day school. Full day school merupakan sistem Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilampari oleh Permendikbud RI Nomor 23 tahun 2017. Dilihat secara harfiah bahwa full day yang berarti sehari penuh dan school = sekolah. Jadi bisa kita artikan bahwa waktu pembelajaran di sekolah dengan durasi terpanjang yaitu 8-9 jam perhari. Tujuannya sih supaya mendapatkan proposi materi yang intens dan lebih banyak melalui aplikasi ilmu secara nyata seperti menghadirkan cara belajar yang menyenangkan, praktis dan interaktif. Kenyataannya harapan pemerintah ironi dengan keadaan SDM dan fasilitas pendidikan kita saat ini. Boleh berbagi pendapatnya bagi yang setuju dan juga yang kontra pun boleh mengungkapkan kerisauannya disini. Mengapa sistem pendidikan sangat penting sekali untuk kita bahas, karena pada dasarnya harapan suatu bangsa agar tetap berdiri kokoh yaitu dengan melakukan banyak usaha pembenahan yang salah satunya adalah perbaikan sistem pendidikan. Ini sudah pasti termasuk ke dalam bagian dari reformasi, akan tetapi reformasi yang belum tuntas hingga saat ini. #TuntaskanReformasi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini telah menerapkan sistem zonasi yang tertera dalam Permendikbud RI Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020. Peraturan tersebut menuai kontrovesi dan juga protes dikalangan orang tua murid. Menurut Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy, menjelaskan kebijakan sistem zonasi ini menggurah ide dari negara maju yang telah lama menerapkan sistem zonasi seperti Amerika, Australia, Jepang, Jerman, Malaysia dan negara-negara Skandinavia. Adapun alasan yang dipaparkan pihak kontra karena belum meratanya infrastruktur pendidikan di seluruh wilayah. Isu ini sangat penting juga dan luar biasa penting bagi masa depan Ibu Pertiwi. Maka saya mengajak kawan-kawan semua untuk terus bersuara, setuju atau tidak dengan kebijakan sistem zonasi ini?

Kembali ke topik awal bahwa hal yang belum tuntas dengan baik melalui sistem full day school ini menurut pendapat saya adalah minimnya tenaga pengajar yang memiliki kreativitas tinggi. Kalian tahu? Ya, guru profesional. Masih banyak guru yang terbelakang (belum pensium) ini di pelbagai desa kelurahan dan bahkan kecamatan, bagaimana rumitnya mengajar dengan sistem KBM atau Kurtilas (Kurikulum 2013). Sulitnya menjangkau sistem internet dan yang paling utama untuk bisa membawa siswa belajar secara aplikatif dengan cara studi ke lapangan. Contohnya ada pendapat teman saya yang pro dengan full day school.

“Setiap pembelajaran nggak harus di ruangan, misal belajar sejarah yang anak IPS bisa pergi ke museum yang berbau sejarah sosial, atau yang IPA bisa ke Museum Geologi, dan lain-lain. Setiap minggunya diadakan agenda lihat yang hehijauan biar nggak gitu-gitu aja rasanya, buat anak SMA sama SMP yang udah dewasa bisa main identifikasi lapangan, atau lingkungan sekitar dan dikaitkan sama materi.” pungkas Marhama (mahasiswi yang mengambil judul skripsi “Peran Bokhasi Paitan (Tithonia diversifolia) dan FMA Terhadap Perbaikan Sifat Fisik Tanah Serta Produktivitas Tanaman Bawang Merah Varietas Batu Ijo Pada Tanah Pasca Galian C”).

Kenyataannya itu bukan solusi yang pas untuk meratakan sistem full day school, karena para siswa yang harus menghabiskan banyak waktunya dengan sekolah terpaksa jarang berjumpa dengan temannya yang dekat rumahnya. Hal ini jelas memberi dampak negative bagi jiwa sosialnya (berinterkasi dengan keluarga/teman sebaya di sekitar rumah). Penelitian Coover & Murphy (2000), mengabarkan ketika semakin tinggi konsep diri dan perencanaan diri, maka semakin positif gambaran diri seseorang dan cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Menambahkan Coover & Murphy bahwa pengenalan pada diri sendiri berkembang melalui interaksi sosial dan adanya komunikasi dengan orang lain. Hal ini memberikan saran bahwa faktor eksternal (salahsatunya sosial) yang mempengaruhi prestasi belajar, karena anak yang bersekolah di sistem (non) full day lebih banyak memiliki waktu beristirahat, melatih jiwa sosialnya dan berinteraksi dengan lingkungan luar atau bahkan sekitar rumah. Nah, jika anak-anak hanya mempunyai teman di area sekolah saja dan tidak mendapatkan interaksi sosial lebih dengan orang yang ada disekitar rumahnya, bagaimana?

Selain contoh diatas, ada dampak negative lain dari sistem full day school yaitu hal yang sering terlupakan oleh para orang tua khususnya ibu-ibu. Anak tidak makan dan tidur secara teratur, true? Makan adalah kebutuhan utama sebagai sumber energi bagi otak untuk bisa mengolah, menyerap, dan menyimpan informasi. Tidur berguna untuk memperkuat proses otak menyimpan informasi baru sebagai memori jangka panjang, sehingga materi yang didapatkan dari sekolah dapat mudah mereka ingat kembali di waktu akan datang. Ironisnya, sistem sekolah yang menerapkan full day tidak semua memberikan layanan utama tentang dua kebutuhan tersebut karena, tidak semua sekolah memiliki fasilitas katering makan siang atau kantin dengan pilihan makanan padat gizi dan bervariasi. Di sisi lain, sekolah sampai sore (8-9 jam perhari) artinya siswa jadi kehilangan waktu berharga untuk istirahat dan tidur. Akhirnya menyebabkan anak berisiko lebih gampang sakit terkena maag atau flu akibat kurang makan dan tidur.

