Ngasuh di YGS

Ngasuh 👶 – at Yogya Grand Subang

Ini bukan adik, apalagi anak 😀

Ini adalah sepupu tapi berasa keponakan. Kok bisa? Yaa, karena ayah si anak ini sudah seperti anak pertama mamah dan sudah seperti kakak pertama saya. Lalu aa Zidan (panggilannya) sudah dianggap sebagai cucu bagi mamah. Rasanya seneng gitu punya cucu pertama laki-laki, kan? Hanya Allah yang Maha Mengetahui segalanya~

View on Path

Iklan

Alun-alun Majalengka

Pagi-pagi udah nongkrong aja di Kota orang lain wkwk. – at Alun-alun Majalengka

Ceritanya mau ikutan kegiatan FORMATANI di Majalengka. Tapi berhubung kurang persiapan dan emang yah kalau masih semester bawah suka agak ragu-ragu gitu, deh. Nah pas besoknya mau ke acara eh malah hujan. Jadi deh agak males buat kesananya, hehe. Aku di Majalengka nginep di rumah kakak tingkat lho, namanya Teh Hani 🙂

Disana aku pertama kalinya journey sendirian ke Majalengka yang belum samsek (bahasa gaulnya sama sekali) pengalaman kesana. Yaa pokoknya walaupun nggak jadi ikutan acaranya, aku bersyukur bisa nge-journey sendirian ke luar Subang, deh. Intinya yang aku dapetin dari pengalaman ini sih jadi makin berani.

Terus itu foto waktu mau berangkat ke acara tapi malah hujan, jadi aku sama Teh Hani neduh dulu di depan pendopo, deh. Berhubung hujannya lebat banget and lama berhentinya, aku jadi ragu-ragu buat kesana dan memutuskan untuk pulang ke Subang. Anehnya, kalau waktu itu musim hujan tapi Mamah ngizinin aja aku kegiatan jauh dnegan cuaca yang extreme. Pokoknya Mamah is the best lah :*

True Story!

hahahahaha tak tahan tawaku ketika melihat tulisan ini, kata penulisnya sih tulisan ini disebut artikel siapa lagi penulis tulisan ini kalo yang punya blog ini si Hana Fitriani wkwk. Ceritanya ini artikel buat salah satu syarat untuk masuk UKM (unit kegiatan mahasiswa) LPM SUAKA. Dimulai dari nol aku mengenal lagi karya tulisan, sebenarnya kalo dulu aku punya blog ini mungkin udah terkenal kali kaya anaknya *teeeeet*Berhubung dulu tuh masih kurang update dan dulu juga aku mondok, jadi minim banget waktu buat kaya ginian kaaan!

Demi hobiku yang mungkin kurang terwadahi ini aku nekad ikut ukm tersebut untuk mengembangkan dan mempertajam lagi hobi ini. Sudah daftar akhirnya disuruh membikin sebuah artikel yang berhubungan dengan sekitaran kampus, so well, aku terinspirasi keramaian didepan kampus aja, apalagi kalo bukan MACET. Tapi, alhamdulillah walaupun artikelnya sama sekali gak sesuai dengan kriteria tapi aku lolos masuk seleksi tahap berikutnya wkwk gak percaya ya ? Sama kali aku juga lagian ini tulisan apa maunya sih nggak jelas dan nggak nyambung *ngehina diri sendiri* -___- nyok kita liat tulisan artikel ciptaannya siapa ya, gimana ini gak ada yang ngaku wkwk Okelah ciptaan aku sendiri yaaa!

Untitled3

Untitled3

 

Awal Ramadhan 1437 H

Assalamu’alaikum!

 

Pada kesempatan kali ini yang bertepatan dengan awal Ramadhan 1437 Hijriyah, aku mau berbagi cerita tentang tadi siang. Seperti kebiasaan para ibu suka ingin berbelanja alias shopping1 ketika bulan yang suci ini telah datang. Hal itu terjadi pada ibuku, iya benar beliau belanja kebutuhan dapurnya yaitu LPG2. Seperti special3 banget untuk beli gas saja sampai di bilang shopping ? Eits selain itu ibuku juga membeli sesuatu barang yang dipakai nanti ketika ada syukuran atau hajatan4, apalagi kalo bukan karpet. Ibu membeli karpet berukuran large5 sebanyak 2 buah.

Cerita kita awali dari sini. Pada pukul yang lagi terang benderangnya matahari yaitu sekitar jam 11 dimana cahaya matahari sudah tidak ada vitaminnya lagi kalau mau berjemur (Ibuku, 2006). Namun itulah waktu yang kita pakai untuk pergi berbelanja. Dimulai dari sesudah sholat Dhuha aku seperti biasa menyalakan laptop untuk sekedar memainkan jari-jariku di atas keyboard6 alias mengetik cerita atau kadang aku membaca buku-buku yang berbau motivasi. Disitu, ibu memberi tahu kalau sekarang antarkan ibu belanja.

