Mengembalikan Bahasa Daerah Sebagai Bahasa Ibu

Dengan buku menjadi banyak tahu tentang dunia dan dengan bahasa seakan kita hidup selamanya. Begitulah singkatnya jika kita bekumpul dengan keluarga yang digunakan untuk menjalin keakraban adalah bahasa, berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari kampung halaman sama pun menggunakan bahasa. Namun, saat ini bahasa-bahasa daerah tersebut akan semakin punah di daerahnya masing-masing akibat paradigma masyarakat yang cenderung menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari dan gengsi jika menggunakan bahasa dari daerah asal mereka. Boleh-boleh saja jikalau ingin belajar bahasa asing dan menguasai berbagai macam bahasa baik itu bahasa Inggris, Korea, Jepang maupun Arab hanya untuk meningkatkan pengetahuan tentunya, tapi jangan sampai bahasa daerah kita sendiri dilupakan serta kita selaku mahasiswa yang akan menjadi penerus bangsa ini kedepannya harus bisa menjaga dan melestarikan budaya lokal. Karena, Negara kita ini sangat kaya akan budaya dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri salah satunya adalah bahasa.

Dari situs berita nasional yang mengutip dari situs riset linguistic dan telaah bahasa dunia, Ethonologue, Indonesia menempati urutan kedua dengan bahasa lokal terbanyak di dunia, situs tersebut menyatakan Indonesia memiliki 707 bahasa daerah. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia mempunyai lebih dari 700 bahasa daerah. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia Negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini. Bahkan berdasarkan buku yang pernah saya baca pun berjudul “Life Science for a Better Life” menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman bahasa daerahnya masing-masing dan isi buku tersebut intinya ingin menggugah kesadaran masyarakat betapa strategisnya life science, mengingat Indonesia memiliki modal kebudayaan dan biodiversitas yang tak tertandingi oleh Negara manapun di dunia. Tahukah kalian? Bahwa dari 700 bahasa daerah di Indonesia saat ini hanya 19 bahasa yang aman dan tetap kita gunakan sebagai alat komunikasi di daerahnya masing-masing. Lalu bahasa yang dinyatakan punah oleh Badan Bahasa sebanyak 11 bahasa, keberadaan bahasa yang telah punah tersebut tersebar di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Kemudian usaha Badan Bahasa untuk melestarikan bahasa daerah sampai tahun 2016 sebanyak 646 bahasa daerah telah didokumentasikan.

Menurut kutipan dari UNESCO menyatakan “ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga, sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah” kemudian menurut data UNESCO, daerah yang paling terancam punah bahasanya adalah Halmahera. Oleh sebab itu, usaha yang bisa membantu guna untuk mempertahankan dan mengembalikan keragaman bahasa daerah sebagai bahasa ibu yaitu penutur sebelumnya ketika memiliki keturunan harus dikenalkan dan diaplikasikan bahasa daerah mulai sejak dini sesuai suku dan budayanya masing-masing. Manfaat yang akan didapatkannya banyak sekali selain untuk menjaga warisan yang sangat berharga, seperti yang telah disebutkan oleh UNESCO maka sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi tersebut akan terjaga dan dilestarikan. Walaupun saat ini rata-rata para orang tua telah meninggalkan bahasa daerahnya dan mengajarkan anak-anaknya ke kelas privat bahasa untuk bisa bahasa asing. Faktor tersebut yang menyebabkan semakin berkurangnya pemakaian bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kutipan dari Dadang Sunendar (Kepala Badan Bahasa) ketika membuka Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional tahun 2017 “Penggunaan bahasa asing harus sesuai dengan tempat dan waktunya”.

Kemudian bahasa daerah harus ada di sekolah sebagai mata pelajaran. Seperti yang telah dikatakan oleh Anies Baswedan adalah “cara agar bahasa tidak hilang adalah dengan diajari di sekolah, di rumah dan semua orang harus mempromosikannya”.  Contohnya di Jawa Barat sendiri ada mata pelajaran khusus bahasa yaitu Bahasa Sunda,  di Jawa ada mata pelajaran Bahasa Jawa. Mereka wajib mempelajarinya, mengetahui  dan mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Dengan begitu para generasi muda akan tahu walau hanya sedikit demi sedikit lalu akan terbiasa dengan bahasa daerah yang mereka pelajari. Selain kenal dengan bahasa daerah masing-masing, mereka juga akan berfikir bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap budaya yang beraneka ragam tersebut. Karena, semboyan Negara kita adalah “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, yang menggambarkan bahwa Negara kita memiliki macam-macam budaya yang salah satunya yaitu bahasa dan setiap dialek bahasa daerahnya pun berbeda-beda. Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh sampai melupakan bahasa daerah tersebut. Seperti Ewis Taime (25) dan Imannuel (20) dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2017 menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan bahasa daerah, karena bagi mereka bahasa merupakan salah satu elemen dan sarana penting sebagai pemersatu bangsa.

