Potret Diri

Oleh : Dedet Setiadi

Inilah aku
Lahir dari kawah masa lalu di daratan miring
Sebelum tumbuh biji-biji salak pondoh

Matahari tak selamanya sengat. Bulan Mei awal tanam tembakau
Aku lebih suka langit yang terbakar
Lebih suka minta hujan bersama para hewan
ketimbang jadi tadah hujan buatan

Aku suka sawah. Benci hama tikus, wereng dan barisan kera
Tapi tak sanggup menolak apalagi mengutuknya
Sebab aku dan mereka selalu belajar sadar sebagai hamba

Selamatan adalah bahasaku. Mengepung-aminkan tumpeng
Adalah cara kami menampik bencana
Adalah puisi kami memuja semesta

Aku tak mengidap sakit ketinggian
Pagi sore manjat pohon kelapa. Ngobong kayu menyulap nira jadi
gula jawa
Merebus hidup bersama modin dan sesepuh desa

Bajak lembu adalah alat tulisku. Mengaduk rumus anti pestisida
Mencampur air kencing kambing dengan daunan kering
Kunfayakun tanah pun jadi subur tak ada hingga

Inilah aku
Suka piara kerbau tapi tak berarti sealur-pikir otak kerbau

 

Magelang, April 2010

Iklan

Kapal Pesiarku telah tiba

Kapal pesiar kita akan segera tiba di pulau idaman, kawan! Sudah tiba saatnya untuk kita turun dari kapal besar ini, meninggalkan pondok yang penuh kasih dan perjuangan ini. Ingatlah selalu kawan, sebaik-baik alumni pondok pesantren adalah yang dapat menjaga nama baik almamaternya.

Bercahayalah engkau pesantrenku…

Tetaplah memancarkan cahaya cintamu demi santri-santrimu. Disaat mereka dekat ataupun jauh dari keberadaanmu. Karena para santri yang pernah merasakan cintamu, sampai kapanpun dan dimanapun akan tetap menjaga serta membela keutuhan cahayamu dari tangan siapapun yang ingin meredupkannya.

Novel by Ira Madan “Cahaya Cinta Pesantren”

Gumuk Pasir Wediombo

Senja merapat di Wediombo

Gelapnya menjadi penanda waktu

Menutup jiwa diselimuti nafsu

 

Tak ada lagi yang peduli menjaga pantai ini

Merajut lingkungan asri tanpa melukai

Menggores senyum pada bumi

 

Mesti kubisikkan disetiap telinga

Agar mereka peduli

Menjaga dan menata

Dengan rasa cinta

 

Senja merapat di Wediombo

Ada orang menjaja kepedulian

Demi sekarung rupiah dengan dalih penataan

 

Yogyakarta, Januari 2017

 

He has comeback

Assalamu’alaikum wr wbĀ sebagai umat Islam tentunya kita wajib menjawab salam tersebut yaaak šŸ™‚

Okeee langsung aja ya ini dia entah apa ini :’) puisikah? sajakah? atau curhatankah? yang jelas aku bikin ini ada sesuatu hal yang sangaaaaat istimewa baginya…

Oiyaaa aku bikin ini saat ngerjain tugas Ilmu Hadis yang suruh bikin Resume Buku Manhaj Haraki Jilid 1, so well ditemani juga sama Intan “^^)6

Aku kasih judul ini yaitu “HE HAS COMEBACK”


Untitled2

 

*hey semoga kamu membacanya!

Nafal

Benih Hidupku

Aku tersenyum . . .

Memperhatikan betapa menawannya diriku dalam ciptaan-Mu

Oh Tuhan . . . kau ciptakan aku bagai benih yang dengan kehendak-Mu aku tumbuh

Kau tiupkan tetesan hydrogen, hingga aku menjadi bibit

Tetesan dari transpiransiĀ  yang telah kau tuliskan dalam Lauhul Mahfudz-Mu membuatku tumbuh . . . tumbuh . . . tumbuh . . . tumbuh . . .

 

Oh Tuhan . . . jika tidak kehendak-Mu dalam proses hidupku

Aku bagaikan sawah tanpa irigasi

Bagaikan tumbuhan tanpa klorofil

Bagaikan bernafas tanpa oksigen

 

Oh Tuhan . . . dengan kehendak-Mu kau ciptakan masalah

Aku bagaikan sayuran terserang gulma

Bagaikan padi terserang wereng

Bagaikan kultur jaringan terserang kontaminasi

 

Namun, aku ikhlas.

Aku percaya akan Firman-Mu

Lalu aku jadikan doa

Bagai pestisida yang melindungiku

Dan, bagai herbisida yang menjagaku.

 

Oh Tuhan . . . jika tiba saatnya aku bertanspirasi untuk menggugurkan diri

Akan ku tanam benih dalam paradigmaku

Bahwa aku percaya pada anugerah nutrisi dalam hidupku.

 

 

Puisi ini diciptakan dari gabungan beberapa karya dan merupakan salah satu Tugas Bahasa Indonesia.