Mengembalikan Bahasa Daerah Sebagai Bahasa Ibu

Dengan buku menjadi banyak tahu tentang dunia dan dengan bahasa seakan kita hidup selamanya. Begitulah singkatnya jika kita bekumpul dengan keluarga yang digunakan untuk menjalin keakraban adalah bahasa, berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari kampung halaman sama pun menggunakan bahasa. Namun, saat ini bahasa-bahasa daerah tersebut akan semakin punah di daerahnya masing-masing akibat paradigma masyarakat yang cenderung menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari dan gengsi jika menggunakan bahasa dari daerah asal mereka. Boleh-boleh saja jikalau ingin belajar bahasa asing dan menguasai berbagai macam bahasa baik itu bahasa Inggris, Korea, Jepang maupun Arab hanya untuk meningkatkan pengetahuan tentunya, tapi jangan sampai bahasa daerah kita sendiri dilupakan serta kita selaku mahasiswa yang akan menjadi penerus bangsa ini kedepannya harus bisa menjaga dan melestarikan budaya lokal. Karena, Negara kita ini sangat kaya akan budaya dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri salah satunya adalah bahasa.

Dari situs berita nasional yang mengutip dari situs riset linguistic dan telaah bahasa dunia, Ethonologue, Indonesia menempati urutan kedua dengan bahasa lokal terbanyak di dunia, situs tersebut menyatakan Indonesia memiliki 707 bahasa daerah. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia mempunyai lebih dari 700 bahasa daerah. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia Negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini. Bahkan berdasarkan buku yang pernah saya baca pun berjudul “Life Science for a Better Life” menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman bahasa daerahnya masing-masing dan isi buku tersebut intinya ingin menggugah kesadaran masyarakat betapa strategisnya life science, mengingat Indonesia memiliki modal kebudayaan dan biodiversitas yang tak tertandingi oleh Negara manapun di dunia. Tahukah kalian? Bahwa dari 700 bahasa daerah di Indonesia saat ini hanya 19 bahasa yang aman dan tetap kita gunakan sebagai alat komunikasi di daerahnya masing-masing. Lalu bahasa yang dinyatakan punah oleh Badan Bahasa sebanyak 11 bahasa, keberadaan bahasa yang telah punah tersebut tersebar di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Kemudian usaha Badan Bahasa untuk melestarikan bahasa daerah sampai tahun 2016 sebanyak 646 bahasa daerah telah didokumentasikan.

Menurut kutipan dari UNESCO menyatakan “ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga, sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah” kemudian menurut data UNESCO, daerah yang paling terancam punah bahasanya adalah Halmahera. Oleh sebab itu, usaha yang bisa membantu guna untuk mempertahankan dan mengembalikan keragaman bahasa daerah sebagai bahasa ibu yaitu penutur sebelumnya ketika memiliki keturunan harus dikenalkan dan diaplikasikan bahasa daerah mulai sejak dini sesuai suku dan budayanya masing-masing. Manfaat yang akan didapatkannya banyak sekali selain untuk menjaga warisan yang sangat berharga, seperti yang telah disebutkan oleh UNESCO maka sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi tersebut akan terjaga dan dilestarikan. Walaupun saat ini rata-rata para orang tua telah meninggalkan bahasa daerahnya dan mengajarkan anak-anaknya ke kelas privat bahasa untuk bisa bahasa asing. Faktor tersebut yang menyebabkan semakin berkurangnya pemakaian bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kutipan dari Dadang Sunendar (Kepala Badan Bahasa) ketika membuka Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional tahun 2017 “Penggunaan bahasa asing harus sesuai dengan tempat dan waktunya”.