Mari kita sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan dari Bhinneka Tunggal Ika, dengan cara menggunakan bahasa daerah dan jangan malu untuk melakukan itu. Utamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pemersatu bangsa dan lestarikan bahasa daerah sebagai ciri khas Negara kita yang dimana setiap suku bangsa mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Maka, sudah sangat jelas kita harus mengembalikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Data : Badan Bahasa (2016)

Iklan

Mengenal Politik

Hari ini tepatnya malam minggu aku mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga lagi. Dengan takdir Allah yang begitu indah dan surprise ini aku dipertemukan dengan seorang tukang ojek yang tidak sembarangan. Namanya Pak Deden asal dari Tasik, beliau kelahiran 65 yang mempunyai usaha penggilingan beras dan pabrik kerupuk dengan nama dagangnya yaitu Eka Sari. Beliau mulai bercerita dari bisnisnya, tentang rumah tangganya sampai cerita unek-uneknya terhadap pemerintah setempat.

Rumahnya digusur oleh proyek Toll Cisumdawu dan kini uang ganti belum juga turun akibat ada kelainan harga jual. Pak Deden menginginkan total ganti rugi semuanya sebesar 24 miliyar dari total keseluruha, sedangkan pemerintah menawarkan hanya sejumlah 17 miliyar. Menurutku itu dikatakan lumayan karena ya memang pemerintah sudah membagi dengan sebaik mungkin dan menghitung se-rata mungkin, tetapi masyarakat menolak selain harga yang tidak sesuai faktor utama adalah kebudayaan alias sejarah desa itu sendiri, penuh dengan sejarah dan kenangan. Akibatnya mereka belum melaksanakan pembayaran yang ‘deal‘ untuk membereskan masalah tersebut.

Saya kaget ketika beliau mengatakan bahwa anaknya baru punya satu dan itupun baru sekolah di PAUD karena Istri beliau umurnya jauh lebih muda perbedaannya hampir 20 tahunan karena kelahiran tahun 92. Akhirnya mereka baru di karuniai seorang anak perempuan dan yang bernama Aesha Putri Nugraha. Istrinya alumni IKOPIN dan sekarang sedang bekerja di Bank BJB Sumedang lalu setelah pulang kerja Istrinya itu ketika siang dilanjutkan dengan bantu-bantu di pabrik kerupuk.

 

Terimakasih, Pak Deden.
Sudah mengantarkan ku sampai ke rumah dengan selamat :)))

 

Sharing #JumatBerkah

Pertama kali aku hobi membaca itu baru kali ini kok, sejak di perguruan tinggi. Ya walaupun di biodata kalo hobi suka dipaksa nulis “hobi = membaca biar aku selalu termotivasi sama niat dan tulisan itu, nanti kan kebayang terus nih “hobi gue itu membaca, jadi harus bener-bener baca apaan ya”, yang lebih tepatnya kita harus dilatih untuk gemar membaca apa saja mau itu buku pelajaran, novel, berita, iklan, slogan, translate film, daftar menu, dsb. Ceritanya begini, waktu itu pas semester 1 aku berprinsip harus lebih rajin belajar dengan cara membeli buku mata kuliah yang bersangkutan dan ada juga dari pihak dosen yang menganjurkan membeli buku sebagai bahan referensi. Berenang sambil minum air, dimana dosen juga ada yang mengajar sambil berdagang yaitu dengan menjual buku-bukunya dan mahasiswa harus bin wajib membelinya sebagai bahan pembelajaran selama satu semester tersebut.

