Teruntuk yang Terkasih

Ayah ibu,
Maafkan si bungsu yang masih sering mengeluh sakit.
Maafkan si bungsu yang masih meninggikan nada suaraku di hadapan mu, si bungsu yang masih membantah.

Maafkan si bungsu mu ini,
Jika sekiranya kesuksesan dunia tak dapat ku raih.

Tetapi saat dunia tak dapat ku raih, percayalah si bungsu akan berusaha meraih ridho-Nya dan membuat mu bahagia.

Maafkan si bungsu mu ini,
Ketika sering membuat mu malu ketika si bungsu tak bisa bersalaman kepada teman-teman ayah dan ibu.

Si bungsu hanya ingin memberikan kalian kebahagiaan akhirat.
Tapi apalah dayaku ketika ayah ibu kakak belum bisa menerima hijrah ini.

Apalah daya si bungsu ketika kalian masih mencemooh teman-teman ku yang seperti diriku.

Ayah, ibu dan kakak,
Si bungsu memang sudah berubah, tapi perubahan ku hanyalah semata-mata untuk menyelamatkan ayah dari api neraka.

Tak ingin kalian jatuh ke lubang yang panas lalu ku biarkan kalian didalam menangis sedangkan aku bahagia.
Tidak, aku tidak ingin seperti itu.
Bukan juga berarti aku sudah yakin akan bahagia di akhirat tapi setidaknya aku mencoba untuk meraih-Nya.

Si bungsu kini sudah dewasa, sudah mampu memilih yang baik dan salah, sudah jatuh cinta dan sudah mudah galau.

Ayah ibu,
Si bungsu kelak akan menjadi orang tua dan akan merasakan bahagianya punya anak.
Lalu meninggalkan ayah ibu di rumah dan hidupku selanjutnya bergantung pada imam ku, begitupun kakak yang kelak akan berumah tangga.

Ayah ibu,
Sibungsu rindu akan masa kecil itu.
Maafkan si bungsu yang belum bisa membuat kalian tersenyum lebar karena hasilku.

 

 

Dari si bungsu,
`

 

                                                                                                                Bandung, 29 Mei 2016

Iklan

Awal Ramadhan 1437 H

Assalamu’alaikum!

 

Pada kesempatan kali ini yang bertepatan dengan awal Ramadhan 1437 Hijriyah, aku mau berbagi cerita tentang tadi siang. Seperti kebiasaan para ibu suka ingin berbelanja alias shopping1 ketika bulan yang suci ini telah datang. Hal itu terjadi pada ibuku, iya benar beliau belanja kebutuhan dapurnya yaitu LPG2. Seperti special3 banget untuk beli gas saja sampai di bilang shopping ? Eits selain itu ibuku juga membeli sesuatu barang yang dipakai nanti ketika ada syukuran atau hajatan4, apalagi kalo bukan karpet. Ibu membeli karpet berukuran large5 sebanyak 2 buah.

Cerita kita awali dari sini. Pada pukul yang lagi terang benderangnya matahari yaitu sekitar jam 11 dimana cahaya matahari sudah tidak ada vitaminnya lagi kalau mau berjemur (Ibuku, 2006). Namun itulah waktu yang kita pakai untuk pergi berbelanja. Dimulai dari sesudah sholat Dhuha aku seperti biasa menyalakan laptop untuk sekedar memainkan jari-jariku di atas keyboard6 alias mengetik cerita atau kadang aku membaca buku-buku yang berbau motivasi. Disitu, ibu memberi tahu kalau sekarang antarkan ibu belanja.

Seperti biasa aku sudah siap dengan penampilanku yang super duper sederhana. Namun ibuku tak cukup seperti itu, guys! Aku sudah menunggu di garasi yang berharap ibu akan segera datang dan kita akan pergi. Tapi, 5 menit, 10 menit dan 20 menit berlalu ibuku tak muncul-muncul juga ke garasi. Hingga akhirnya aku menuju kamarnya dan berniat menyusul kalau aku sudah siap. Sesampainya di kamar, ibu masih ber-make updan bergaya di depan kaca riasnya sembari mengatakan,

 

“de, ini cocok gak?”

Tak lama untuk berfikir, lalu aku katakan “cocoooook”.

 

         Mungkin itu ciri khas ibuku, namun anehnya kenapa sifat beliau tersebut tidak mendarah daging dalam kehidupanku. Karena, menurutku itu sangat ribet dan menghabiskan banyak waktu. Seperti halnya kejadian tersebut aku sudah siap sementara ibu masih ber-make up. Tapi aku bersyukur mempunyai ibu yang rajin dan cantik. 