Kemudian bahasa daerah harus ada di sekolah sebagai mata pelajaran. Seperti yang telah dikatakan oleh Anies Baswedan adalah “cara agar bahasa tidak hilang adalah dengan diajari di sekolah, di rumah dan semua orang harus mempromosikannya”.  Contohnya di Jawa Barat sendiri ada mata pelajaran khusus bahasa yaitu Bahasa Sunda,  di Jawa ada mata pelajaran Bahasa Jawa. Mereka wajib mempelajarinya, mengetahui  dan mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Dengan begitu para generasi muda akan tahu walau hanya sedikit demi sedikit lalu akan terbiasa dengan bahasa daerah yang mereka pelajari. Selain kenal dengan bahasa daerah masing-masing, mereka juga akan berfikir bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap budaya yang beraneka ragam tersebut. Karena, semboyan Negara kita adalah “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, yang menggambarkan bahwa Negara kita memiliki macam-macam budaya yang salah satunya yaitu bahasa dan setiap dialek bahasa daerahnya pun berbeda-beda. Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh sampai melupakan bahasa daerah tersebut. Seperti Ewis Taime (25) dan Imannuel (20) dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2017 menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan bahasa daerah, karena bagi mereka bahasa merupakan salah satu elemen dan sarana penting sebagai pemersatu bangsa.

Mari kita sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan dari Bhinneka Tunggal Ika, dengan cara menggunakan bahasa daerah dan jangan malu untuk melakukan itu. Utamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pemersatu bangsa dan lestarikan bahasa daerah sebagai ciri khas Negara kita yang dimana setiap suku bangsa mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Maka, sudah sangat jelas kita harus mengembalikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Data : Badan Bahasa (2016)

Iklan

Kontaminasi (Browning) Pada Teknik Kultur Jaringan

Dalam bidang pertanian saat ini selain budidaya pertanian organik yang sedang digalakkan disamping itu untuk memanfaatkan perkembangan teknologi terbaru yang ada dalam bidang pertanian saat ini dan masa depan yaitu dengan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan atau kultur in vitro atau tissue culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi sel, jaringan, dan organ kemudian menumbuhkan bagian tersebut pada media buatan yang mengandung kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh pada kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan berenegerasi menjadi tumbuhan sempurna kembali (Kristina et al, 2017). Menurut Erizka Fauzy (2017), kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman (daun muda, mata tunas, ujung akar, keping biji atau bagian lain yang bersifat meristematik) serta menumbuhkannya dalam media buatan yang kaya nutrisi dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) secara aseptik (steril) dalam wadah in vitro yang tembus cahaya sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Kultur in vitro tidak hanya dapat digunakan untuk konservasi dan perbanyakan tanaman, melainkan dapat juga diterapkan untuk produksi metabolit sekunder (Anis dan Oetami, 2010). Namun, kontaminasi oleh mikroba merupakan salah satu masalah serius dalam kultur in vitro tanaman (Leifert dan Cassells, 2001).

Ciri yang terdapat pada kontaminasi tersebut diantaranya pencoklatan pada eksplan ataupun media. Proses pembuatan kultur jaringan, komponen yang paling rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme adalah media tumbuh dan eksplan Gunawan (1988). Berdasarkan hasil penelitian Anis dan Oetami (2010), penyebab dari kontaminasi (browning) akibat gejala yang ditimbulkan dari adanya serangan jamur adalah tumbuhnya hifa-hifa jamur pada permukaan media maupun eksplan setelah inokulasi selama rata-rata 4-10 hari setelah tanam. Di samping itu, mikrooganisme akan menyerang eksplan melalui luka-luka akibat pemotongan dan penanganan waktu sterilisasi sehingga mengakibatkan jaringan eksplan. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala berwarna putih, biru, coklat atau krem yang disebabkan jamur dan bakteri. Media tumbuh dan eksplan dapat terkontaminasi oleh mikrooganisme karena keduanya dapat berfungsi sebagai subsrat yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme termasuk bakteri (Doods dan Roberts, 1983) dan jamur (Gunawan, 1987). Pandiangan (2003), mengatakan bahwa kontaminasi dapat terjadi dari eksplan baik eksternal maupun internal, mikroorganisme yang masuk kedalam media, botol kultur atau alat-alat tanam yang kurang steril, ruang kerja dan kultur yang kotor (mengandung spora di udara ruangan laboratorium) dan kecerobohan dalam pelaksanaan.