Seperti biasa aku sudah siap dengan penampilanku yang super duper sederhana. Namun ibuku tak cukup seperti itu, guys! Aku sudah menunggu di garasi yang berharap ibu akan segera datang dan kita akan pergi. Tapi, 5 menit, 10 menit dan 20 menit berlalu ibuku tak muncul-muncul juga ke garasi. Hingga akhirnya aku menuju kamarnya dan berniat menyusul kalau aku sudah siap. Sesampainya di kamar, ibu masih ber-make updan bergaya di depan kaca riasnya sembari mengatakan,

 

“de, ini cocok gak?”

Tak lama untuk berfikir, lalu aku katakan “cocoooook”.

 

         Mungkin itu ciri khas ibuku, namun anehnya kenapa sifat beliau tersebut tidak mendarah daging dalam kehidupanku. Karena, menurutku itu sangat ribet dan menghabiskan banyak waktu. Seperti halnya kejadian tersebut aku sudah siap sementara ibu masih ber-make up. Tapi aku bersyukur mempunyai ibu yang rajin dan cantik. 

            Tak lama memanaskan motor kemudian pergi. Tujuan yang kami tuju yaitu ke pusatnya toko-toko meubeul, dimana lagi kalo bukan di Limaratus. Disana kami mencari toko yang menjual LPG. Oh iya sebelumnya kenapa ibu belanjanya LPG yang kurang terdengar praktis ditelinga ? Ceritanya pada sore kemarin yang kata orang-orang sering disebut dengan kata munggahantersebut ibu memotong ayam lalu memasaknya hingga si LPG-nya itu habis.

Bingung kemana harus beli karena sore itu warung dan toko-toko tutup sudah pasti tutup karena menyambut datangnya bulan yang suci ini. Dengan begitu ibu tak kehabisan akal sampai beliau meminjamnya ke tetangga yang dibilang sukses dalam usaha bengkel mobilnya. Itulah ceritanya kenapa harus belanja LPG lalu cepat-cepat untuk mengembalikannya, ya namanya juga meminjam barang orang jadi harus sadar diri apalagi di hak milik. Na’udzubillah, jangan sampai begitu teman-teman.

Sampai di toko yang kami pilih, akhirnya ibu langsung mengambil gas LPG dan langsung juga melihat-lihat karpet yang ingin dibeli. Ketika ibu sedang memilih dan melakukan transaksi tawar menawar aku menunggu didepan toko lalu melihat ada yang sedang melakukan transaksi tawar menawar juga yaitu sebuah coolcase9. Tidak bermaksud untuk mendengarkan, namun mereka tepat berada di depanku yang sedang menunggu ibu.

Dalam hati aku harusnya bersyukur dengan keadaan ini, disana masih banyak keluarga yang belum mempunyai kulkas walaupun berukuran minimize10. Dirumahku kulkas ukuran itu sudah menjadi rongsokan dan sudah ibu jual ke tetangga yang membutuhkan kemudian kami membelinya lagi kulkas yang berukuran jumbo11 serta berpintu dua yang saat ini sedang ramai. Sungguh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?

rmd 3

 

Terdengar jelas percakapan mereka dihadapanku yang berkata seingatku,

“yang ini S****n merk bagus bu, jadi harganya delapan belas lima” ucap penjual.

Pembeli itu bertanya dengan nada yang tercengang “sejuta delapan ratus ?”

            “iya bu” tegas si penjual.

 

Diam dan merenung lalu si ibu itu memberi tahu kepada suami dan anak-anaknya. Lalu si ibu pembeli itu menjawab lagi,

 

            “ah masa sih segitu, lima belas kali” meyakinkan untuk menawar.

“itu udah pas bu” si penjual memastikan yang sebenarnya.

 

Dan si ibu pembeli kelihatan sekali ingin membeli kulkas tersebut, namun entah mengapa beliau tak membelinya dan hanya ingin membeli ketika harganya itu satu juta lima ratus ribu rupiah,

 

            “yah kirain bisa lima belas, kalo segitu bisa mau dibeli” sambil meninggalkan kulkas dan keliahatan lah rasa kecewa dan saat itu juga beliau meninggalkan toko dengan tangan kosong

            “maaf bu, itu udah pas gak bisa diturunin lagi” dengan suara lembut dan memastikan sekali lagi bahwa harganya tetap satu juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah.

 

           Tidak lama kemudian ibu keluar dari toko sambil membawa barang belanjaannya. Namun, ibu tak langsung mengajakku pulang, ibu melihat-lihat dulu ke arah lemari, katanya buat si aa12. Sudah dari lemari ibu menanyakan kepadaku,

 

            ”gak ada kipas ya, de ?” bertanya ibu dengan agak sedikit kecewa.

