Posted in Family

Teruntuk yang Terkasih

Ayah ibu,
Maafkan si bungsu yang masih sering mengeluh sakit.
Maafkan si bungsu yang masih meninggikan nada suaraku di hadapan mu, si bungsu yang masih membantah.

Maafkan si bungsu mu ini,
Jika sekiranya kesuksesan dunia tak dapat ku raih.

Tetapi saat dunia tak dapat ku raih, percayalah si bungsu akan berusaha meraih ridho-Nya dan membuat mu bahagia.

Maafkan si bungsu mu ini,
Ketika sering membuat mu malu ketika si bungsu tak bisa bersalaman kepada teman-teman ayah dan ibu.

Si bungsu hanya ingin memberikan kalian kebahagiaan akhirat.
Tapi apalah dayaku ketika ayah ibu kakak belum bisa menerima hijrah ini.

Apalah daya si bungsu ketika kalian masih mencemooh teman-teman ku yang seperti diriku.

Ayah, ibu dan kakak,
Si bungsu memang sudah berubah, tapi perubahan ku hanyalah semata-mata untuk menyelamatkan ayah dari api neraka.

Tak ingin kalian jatuh ke lubang yang panas lalu ku biarkan kalian didalam menangis sedangkan aku bahagia.
Tidak, aku tidak ingin seperti itu.
Bukan juga berarti aku sudah yakin akan bahagia di akhirat tapi setidaknya aku mencoba untuk meraih-Nya.

Si bungsu kini sudah dewasa, sudah mampu memilih yang baik dan salah, sudah jatuh cinta dan sudah mudah galau.

Ayah ibu,
Si bungsu kelak akan menjadi orang tua dan akan merasakan bahagianya punya anak.
Lalu meninggalkan ayah ibu di rumah dan hidupku selanjutnya bergantung pada imam ku, begitupun kakak yang kelak akan berumah tangga.

Ayah ibu,
Sibungsu rindu akan masa kecil itu.
Maafkan si bungsu yang belum bisa membuat kalian tersenyum lebar karena hasilku.

 

 

Dari si bungsu,
`

 

                                                                                                                Bandung, 29 Mei 2016

Posted in Family

Maafkan adikmu

1470289_383054905163060_1283545985_n
Ilustrasi untuk Wisuda S1 dan ini ketika Wisuda D3

     Bandung, 21 Mei 2016

Maafkan adikmu.

 

Jika adikmu sampai saat ini hanya menjadi sosok yang masih ingusan dan polos untuk mengenal soal gaya hidup dan percintaan.

Hanya bisa bercerita hal yang tidak penting kepadamu.

Hanya menjadi beban karena selalu meminta uang tambahan kepadamu.

Hanya menjadi pengganggu waktu istirahatmu.

 

Mafkaan adikmu.

 

Jika adikmu yang menganggap dirimu telah berbeda.

Yang menganggap dirimu semakin sibuk.

Yang menganggap duniamu sudah tak menjadi duniaku

Yang menganggap hidupmu hanya untuk pekerjaanmu

Yang menganggap hidupmu hanya untuk teman-temanmu ataukah kekasihmu.

Yang menganggap hari istimewamu tak menjadi urusanku lagi.

Yang menganggap masalah hatimu tak berhak ku ketahui lagi.

Yang menganggap dirimu akan selalu membawakan ice cream untukku.

 

Tapi adikmu suatu saat nanti akan kehilangan dirimu. Kehilangan karena esok hari nanti engkau ataukah diriku yang akan memilih hidup bersama dengan seseorang yang akan melengkapi separuh agama dan kehilangan karena waktu kita semakin terbatas kesibukan ataukah dunia kita masing-masing.

 

Kini kita semakin beranjak dewasa, semakin menuju tua, semakin dekat dengan kematian. Bahkan kita tak akan tahu apakah dirimu ataukah diriku yang dahulu akan dipanggil oleh-Nya. Namun, usia memberi kita jarak. Membatasai kita untuk saling berbagi walau hanya sekedar menanyakan keadaan “bagaimana kabarku atau kabarmu hari ini?”

 

Kakak, adikmu hanya meminta. Bagilah waktumu walau hanya sekedar “makan malam bersama” dimeja setengah bundar yang biasa kita tempati tuk bercengkrama dan tertawa. Entah kita bercerita tentang dunia kita masing-masing ataukah masa depan kita seperti apa? Bisakah kita mengulang kembali masa kecil yang telah direnggut oleh waktu dan usia?

Maafkan adikmu tak menghadiri hari bersejarahmu yang kedua, semoga dalam hari bersejarhmu yang lainnya aku harus dan pasti akan mengahdirinya.

 

 

 

Congratulations on second graduation

for my brother get a S1

 

Tertanda,

Adikmu