Selain itu, masalah lingkungan inkubator juga tidak bisa diabaiakan karena ini juga sering menjadi masalah. Suhu ruangan inkubator sangat menentukan optimasi pertumbuhan eksplan, suhu yang terlalu rendah atau tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada eksplan. Kebutuhan antara satu tananaman dengan tanaman yang lain berbeda, namun demikian solusinya sulit dilakukan mengingat umumnya ruangan inkubator suatu ruangan laboratorium kultur jaringan tidak bisa dibuat variasi antara satu ruangan dengan bagian ruangan yang lainnya.

 

 

Referensi :

Anis S dan Oetami Dwi H. 2010. Pengaruh Sterilan Dan Waktu Perendaman Pada Eksplan Daun Kencur (Kaemferia galanga L) Untuk Meningkatkan Keberhasilan Kultur Kalus. AGRITECH, Vol. XII (1) 11 – 29

Erizka F, Mansyur, dan Ali Husni. 2017. The Effect Of Using Murashige And Skoog Medium (Ms) And Vitamin To Callus Regeneration Of Napier Grass (Pennisetum Purpureum) Cv. Hawaii Post On Gamma Radiation Ld50 Doses (In Vitro). Fakultas Pertanian UNPAD, Vol. 1 (1) 1-22

Gunawan, L. W. 1987. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. 36-101.

Kristina M, Oratmangun, Dingse P, dan Febby K. 2017. Deskripsi Jenis-Jenis Kontaminan Dari Kultur Kalus Catharanthus roseus (L.) G. Don. Jurnal Mipa Unsrat Online, Vol. 6 (1) 47—52

Litz, R. E. and D. J. Gray. 1995. Somatic Embryogenesis for Agricultural Improvement. World Journal Microbiology and Biotechnology. 11:416-425

Tetap dalam diam mu

Tak usah kau ceritakan.

Tak usah banyak orang mengetahuinya.

Apalagi kita jelaskan siapa orangnya. Cukup simpan rapat-rapat dalam hatimu.

Dan, tak perlu tahu siapapun. Sekalipun pada seseorang yang paling di percayai di dunia ini.

Pada dasarnya manusia sering gagal pada ujian menahan. 

Menahan rasa, menahan hati, maupun menahan pikiran.

Dan, ingat kita adalah ujian bagi satu sama lain.

Allah, mempertemukan kita dengan dirinya itu pasti ada maksudnya, hidayah itu mutlak milik Allah. Tapi, kita tidak tahu lantaran siapa hidayah itu akan sampai kepada kita, bisa saja lantaran dirinya, kita menjadi lebih baik lagi, bisa saja dengan perkenalan dengan kita dirinya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, semua kemungkinan itu bisa terjadi.

Karena, seseorang dipertemukan itu untuk merubah hidup seseorang lainnya, lakukan peranmu sebaik mungkin. Tetap rendah hati, ya.

Ketika beribu kenangan datang, dilanjut beribu rindu itu menghampiri, biarkan beribu do’a kita yang membumbung ke Arsy-Nya, pun ditekankan apapun ujian kita jangan pernah tinggalkan Allah. Allah dulu. Allah lagi. Allah terus.

Saat kesulitan datang menghampiri, Allah perintahkan kita untuk shalat dan sabar. Allah ingin mengetahui seberapa besar, azzamnya kita dalam melibatkan Allah, seberapa besar kekuatan kita dalam meminta pertolongan Allah.

Tetap jaga prinsipmu wahai perempuan, tetap menjadi wanita yang mahal, jangan mudah mengobral cinta kesana kemari, tetap dalam diammu, sayang. Karena, muslimah itu dagangan Allah yang paling mahal.

Jika dia adalah pemuda baik, dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan. Dan, jangan mudah terpengaruh oleh kebaikan-kebaikan laki-laki. Kita tahu sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah dan ibu) seorang perempuan hanyalah satu, yaitu melamar.

Jika ada seorang pemuda yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum sepenuhnya. Sebaliknya, pun begitu dia yang (belum) berbuat apa-apa tetapi berani melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

Sebab, bukan perkara kecil bagi seorang pemuda untuk meminta perempuan dari orang tuanya. Tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu).

Ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil.

Ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakannya di pundaknya sendiri.

