Potret Diri

Oleh : Dedet Setiadi

Inilah aku
Lahir dari kawah masa lalu di daratan miring
Sebelum tumbuh biji-biji salak pondoh

Matahari tak selamanya sengat. Bulan Mei awal tanam tembakau
Aku lebih suka langit yang terbakar
Lebih suka minta hujan bersama para hewan
ketimbang jadi tadah hujan buatan

Aku suka sawah. Benci hama tikus, wereng dan barisan kera
Tapi tak sanggup menolak apalagi mengutuknya
Sebab aku dan mereka selalu belajar sadar sebagai hamba

Selamatan adalah bahasaku. Mengepung-aminkan tumpeng
Adalah cara kami menampik bencana
Adalah puisi kami memuja semesta

Aku tak mengidap sakit ketinggian
Pagi sore manjat pohon kelapa. Ngobong kayu menyulap nira jadi
gula jawa
Merebus hidup bersama modin dan sesepuh desa

Bajak lembu adalah alat tulisku. Mengaduk rumus anti pestisida
Mencampur air kencing kambing dengan daunan kering
Kunfayakun tanah pun jadi subur tak ada hingga

Inilah aku
Suka piara kerbau tapi tak berarti sealur-pikir otak kerbau

 

Magelang, April 2010

Iklan

Tetap dalam diam mu

Tak usah kau ceritakan.

Tak usah banyak orang mengetahuinya.

Apalagi kita jelaskan siapa orangnya. Cukup simpan rapat-rapat dalam hatimu.

Dan, tak perlu tahu siapapun. Sekalipun pada seseorang yang paling di percayai di dunia ini.

Pada dasarnya manusia sering gagal pada ujian menahan. 

Menahan rasa, menahan hati, maupun menahan pikiran.

Dan, ingat kita adalah ujian bagi satu sama lain.

Allah, mempertemukan kita dengan dirinya itu pasti ada maksudnya, hidayah itu mutlak milik Allah. Tapi, kita tidak tahu lantaran siapa hidayah itu akan sampai kepada kita, bisa saja lantaran dirinya, kita menjadi lebih baik lagi, bisa saja dengan perkenalan dengan kita dirinya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, semua kemungkinan itu bisa terjadi.

Karena, seseorang dipertemukan itu untuk merubah hidup seseorang lainnya, lakukan peranmu sebaik mungkin. Tetap rendah hati, ya.

Ketika beribu kenangan datang, dilanjut beribu rindu itu menghampiri, biarkan beribu do’a kita yang membumbung ke Arsy-Nya, pun ditekankan apapun ujian kita jangan pernah tinggalkan Allah. Allah dulu. Allah lagi. Allah terus.

Saat kesulitan datang menghampiri, Allah perintahkan kita untuk shalat dan sabar. Allah ingin mengetahui seberapa besar, azzamnya kita dalam melibatkan Allah, seberapa besar kekuatan kita dalam meminta pertolongan Allah.

Tetap jaga prinsipmu wahai perempuan, tetap menjadi wanita yang mahal, jangan mudah mengobral cinta kesana kemari, tetap dalam diammu, sayang. Karena, muslimah itu dagangan Allah yang paling mahal.

Jika dia adalah pemuda baik, dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan. Dan, jangan mudah terpengaruh oleh kebaikan-kebaikan laki-laki. Kita tahu sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah dan ibu) seorang perempuan hanyalah satu, yaitu melamar.

Jika ada seorang pemuda yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum sepenuhnya. Sebaliknya, pun begitu dia yang (belum) berbuat apa-apa tetapi berani melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

Sebab, bukan perkara kecil bagi seorang pemuda untuk meminta perempuan dari orang tuanya. Tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu).

Ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil.

Ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakannya di pundaknya sendiri.

Oleh sebab itu, janganlah kita mudah terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. Semua itu akan kalah dengan dia yang melagkahkan kaki kepada Ayah kita nanti. Karena, ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu. Maka, hitunglah kebaikan yang satu itu – hitung baik-baik –

Jadilah, wanita yang sulit didapatkan tetapi beruntung yang mendapatkannya. Sejatinya, wanita itu suka dipuji tetapi jangan tebar pesonamu, ya. Jangan biarkan obral perhatian sana-sini, jadilah putri yang cantik, anggun, shaleha dan mahal harganya. Bersabralah, biarkan cukup suami sajalah yang mengagumi dan memberi seribu pujian untuk kita.

Gumuk Pasir Wediombo

Senja merapat di Wediombo

Gelapnya menjadi penanda waktu

Menutup jiwa diselimuti nafsu

 

Tak ada lagi yang peduli menjaga pantai ini

Merajut lingkungan asri tanpa melukai

Menggores senyum pada bumi

 

Mesti kubisikkan disetiap telinga

Agar mereka peduli

Menjaga dan menata

Dengan rasa cinta

 

Senja merapat di Wediombo

Ada orang menjaja kepedulian

Demi sekarung rupiah dengan dalih penataan

 

Yogyakarta, Januari 2017

 

He has comeback

Assalamu’alaikum wr wb sebagai umat Islam tentunya kita wajib menjawab salam tersebut yaaak 🙂

Okeee langsung aja ya ini dia entah apa ini :’) puisikah? sajakah? atau curhatankah? yang jelas aku bikin ini ada sesuatu hal yang sangaaaaat istimewa baginya…

Oiyaaa aku bikin ini saat ngerjain tugas Ilmu Hadis yang suruh bikin Resume Buku Manhaj Haraki Jilid 1, so well ditemani juga sama Intan “^^)6

Aku kasih judul ini yaitu “HE HAS COMEBACK”


Untitled2

 

*hey semoga kamu membacanya!

Nafal

Kepergian yang Berarti

Ku coba tersenyum saat kau pergi meninggalakan.

Diriku yang terdiam berdiri dibalik kaca.

Aku tak tau harus berbuat apa?

Ku hanya bisa tersenyum lebar walau air mata tak bisa ku hentikan.

 

Dirimu pergi dengan keceriaan sedangkan diriku tinggal dengan penuh kesedihan.

Ditempat itu aku memandangi sampai kau benar-benar tiada, dan akhirnya ku relakan.

Demi hati yang tersakiti, kenapa kau pergi di saat aku baru mengenal dirimu

dan di saat itu juga aku baru merasakan adanya rasa.

 

Setahun lebih sudah kau pergi tinggalkan.

Sekarang, saatnya ku juga harus pergi untuk menyusulmu, sahabat, teman, kakak, adik, terimakasih banyak atas segalanya yang telah kau berikan kepadaku.

Aku meminta do’anya agar aku bisa menyusul dia yang sudah pergi menjauh.

Kalian telah memberiku warna yang begitu indah, bahkan beribu-ribu keindahan warna telah kalian lukiskandalam hatiku.

 

Tak mungkin ku ucapkan dengan kata, aku akan pergi.

Kalianpun sudah pasti mengetahuinya bahwa aku akan pergi menyusul dia.

Aku berjanji akan Dharma santriku, kelak nanti ku pergi dan menyusulnya.

Dharma santri: Beriman dan bertakwa kepada allah untuk mendapat ridhonya, serta mempelajari, mengamalkan dan menegakansyariat islam.

Dan juga berilmu amaliyah beramal ilmiyah dengan cara yang hak.

 

Meski terpisahkan, namun kalian semua selalu ada dalam kenangan hatiku, dan pikiranku. Karena bagiku kalian semua seperti rumah dan keluarga kedua dalam hidupku.