            Tak lama memanaskan motor kemudian pergi. Tujuan yang kami tuju yaitu ke pusatnya toko-toko meubeul, dimana lagi kalo bukan di Limaratus. Disana kami mencari toko yang menjual LPG. Oh iya sebelumnya kenapa ibu belanjanya LPG yang kurang terdengar praktis ditelinga ? Ceritanya pada sore kemarin yang kata orang-orang sering disebut dengan kata munggahantersebut ibu memotong ayam lalu memasaknya hingga si LPG-nya itu habis.

Bingung kemana harus beli karena sore itu warung dan toko-toko tutup sudah pasti tutup karena menyambut datangnya bulan yang suci ini. Dengan begitu ibu tak kehabisan akal sampai beliau meminjamnya ke tetangga yang dibilang sukses dalam usaha bengkel mobilnya. Itulah ceritanya kenapa harus belanja LPG lalu cepat-cepat untuk mengembalikannya, ya namanya juga meminjam barang orang jadi harus sadar diri apalagi di hak milik. Na’udzubillah, jangan sampai begitu teman-teman.

Sampai di toko yang kami pilih, akhirnya ibu langsung mengambil gas LPG dan langsung juga melihat-lihat karpet yang ingin dibeli. Ketika ibu sedang memilih dan melakukan transaksi tawar menawar aku menunggu didepan toko lalu melihat ada yang sedang melakukan transaksi tawar menawar juga yaitu sebuah coolcase9. Tidak bermaksud untuk mendengarkan, namun mereka tepat berada di depanku yang sedang menunggu ibu.

Dalam hati aku harusnya bersyukur dengan keadaan ini, disana masih banyak keluarga yang belum mempunyai kulkas walaupun berukuran minimize10. Dirumahku kulkas ukuran itu sudah menjadi rongsokan dan sudah ibu jual ke tetangga yang membutuhkan kemudian kami membelinya lagi kulkas yang berukuran jumbo11 serta berpintu dua yang saat ini sedang ramai. Sungguh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?

rmd 3

 

Terdengar jelas percakapan mereka dihadapanku yang berkata seingatku,

“yang ini S****n merk bagus bu, jadi harganya delapan belas lima” ucap penjual.

Pembeli itu bertanya dengan nada yang tercengang “sejuta delapan ratus ?”

            “iya bu” tegas si penjual.

 

Diam dan merenung lalu si ibu itu memberi tahu kepada suami dan anak-anaknya. Lalu si ibu pembeli itu menjawab lagi,

 

            “ah masa sih segitu, lima belas kali” meyakinkan untuk menawar.

“itu udah pas bu” si penjual memastikan yang sebenarnya.

 

Dan si ibu pembeli kelihatan sekali ingin membeli kulkas tersebut, namun entah mengapa beliau tak membelinya dan hanya ingin membeli ketika harganya itu satu juta lima ratus ribu rupiah,

 

            “yah kirain bisa lima belas, kalo segitu bisa mau dibeli” sambil meninggalkan kulkas dan keliahatan lah rasa kecewa dan saat itu juga beliau meninggalkan toko dengan tangan kosong

            “maaf bu, itu udah pas gak bisa diturunin lagi” dengan suara lembut dan memastikan sekali lagi bahwa harganya tetap satu juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah.

 

           Tidak lama kemudian ibu keluar dari toko sambil membawa barang belanjaannya. Namun, ibu tak langsung mengajakku pulang, ibu melihat-lihat dulu ke arah lemari, katanya buat si aa12. Sudah dari lemari ibu menanyakan kepadaku,

 

            ”gak ada kipas ya, de ?” bertanya ibu dengan agak sedikit kecewa.

            “itu diatas” sambil menunjukan ke atas arah kami ada kardus-kardus yang

membungkus kipas-kipas tersebut.

           “mas ini kipas ada yang nempel di dinding ?” langsung ibu menanyakan ke si                      tukang toko.

          “gak ada bu, kosong” pernyataan si penjual yang memberi tahukan bahwa kipas                  yang ibuku maksud itu tidak ada alias habis.

            “buat apa kipas yang begitu bu ?” dengan nada penasaran aku menanyakannya.

            “itu buat di mesjid” jelas pernyataan ibu.