Ternyata membaca itu asik dan pikiran kita akan melayang jauh alias mengkhayal memikirkan apa makna yang ada dalam tulisan tersebut, apalagi buku yang dibaca itu adalah novel. Wah itu sih khayalannya sudah kemana-mana, ditambah latar belakang novel tersebut di luar negeri seperti di Rusia, Korea, Palestina, London, German, ah pokoknya seluruh dunia. Rasanya itu aku pribadi merasakannya seperti di ajak jalan-jalan keliling dunia gratis, asli. Soalnya aku pernah ngalamin kayak begitu sih baca buku dari latar belakang Negara yang berbeda, hehe. Masih inget deh pengalaman itu pas libur semester 4 pokoknya. Nah, aku kepengin jalan-jalan ke luar negeri lagi dengan gratis harus banyak stok buku alias banyak budget buat beli bukunya 😦 sedangkan PKL dan KKM sudah di depan mata, intinya nggak bias lagi beli buku-buku dah uangnya buat ditabungin bekal kuliah 🙂

Bicara tentang mood aku pribadi sih seringnya kalau membaca buku itu pas lagi mood bagus bener, bener-bener bagus banget. Barulah aku bisa baca buku dari pagi nyampe pagi lagi, hehe *gakdengbecanda*. Usually, aku membaca paling lama berturut-turut selama 3 jam-an dan waktu yang PW (poisisi wenak) buat baca menurutku pas malam yaitu beres sholat isya tepatnya pukul 19:00 s/d 21:00. Itu tuh mata kalau waktu menunjukan pukul 21:00 pasti lelah alias suka pengin liat jam dinding, ah dan ternyata sudah pas pukul 21:00. Nggak kerasa sih cuma 2 jam bagi orang yang hobi bacanya master banget. Tapi aku namanya juga baru belajar menyukai hobi baru ini, jadi 2 jam juga sudah lumayan lah menambah wawasan banyak banget! Jadi gimana caranya biar aku bisa mendapatkan mood bagus terus? Jika mood jelek, itu bahaya banget buatku. Boro-boro membaca, liat atau megang bukunya aja, ogah 😦

Aku cuma mau sharing aja tentang hobi membaca aku ini, pertama mengoleksi buku sejak semester 1 itu berarti tahun 2015 dan sekarang buku aku di rak sudah hampir 4 tahap. Selama 3 tahun kurang lah buku-buku itu ternyata sudah aku lahap, ada rasa gembira sih dari niat paksaan hobi membaca jadi suka membaca beneran. Alhamdulillah. Aku suka ngebayangin gimana jadinya kalo aku suka membaca dari SD atau nggak dari SMP lah, mungkin rak buku dirumah sudah penuh semua dan impian punya perpustakaan sendiri terwujud. Tapi, nggak apa-apa telat juga ya teman-teman asalkan kita selalu punya niat untuk kebaikan walaupun itu sekecil biji zarah. Allah Subhana Wa Ta’ala telah berjanji, bahwasannya kita sebagai hamba yang dicintai-Nya akan diberikan balasan kebaikan atau pahala jika kita mempunyai 1 niat kebaikan dan bahwa setiap orang pada hari kemudian diganjar sesuai dengan perbuatannya — kalau ia berbuat baik dibalas dengan kebaikan, kalau jahat dibalas dengan kejahatan —. Disini baru niat lho guys, itu dapet pahala. Apalagi jika kita melakukan, melaksanakan, mengaplikasikan, menerpakan sampai me-istiqomahkan niat tersebut. Indah sekali, bukan?

 

 

Bandung, 09 Februari 2018

Desaku yang Kucintai

Well, to the point. Kemaren itu hari pawai atau sering kita kenal arak-arakan agustusan di Kecamatan Cisalak – Subang. Jujur saya senang sekali ketika masa-masa ini dirasakan kembali. Sebuah pawai atau karnaval dalam memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan NKRI ke 72 tahun. Seneng banget! Jadi inget masa-masa dulu, by the way terakhir saya ikutan pawai ini kapan, ya? Kira-kira kelas 7 atau kelas 9 sih, saya lupa. Soalnya sejak SMA hingga lulus saya jarang ikut lagi berpatisipasi di acara HUT RI. Because, saya sekolah di Kota Kabupaten sedangkan rumah di Cisalak atau lebih tepatnya jauh sekali dari sekolahku. So, my school is far very very far~

Kemarin itu saya berangkat nonton dari pukul 9 pagi sampai waktu dzuhur. Tadinya nunggu Desa saya buat tampil tapi, berhubung Desa Cigadog the last yup, urutan terakhir yaitu ke 5. Jadi, saya hanya menonton Desa Cisalak dan Desa Mayang yang setengah nontonnya karena harus pulang untuk sholat Dzuhur. Oh iya, sebelumnya urutan pertama itu ada Desa Darmaga dan kedua Desa Cisalak. Makanya pawai di mulai jam 08:00 WIB dan saya baru nonton jam 9 so i am the late. Sempet liat sih pawai Desa Darmaga pas lewat rumahku di jalan saya sedang membeli kupat tahu. Ada kuda-kudaan bagus banget, lebih tepatnya unik sih. Terus motor hias, dangdong – dangdonnya juga lucu.