Oleh sebab itu, janganlah kita mudah terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. Semua itu akan kalah dengan dia yang melagkahkan kaki kepada Ayah kita nanti. Karena, ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu. Maka, hitunglah kebaikan yang satu itu – hitung baik-baik –

Jadilah, wanita yang sulit didapatkan tetapi beruntung yang mendapatkannya. Sejatinya, wanita itu suka dipuji tetapi jangan tebar pesonamu, ya. Jangan biarkan obral perhatian sana-sini, jadilah putri yang cantik, anggun, shaleha dan mahal harganya. Bersabralah, biarkan cukup suami sajalah yang mengagumi dan memberi seribu pujian untuk kita.

Andalan

Change the name of the building on the campus UIN SGD Bandung

Sekarang saya mau membahas acara besar yang telah dilaksanakan oleh Kampus UIN SGD. Walaupun acara tersebut sudah terlewat namun info yang tersampikan belum menyeluruh tersebar secara luas untuk khalayak umum diluar sana. Acara tersebut yakni bernama Dies Natalis UIN SGD Bandung ke-48

Dalam rangka acara Dies Natalies UIN SGD Bandung ke-48 ada banyak bermacam  kegiatan. Oke kalian pasti tidak tahu kapan acara tersebut dilaksanakan dan sampai kapan acara tersebut mencapai puncaknya. Setahu saya sebagai mahasiswi di semester II Jurusan Agroteknologi, acara Dies Nataslies ke-48 dimulai pada akhir bulan Maret, yap sekitar tanggal 28, 29, 30, 31, nah acara puncak terjadi pada tanggal 8 April 2016.

Dalam acara puncak tersebut yaitu pada tanggal 8 April 2016 ada Seminar Internasional yang mengundang tamu special yaitu bapak Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Disini saya akan membagi sebagian hasil dari Seminar Internasional tersebut. Menurut baligo yang pernah saya baca bahwa seminar tersebut ada tamu undangan dari seluruh Rektor Universitas terkenal yang ada di Bandung, seperti ITB, UNPAD, UPI dll.

Lanjut pada topik yang akan saya bagikan yaitu tentang perubahan nama-nama gedung di UIN SGD Bandung. Seperti yang saya jelaskan tadi perubahan nama-nama gedung diatas merupakan sebagian dari isi atau hasil seminar. Karena untuk seluruh isi dari seminar tersebut saya kurang mengetahuinya, disebabkan pada hari itu saya ada jadwal kuliah. Baik langsung saja saya sebutkan gedung-gedung mana saja yang menjadi perubahan nama sebagai tanda dari Dies Natalis ke-48 ini.

Inilah perubahan nama-nama gedung di UIN SGD Bandung

  1. Gedung Aula Multi Purpose             menjadi Gedung Anwar Musaddad
  2. Gedung Aula Lama                            menjadi Gedung Abjan Soelaeman
  3. Gedung Laboratorium Terpadu      menjadi Gedung Solahudin Sanuasi
  4. Gedung Al-Jamiah                              menjadi Gedung O. Djauharudin AR
  5. Gedung Perpustakaan                       menjadi Gedung Rachmat Djatnika

Menurut informasi yang saya dapatkan bahwa perubahan nama tersebut diambil dari nama-nama Rektor UIN Bandung yang telah wafat dan ditanda tangani oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Hanya itu yang bisa saya sampaikan.

Semoga bermanfaat khususnya untuk mahasiswa/i UIN SGD Bandung yang belum mengetahui atas perubahan nama gedung-gedung penting di kampus dan untuk mahasiswa/i baru untuk mengenali sebelum dan sesudah perubahan nama-nama gedung di kampus UIN SGD Bandung.

Berikut gambar dari gedung-gedung di UIN SGD Bandung yang dirubah namanya.

 

 

aula baru
Gedung Anwar Musaddad

 

 

 

aula lama
Gedung Abjan Soelaeman

 

 

 

lab
Gedung Solahudin Sanusi

 

 

 

aljamiah
Gedung O. Djauharudin AR

 

 

 

perpus
Gedung Rachmat Djatnika

 

Dokumentasi Pribadi

Copyright 2016