 

Kebetulan mesjid itu adalah mesjid kepunyaan nenek dari ibu yang beberapa bulan lalu direnovasi. Sehingga ibu ingin menyumbangkan kipas itu untuk digunakan di mesjid nenek. Tak terasa sudah lewat dari satu jam, akhirnya kita pulang dengan barang belanjaan yang lumayan banyak. Ribet pake motor, ibu memutuskan untuk naik mobil umum saja dengan barang belanjaannya. Alhamdulillah tidak lama akhirnya kamipun sampai dirumah tercinta!

Pesan yang saya ingin sampaikan dari cerita ini yaitu ketika kita sudah mempunyai apa yang belum dimiliki oleh orang lain, kita wajib bersyukur dan memberikan sebagian harta kita tersebut untuk mereka. Dan jangan pernah lupa atau lalai untuk melakukan bentuk rasa syukur kita dengan Dzikir pagi dan sore hari. Yuk kita biasakan berdzikir, agar terbiasa sehingga kelak menjadi orang yang pandai bersyukur.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa 1437 H good readers! Saya sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Dan selamat berlibur kepada teman-teman kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung terkhusus untuk jurusan Agroteknologi. Serta hati-hati diperjalanan bagi yang mudik di pulau Jawa maupun diluar pulau Jawa, jangan lupa juga oleh-olehnya wkwkwk.

                                                                                   

 

                                                                                                                                  Regards,

 

 

                                                                       

                                                                                               Sarjana Pertanian 2019

rmd 2
Motorku parkir depan toko
rmd
suasana depan toko

 

 

Daftar Istilah :

1.      Shopping = Perbelanjaan

2.      LPG = Liquefied Petroleum Gas

3.      Special = Istimewa

4.      Hajatan = Pesta

5.      Large = Besar

6.      Keyboard = Papan tombol jari

7.      Make up = Dandanan

8.      Munggahan = Tradisi orang Sunda menyambut datangnya bulan Ramadhan

9.      Coolcase = Kotak penyejuk

1       Minimize = Memperkecil

         Jumbo = Luar biasa besarnya

         Aa = Saudara laki-laki

Maafkan Adikmu

1470289_383054905163060_1283545985_n
Ilustrasi untuk Wisuda S1 dan ini ketika Wisuda D3

     Bandung, 21 Mei 2016

 

Maafkan adikmu.

Jika adikmu sampai saat ini hanya menjadi sosok yang masih ingusan dan polos untuk mengenal soal gaya hidup dan percintaan.

Hanya bisa bercerita hal yang tidak penting kepadamu.

Hanya menjadi beban karena selalu meminta uang tambahan kepadamu.

Hanya menjadi pengganggu waktu istirahatmu.

 

Mafkaan adikmu.

Jika adikmu yang menganggap dirimu telah berbeda.

Yang menganggap dirimu semakin sibuk.

Yang menganggap duniamu sudah tak menjadi duniaku

Yang menganggap hidupmu hanya untuk pekerjaanmu

Yang menganggap hidupmu hanya untuk teman-temanmu ataukah kekasihmu.

Yang menganggap hari istimewamu tak menjadi urusanku lagi.

Yang menganggap masalah hatimu tak berhak ku ketahui lagi.

Yang menganggap dirimu akan selalu membawakan ice cream untukku.

Tapi adikmu suatu saat nanti akan kehilangan dirimu. Kehilangan karena esok hari nanti engkau ataukah diriku yang akan memilih hidup bersama dengan seseorang yang akan melengkapi separuh agama dan kehilangan karena waktu kita semakin terbatas kesibukan ataukah dunia kita masing-masing.

Kini kita semakin beranjak dewasa, semakin menuju tua, semakin dekat dengan kematian. Bahkan kita tak akan tahu apakah dirimu ataukah diriku yang dahulu akan dipanggil oleh-Nya. Namun, usia memberi kita jarak. Membatasai kita untuk saling berbagi walau hanya sekedar menanyakan keadaan “bagaimana kabarku atau kabarmu hari ini?”

Kakak, adikmu hanya meminta. Bagilah waktumu walau hanya sekedar “makan malam bersama” dimeja setengah bundar yang biasa kita tempati tuk bercengkrama dan tertawa. Entah kita bercerita tentang dunia kita masing-masing ataukah masa depan kita seperti apa? Bisakah kita mengulang kembali masa kecil yang telah direnggut oleh waktu dan usia?

Maafkan adikmu tak menghadiri hari bersejarahmu yang kedua, semoga dalam hari bersejarhmu yang lainnya aku harus dan pasti akan mengahdirinya.

 

 

Congratulations on second graduation

for my brother get a S1

 

Tertanda,

Adikmu