Saya sangat bersyukur bisa terlahir di bumi pertiwi ini, Cisalak. Ya, itulah nama daerah saya. Dan Kabupaten Subang menjadi Kota yang tak akan pernah saya lupakan sepanjang hayat. Kota Subang didirikian pada tanggal 5 April dan saya selalu ikut andil dalam memeriahkan hari lahirnya Kota kelahiran saya ini. Maka saya lebih aktif ketika HUT Kabupaten Subang ketimbang HUT RI pada saat sekolah puith abu dulu. HUT RI tak akan pernah kalah kemeriahannya juga walaupun saya tidak ikut. Karena, di sekolah itu kalau HUT RI selalu tanggal merah dan saya memilih untuk pulang ke kampung halaman lalu diam dirumah. HEHEHE

Sedangkan HUT Kabupaten Subang dimeriahkan ketika kalender normal dan khusus Kabupaten Subang semuanya menjadi bebas alias libur lalu saya masih berada di Subang dan ada waktu lah saat itu untuk ikut pawai atau karnaval. Lagian kalau HUT RI itu kan semua kalender tanggal merah, ya kan? Jadi ada alasan dah untuk pulang ke rumah wkwk. Ah pokoknya saya sangat merindukan Kota Subang dan sejuta bahkan semilyar kenangannya (agak sedikit lebay sih). But, that’s really really my beautiful memories in the self with so much experience and i never forget all until my life to the end. Seriously.

Sudah sampai di akhir cerita, saya akan memberikan dan membagikan gambaran-gambaran tentang Perayaan Pawai Pembangunan Kecamatan Cisalak. Semoga kalian mencintai daerahnya, ya. Karena kita tidak akan pernah terlepas dari kampung halaman yang sejuk dan damai. Apalagi tempat itu telah menjadikan tempat kita untuk lahir di dunia ini dan sampai saat ini kita bisa hidup sejahtera dari hasil bumi pertanian di desa-desa kita. Semoga Allah selalu memberikan perlindungan untuk Kabupaten Tercintaku yakni Subang dan khususnya untuk kampungku.

Terima Kasih, Ibu Pertiwi. Desaku yang kucintai. Pujaan hatiku…

 

 

Andalan

Bukit Pamoyanan – Subang

Nice to meet you all…

IMG-20170716-WA0011

Kali ini saya akan memberikan sedikit pengalaman ketika camping di Bukit Pamoyanan. Sejak beberapa bulan yang lalu tempat tersebut menjadi gencar dan terkenal di banyak media sosial, salah satunya yaitu Instagram. Saya waktu itu melihat sekilas di instagram yang di unggah oleh teman-teman saya. Ketika itu postingan-postingan mereka tentang Bukit Pamoyanan semakin ramai dan pastinya semakin menunjukan bahwa tempat itu indah sekali, asli. Disitulah rasa penasaran saya muncul dan semakin menjadi ingin segera kesana. Pasti kalian juga akan pensaran deh jika belum melihat sebelumnya, dijamin, asyik.

Seminggu setelah saya mengetahui bahwa Bukit Pamoyanan merupakan tempat wisata baru dan saya harus kesana untuk mengobati rasa penasaran, karena lokasi tempat wisata Bukit Pamoyanan tersebut tidak jauh dari rumah. Ada sahabat saya yang mengajak dan dia ingin sekali camp disana, alhasil rencana jadwal pun dibuat. Mempersiapkannya selama satu minggu itu waktu yang cukup lama menurutku karena kami ingin segera kesana tetapi kami masih ada jadwal kesibukan satu sama lain seperti sekolah, kuliah, kerja dan yang lainnya. Kami sepakat untuk berangkat waktu weekend tiba, yaitu hari Sabtu dan Minggu.

Sesampainya hari Sabtu, kami saling menanyakan perbekalan apa saja yang akan dibawa. Karena, kami akan menginap alias camp disana walau cuma satu malam. Pukul 15:00 dimana jadwal pemberangkatan menuju Bukit Pamoyanan akan segera meluncur. Kemudian saya mempersiapkan kebutuhan dan meminta izin ke orang tua lalu saya berangkat bersama sahabat saya. Ketika itu teman-teman yang ikut dari rombongan Kota Subang menggunakan mobil, sedangkan saya hanya membawa motor. Lalu kami janjian dulu di salah satu rumah sahabat saya yang dekat dengan lokasi Bukit Pamoyanan tersebut yaitu di Cimanggu.