Sistem Pendidikan
Mengingat beberapa dampak negative dari sistem full day school yang telah disebutkan diatas, saya mendapatkan keluhan dari seorang Ibu (dirahasiakan namanya) yang mengeluh akibat dari perilaku anaknya sekarang (usia SMA) karena sering bolos sekolah. Kata anaknya “pusing sekolah terus pengin tidur saja.” lalu Ibu itu pasrah dan mengizinkan anaknya untuk bolos sekolah. Anak ibu itu sudah mengikuti full day school dari dia seragam putih merah sampai putih abu sekarang, akibatnya dia rentan stress karena seluruh tenaga habis dicurahkan untuk bisa memahami “serbuan” informasi baru tanpa henti. Anak itu mempunyai waktu istirahat dan bermain yang minim karena diharuskan mengikuti berbagai kegiatan tambahan di luar sekolah, termasuk ekstrakurikuler dan bimbingan belajar. Hal ini secara perlahan membuat otak si anak kewalahan dan sangat kelelahan. Gangguan psikologis ini dalam jangka panjang mengakibatkan risiko masalah perilaku anak di sekolah, seperti membolos dan coba-coba narkoba atau miras, dan sampai lebih parah ke pemikiran upaya bunuh diri. Sebuah riset yang telah melaporkan bahwa anak sekolah yang tidur kurang dari enam jam per malam dan waktu belajar yang lebih dari lima jam perhari dilaporkan tiga kali lebih mungkin untuk menderita depresi.

Bagaimana perasaan Ibu yang saya dapati keluhannya dari anaknya yang suka membolos akibat durasi sekolah yang lebih dari lima jam, apakah ada solusi?
Hal ini sesuai dengan argumen Hikmaya teman saya yang mencintai sekali rempah-rempah dan saat ini mempunyai bisnis di merk dagangnya “Jamuku” dia berpendapat tidak setuju dengan adanya sistem full day school, menurutnya begini (hope you all understand).

“I think full-day not to good. But if any full day at some school they are must have a good program like gardening, or fishing, and do what who like child feel happy.” jelasnya.

Jadi harus bagaimana?

Dari keluhan seorang Ibu yang saya temukan, maka saya tergiat untuk menuliskan opini saya dan sharing discussion dengan teman-teman saya. Jadi kelebihan dan kekurangan diatas bisa menjadi pertimbangan Anda untuk memilih sekolah untuk anak ibu bapak sekalian. Adapun kita lihat lagi kemampuan dan keinginan anak anak kita, karena setiap anak itu unik.

Regards,

Our graduation~

IMG_5588
September 2019

Thank you so much, my sister has accompanied and guided from the first day of OPAK (PBAK 2015) start 26 August 2015 to my graduation day 22 September 2019 (Graduation 75). ALHAMDULILLAH 4 years exactly I have been Finished S1 study *emot toga* repeating to the first day of OPAK at that time who always prepared all needs by sister Nisa start from breakfast, white shirt, veil, book, shoes, etc. Did not forget the registration consultation, the administrative requirements until finally received through the SPAN-PTKIN line of 2015. Knowledge of what it is credits & KRS, how to get a good GPA, and many more memories story. TY also to the Kosan Oren behind Puskesmas Cibiru who has held us for 4 years

AND ini ada bonus foto ketika Teh Nisa wisuda~

original (4)
Januari 2017

Bukber Asisten

WhatsApp Image 2019-05-21 at 20.35.50

okay, jadi ceritanya. . .

Selamat kepada Ibu Ida yang telah diangkat menjadi Dosen tetap, saya senang dan berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk menjadi asistennya di Praktikum Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT), Pengolahan HPT Pasca Panen dan HPT Pengelolaan Pestisida.

#syukuran #tahundepanbubar #bubarbarisan #crewlab

k

 

I wanna grow old with You

If I was married to the same age, I wanted to paint ‘Ali and Fathimatuzzahra stories. They both love other for their faith. The patient Fathima even though he returned home without any possessions, also Ali who remained responsible while working as a laborer on the salary of a handful of dates. Ah, it’s beautiful.

If I marry a younger man, I want to carve a story like Usman bin ‘Affan and Naila as-Syam. The two continued to love although one had grown gray and the other in her teens. Duhai, the best teacher is a good husband. So, Naila studied on the more mature Usman. Learing to increase his life pressure, until he gave up his fingers for holding back the sword of the enemy that was about to kill his husband. And after Usman died, she had rumpus clawing her beautiful face so no one would ever propose to her. He loved the sweetheart of his soul.

If I marry an older man, I want to carve love like a messenger of God and Khadija al-Kubra. Both loving and spreading love for each other. Khadija was the best wife ever, always comforting as a mother, in company as a true friend, sacrifing her possessions in order to promote her husband edibility. And truly just Khadija, the first love that the apostle never had honed.

Over marriage, age is no longer a problem. Because, marriage is the process of self-improvement, the process of self-improvement, and the process of self-mutilation. Once in a while, take our partners as teachers, we respect them. Every now and then, we make a couple of friends, we laugh together. Every now and then, we treat each other as brothers, we pamper them fully. Once again after marriage, it’s not about age but about what kind of journey. And make sure that our home journey is like a rainbow, with lots of colours shining.

Now Play :

  • I Wanna Grow Old With You – WestLife
  • Menua Bersama – Rahmania Astrini