Disana kami mempersiapkan kebutuhan makan seperti timbel, sambal dan ikan untuk di bakar. Setelah menunggu, rombongan dari Kota Subang pun akhirnya datang dengan perbekalan yang penuh dalam mobil seperti 3 buah tenda, karpet, senter dan ayam untuk dibakar. Kemudian kami langsung berangkat berbarengan sekitar pukul 19:00 WIB. Sampai di parkiran kami sangat antusias sekali karena sebentar lagi kami akan di tempat orang-orang yang ada di instagram tersebut di posting, ya, Bukit Pamoyanan. Lumayan jauh untuk menuju puncak saya merasa ngos-ngosan nafasnya, maklum sudah faktor usia dan menjadi anak pasca pramuka juga tidak menjamin semangat terus hehehehe.

Ditemukanlah tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda untuk kami istirahat. Disana kami membangun 2 tenda dom dan 1 tenda segitiga yang dibawa dari rombongan Kota Subang. Selesai mendirikan tenda kami akan makan bersama yang sebelumnya harus mencari kayu bakar untuk memanggang ikan dan ayam, yummy! Memakan waktu cukup lama sih untuk memanggang ayam 2 ekor tersebut tapi ikan sudah semua matang. Saat itu saya pergi ke tenda tetangga untuk mencari suasana baru dan tak lama kemudian waktu makan sudah siap dan saya bersama teman-teman yang lainnya menuju ke tenda utama untuk makan malam bersama. Nikmat.

Waktu malam terus berjalan saya memilih tidur karena kondisi badan yang capek dan ingin beristirahat, sedangkan sahabat-sahabat yang lainnya memilih untuk bermain salah satu permainan di aplikasi handphone. Menjelang shubuh saya sudah bangun dan langsung menuju ke toilet umum, ingin tahu nggak? Pas sampai disana antri banget, guys. Hampir satu jam saya berdiri kuat menunggu giliran masuk toilet. Setelah dari toilet, saya dan sahabat-sahabat lainnya bergegas untuk menuju area utama dimana pemandangan samudra awan akan terlihat. Karena tak ingin membuang kesempatan kami rela mengantri lagi jika ingin naik ke menara untuk berfoto dan melihat pemandangan lebih jelas.

Sesampainya diatas menara saya bersyukur sekali kepada Tuhan, karena telah mengizinkan saya untuk berdiri diatas menara itu. Ternyata do’aku terkabul cepat, alhamdulillah. Puas berfoto-foto diatas menara sebelum turun saya mengabadikan betapa ramainya dibawah sana, orang-orangnya dan banyak juga tenda-tenda yang berdiri dibawah menara. Bukit Pamoyanan itu hanyalah kabut tebal yang membentuk lautan awan putih. Disana terdapat 1 menara dan 1 jembatan sebagai tempat-tempat instagramable. Setelah dari menara kami bergegas menuju jembatan karena kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan mumpung ada disini, pikirnya.

Di menara maupun di jembatan sama-sama di waktu, lho. Dan sama-sama di batas orangnya. Karena menara dan jembatan tersebut dibuat dari bambu jadi kita harus berhati-hati jika banyak yang naik. Saya bersama 3 teman naik menara itu sebab batas maximal orang yang boleh naik hanya 4 orang begitupun di jembatan. Tetapi, itu semua nggak bikin saya kecewa saat saya dan teman-teman lain harusnya naik bersama ke menara itu, karena yang terpenting saya bisa naik di menara itu (jahatnya diriku). Disana terdapat antrian yang panjang jadi kami harus cepat-cepat untuk mengambil fotonya dan bagaimanapun hasilnya terimalah ketika difoto diburu-buru dan saat itu saya yang tak punya gaya difoto hanya seadanya, saja. Sedih.

Sudah puas naik menara dan jembatan akhirnya saya menemukan sunrise lalu berfoto sendirian dengan matahari tersebut (kasihan), ketika orang-orang berfoto sama pasangannya hahaha. Tak lama dari sana saya langsung pulang ke tenda dan prepare untuk pulang. Sebelumnya saya mengabadikan suasana tenda kami dan pemandangan gunung-gunungnya untuk kenang-kenangan. Lalu kami membuka tenda masing-masing dan pulang menuju arah area utama untuk sekali lagi berfoto ria. Itu lah pengalaman saya ketika camp di Bukit Pamoyanan demi mendapatkan view samudera awan dan berburu matahari terbit. Semoga tempat wisata ini akan selalu berkembang terus untuk memajukan Kabupaten Subang! Merdeka!

 

IMG20170716055624IMG20170716055627IMG20170716055629

Berkunjung ke Loop Station dan Maen di UPI Bandung

Suasana siang kemarin sangat berbeda, rasanya senang sekali. Jujur saja tempat yang aku kunjungi kemarin itu sangatlah membuat mata ini terbelalak dan juga mulut sering berkata ‘wow’. Mungkin, ini biasa untuk orang-orang asli Bandung and apa emang aku yang kudet, banget. Nyatanya emang begitu guys, aku sangat beruntung bisa ke tempat itu yang awalnya aku mau ke gerai Telkomsel biasa di jalan A. H Nasution. Tetapi,  Allah mengurungkan niatku dan menjadi batal karena aku harus ke tempat yang lebih cocok dan tentunya mengagumkan yaitu, Loop Station Bandung. Ini sangat tidak dibayangkan sebelumnya rencana Engkau sungguh indah. Jadi, ceritanya aku beres perkuliahan mempunyai rencana buat ngebenerin id simcard yang udah jelek pokoknya dan pengen di upgrade ke 4G. Yay! Akhirnya aku rencanakan ke gerai Telkomsel biasa di jalan kampus yang tak begitu jauh. Dan sekalian juga pulang arah Lembang karena aku punya rencana lagi mau maen ke perpustakaan UPI dan berakhir di kosan Iqma – kembaran ceritanya – anak FPOK UPI punya. Dimulai hari Rabu aku akan pergi ke gerai pukul 1 siang, nyatanya emang males kalo berpergian jam segituan. Panas. Ngantuk. Sumpek.

Akhirnya aku tegaskan lagi niat untuk besok. Berhubung aku suka banget sama makaroni dan berencana buat bawain Iqeum (panggilan akrab) makaroni tersebut. Dia memesan rasa pedas, pedas banget katanya. So, aku meng-iya-kan karena itu bukan urusanku jika nanti nyatanya pedes itu berujung kenapa-kenapa. Lalu hari esoknya sepulang kuliah tidak seperti biasa nongkrong dulu depan fakultas tetapi aku langsung caw ke kosan untuk prepare. Ketika sampai dikosan aku lihat jam masih menunjukan angka 10 pagi, ya emang kepagian karena aku janji sama Iqeum buat otw pukul 1 siang. Di pikir-pikir daripada berangkat jam segitu pasti macet, mending sekarang biar waktu dijalannya santai dan aku lebih bisa menikmati perjalanan (gaya bet sih, Han). Tepat pukul 11:30 aku berangkat menuju depan kampus karena mau beli makaroni yang special itu. Sesampainya di depan kok nggak buka ya, aku dekatin lagi penglihatan dan ah yaa memang belum buka masih tertutup rapat guys. Rasa kecewa merasuki hatiku dan penyesalan telah menjanjikan untuk aku bawakan apa gantinya? Dengan niat yang tulus aku lanjutkan saja langsung naek angkot daripada memikirkan makanan apa gantinya buat Iqeum, berdoa saja supaya nanti ada makanan yang aneh di jalan. Dengan kelalaianku sendiri akhirnya gerai Telkomsel itu terlewat. Bagaimana ini rencana yang menurutku gagal dan mengecewakan itu sungguh menyedihkan.

Aku menerima saat makaroni masih tutup, gerai Telkomsel terlewat dan apakah aku harus gagal juga buat maen ke UPI dan kosan Iqeum. Karena tidak ada yang sia-sia di dunia ini setelah itu aku berusaha kembali, ikhlas. Mungkin belum saatnya aku memperbaiki id simcard tersebut. Belajar dari kesalahan aku tak boleh lalai kembali dan ya ketika ada penumpang turun di daerah Ujung Berung bahagia aku membaca dari dalam angkot tulisan “makaroni”. Tanpa pikir panjang lagi aku juga ikut turun walaupun sebenarnya tujuanku bukan disana, ah siapa yang tahu aku akan punya rencana aneh itu buat turun ditempat yang bukan tujuan awal. Tempatnya hampir sama seperti tempat  makaroni dilangganan aku dekat kampus, ada makaroni yang basah dan kering, tempat pencampuran bumbu dan daftar hargnya. Perbedaannya di tempat makaroni ini lebih luas dan hmm harganya pun berbeda, guys. Bedanya Cuma 1k kok nggak banyak-banyak hahaha kalo harganya lebih mahal 2 kali lipat dari makaroni langganan disana mungkin aku akan pura-pura salah tempat dan kelihatan bingung (biasa akting). Oh iya aku nggak sempet foto tempatnya karena malu bet, karyawannya juga pada fresh and ketjeh gitu. Disini mereka memakai seragam berwarna hitam berikut topi pelengkapnya dan juga tempat pembayarannya khusus alias ada kasirnya. It’s so good!

ngehe
Twitter : @Ngehe_Id
Instagram : @ngehe_id
Fb : makaroningeheofficial
Web : ngehe.com

Aku sebagai anti pedes memesan rasa balado dan untuk Iqeum aku pesankan pedaaaaaaas level akhir yaitu 5. Aku gak tahu sih seberapa pedes-pedesnya karena yang aku tahu hanya Iqeum memesan rasa pedes, banget. Daripada aku malu kok tumben yang rasa balado gak pake pedes kaya anak bocah aja hahaha mungkin ini cobaan dan akhirnya aku bilang tambah pedesnya level 1 (seperti biasa level  1). Seperti gambar diatas nama makaroni itu adalah “Mahe” kepanjangan dari makaroni ngehe. Entah apa maksudnya ngehe disana mungkin rasa yang enak dan membuat pembeli ketagihan untuk membeli lagi dan si pembeli ngehehehe deh karena bulak balik buat beli. It’s my opinion guys, jangan anggap bener apalagi serius, deal?

Selesai beli makaroni dan hatiku sangat L E G A karena janjiku ke Iqma telah ditepati. Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan dengan naek angkot (lagi). Sampai di Terminal Caheum aku bingung akan kemana selanjutnya antara ke gerai Telkomsel yang baru direncanakan atau mampir dulu di Toko Buku setiap hari diskon yaitu “Toga Mas”. Hmm dipikir ulang kalo mau berhenti dulu di disana berarti aku harus membeli 1 atau 2 buku dan sayang ongkos kalo nggak beli. Well, aku putuskan untuk lain kali ke Toga Mas karena baru-baru ini aku udah memborong buku di toko buku online. Walaupun aku harus beli walaupun 1 buku saja, uang dari mana deh ini juga pas-pasan banget dah buat pulang (jujur amat si gua).

Setelah aku nyari-nyari di mbah segala tahu (Google), aku mendapatkan macam-macam gerai Telkomsel di Bandung dan dipilih lah gerai id simcard yang sesuai dengan jenis kartu yaitu Loop Station di jalan Dipenogoro No. 41 Bandung. Gembira banget gak bohong karena tempat itu sebelumnya aku idamkan-idamkan karena sesuai sama id simcard aku, Simpati Loop. Setelah turun dari angkot lalu aku masuk ke gerbang stationnya, rasanya disitu dag dig dug antara senang, terharu dan deg-degan baru pertama kali. Ketika melihat sekeliling termasuk ada pos satpam aku tersenyum kaku karena baru pertama kali dan takut ditanya hahaha. Setelah itu aku masuk dan WOW suasananya sangat berbeda dari apa yang aku pikirkan sebelumnya, guys.

Lihat lantainya kaya rumah yang jarang ditempati semacam jalanan diluar atau lebih tepatnya jalan raya soalnya nggak pakai keramik, lucu kan. Kemudian yang bikin aku WOW lagi itu tempat layanan service-nya ada diatas, guys. Dibawah itu tempat komunitas dan juga ada banyak permainan beberapa yang aku tahu ada ruangan pees, permainan bola dimeja, skateboard, billliard, catur, tempat foto, tempat nongkrong, tempat pentas dan masih banyak lagi. Speechles banget semuanya lengkap ada mushola nya juga didalem walaupun kecil pun tapi penataannya bagus beud. Ruangan dan bangunannya zaman dulu banget tapi isinya serba modern. Kalian harus coba kesana gengs! Oh iya aku kebagian antrian no 09 lho, lumayan dah nggak terlalu lama nunggu u,u

nomor antrian

Cuma beberapa menit menunggu akhirnya id simcard ku sudah beres, yeay! Jadi bisa dipakai nano dan juga mikro. Next trip go to campus UPI guys, dan lagi-lagi aku menunggu angkot (lagi) untuk menuju sana. Sesampainya di UPI aku bingung mau kemana aku ini, wkwk. Melihat sekeliling sepi banget deh jarang dijumpai orang berjalan, kebanyakannya pakai mobil. Untung ada se-geng mahasiswi yang sedang menuju atas melewati gedung isola. Tak menunggu waktu lama aku langsung mengikuti jejak mereka kemana jalan untuk bisa keatas dan menuju gedung museum. Tujuan awal sih perpustakaan tapi berhubung aku nggak tahu dimana letaknya aku putuskan untuk jalan-jalan saja. Sampai lah di gedung museum UPI dan ragu-ragu untuk masuk akhirnya aku duduk saja di keong-keongan dan membuka sebuah buku novel.

Tepat pukul 16:00 Iqeum ada menghubungi untuk menanyakan keberadaan aku. So, aku langsung menutup buku dan makaroni yang sedang aku makan dipegang saja karena tinggal sedikit lagi. Perasaan senang mengahmpiri lagi ketika aku bertemu dengan Iqeum – my kembaran – tak lama dari itu kita menuju kosannya dibelakang kampus. Ternyata letak perpustakaan itu ada didalam sebelah kiri, hmm. Di ujung kampus ada fakultas Iqeum yaitu FPOK (Fakultas Penjas Olahraga dan Kesehatan) dengan banyak fasilitasnya seperti gelanggang kolam renang, stadion, lapangan, gymnasium dan yang lainnya. Setelah melewati jalan gang yang berbelok belok lebih bingung dari jalan gang menuju kosan aku, bre. Sampai dirumah tingkat dan kosan Iqeum itu terletak diatasnya. Hari kemarin menjadi sangat istimewa bagiku. Alhamdulillah. Berjalan sesuai dengan rencana.

Pertama, buat ngebenerin id simcard di gerai yang sangat unik, wonderfull, kreatif dan semacamnya sulit aku katakan karena saking bagus sekali, asli. Kedua, keajaiban tempat makaroni yang ada gantinya lebih kece dan pokoknya sesuai tujuan deh buat beli makaroni. Ketiga, bisa jalan-jalan di kampus UPI walaupun nggak jadi masuk ke perpustakaannya, ya setidaknya jadi tahu posisi dan letak perpustakaan UPI. The last, keempat jadi tahu kosan Iqeum dan bisa menginap disana sekaligus nambah-nambah silaturahim yegak. Aku menginap dikosan Iqeum dari sore sampai pagi, malam harinya kita maen ke jalan geger kalong buat beli makan malam. Kita beli sepakat membeli kwietaw. Tepat pukul 07:00 aku pulang sambil menikmati suasana pagi dikampus UPI menuju terminal Ledeng, karena Mama sudah menunggu dirumah 🙂

Senja Kemarin di Kota Tercinta

Udara senja kemarin menjadi sangat berbeda karena ada pertemuan special anak-anak manusia cerdas kelahiran 90-an yang dinamakan “bukber”. Kalian pasti sudah tak asing dengan kosakata seperti itu, ya. Inilah dimana rasa kangen bercampur dengan rasa sedih disebabkan kemarin adalah hari kedua terakhir di bulan Ramadhan tahun sekarang, pendek kata kemaren adalah terawih terakhir juga di bulan Ramadhan 1438 H. Tempatnya tak jauh dari belahan bagian barat di Negara Indonesia yaitu, Jl. Otto Iskandardinata No. 191, Karanganyar, Kec. Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41211, Indonesia. Guys, ini bukan promosi or endorse but this is the full address where we bukber.

Aku berangkat bersama Burid, ya panggilannya seperti itu. Nama lengkapnya adalah Ridha Srirahayu Silvionie, nama yang cantik bukan sama halnya seperti oragnya yang anggun itu. Burid entah sejak kapan kami dipertemukan dengan dirinya, yang jelas kami kenalan di salah satu ekstrakurikuler di sekolah kami tercinta yaitu Pramuka. Dengan begitu sampai sekarang kita tak pernah lepas kontek karena kami terikat dalam Dewan Kehormatan Wiracakti~

Subang, ia adalah kota yang selalu kurindukan terutama di Jl. Sukamelang Perumahan Perum Subang Asri. Sungguh bersejarah. Sedih jadinya.

Subang, janganlah engkau berubah. Karena, disetiap panjang jalan, banyaknya bangunan, deretan pohon telah menyimpan sejuta kenangan tentang diri ini.

Subang, aku berjanji akan menjadikan kau kota dan kabupaten yang lebih baik dan terkenal melebihi nanas simadu dan jaipongnya. Tekadku besar untuk merubah mu, Subangku!

 

IMG20170623173041IMG20170623173051IMG20170623173054

Cisalak, 24 Juni 2017