            “itu diatas” sambil menunjukan ke atas arah kami ada kardus-kardus yang

membungkus kipas-kipas tersebut.

           “mas ini kipas ada yang nempel di dinding ?” langsung ibu menanyakan ke si                      tukang toko.

          “gak ada bu, kosong” pernyataan si penjual yang memberi tahukan bahwa kipas                  yang ibuku maksud itu tidak ada alias habis.

            “buat apa kipas yang begitu bu ?” dengan nada penasaran aku menanyakannya.

            “itu buat di mesjid” jelas pernyataan ibu.

 

Kebetulan mesjid itu adalah mesjid kepunyaan nenek dari ibu yang beberapa bulan lalu direnovasi. Sehingga ibu ingin menyumbangkan kipas itu untuk digunakan di mesjid nenek. Tak terasa sudah lewat dari satu jam, akhirnya kita pulang dengan barang belanjaan yang lumayan banyak. Ribet pake motor, ibu memutuskan untuk naik mobil umum saja dengan barang belanjaannya. Alhamdulillah tidak lama akhirnya kamipun sampai dirumah tercinta!

Pesan yang saya ingin sampaikan dari cerita ini yaitu ketika kita sudah mempunyai apa yang belum dimiliki oleh orang lain, kita wajib bersyukur dan memberikan sebagian harta kita tersebut untuk mereka. Dan jangan pernah lupa atau lalai untuk melakukan bentuk rasa syukur kita dengan Dzikir pagi dan sore hari. Yuk kita biasakan berdzikir, agar terbiasa sehingga kelak menjadi orang yang pandai bersyukur.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa 1437 H good readers! Saya sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Dan selamat berlibur kepada teman-teman kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung terkhusus untuk jurusan Agroteknologi. Serta hati-hati diperjalanan bagi yang mudik di pulau Jawa maupun diluar pulau Jawa, jangan lupa juga oleh-olehnya wkwkwk.

                                                                                   

 

                                                                                                                                  Regards,

 

 

                                                                       

                                                                                               Sarjana Pertanian 2019

rmd 2
Motorku parkir depan toko
rmd
suasana depan toko

 

 

Daftar Istilah :

1.      Shopping = Perbelanjaan

2.      LPG = Liquefied Petroleum Gas

3.      Special = Istimewa

4.      Hajatan = Pesta

5.      Large = Besar

6.      Keyboard = Papan tombol jari

7.      Make up = Dandanan

8.      Munggahan = Tradisi orang Sunda menyambut datangnya bulan Ramadhan

9.      Coolcase = Kotak penyejuk

1       Minimize = Memperkecil

         Jumbo = Luar biasa besarnya

         Aa = Saudara laki-laki

Indonesia Menghafal

Assalamu’alaikum!    

Malam minggu ini yang kata orang-orang malamnya punya orang pacaran dan malam kemuliaan-lah bagi para jomblo terutama aku nih (sama sekali bukan niat promosi lho!) buat diam dikamar lalu mengurung diri untuk menggali hobi (ceilah menggali emangnya lahan -_-). Sudah lupakan kenapa harus mendebatkan malam minggu sih, ya, padahal malam ini aku mau berbagi kisah inspiratif yang di alami langsung oleh si penulis, yang bernama lengkap Hana Fitriani bersama rekan bisnis pulsanya yaitu Ibnu Khabibi Ahmad dan si abang alias Dineu Dinul Qoyyimah. Benar sekali dia adalah si abang yang menurut sejarahnya kenapa disebut abang, karena dia cewek yang suka nonjok-nonjok (berdasarkan pernyataan Ikhsan Muzaki). Alhamdulillah untungnya aku belum pernah ditonjok sih sama dia hehehe peace oke Din damai 😀 nih aku kasih gambaran takutnya penasaran gimana sih sosok seorang abang yang cantik.

dineu
abang DIneu

           Cerita ini aku mulai sejak kedatangan Ust. Yusuf Mansur menjadi tamu undangan di acara Pembukaan Tahfidz Fakultas Sains dan Teknologi sekitar 1 bulan lalu yang janji akan ngasih Steak Gratis bagi mahasiswa/i yang mempunyai hafalan kemudian di setorkan pada pihak yang berwajib (hehe kaya satpam ajaiya di setorin hafalannya ke para penguji dari Pesantren beliau yakni Pesantren DAQU. Sejak itulah aku akan dan harus ikutan program tersebut serta dapetin Steak gratisnya (bohong deh karena niat Allah kok aku ngafalinnya, asli).

            Berlanjut pada hari yang telah ditentukan yakni hari Selasa tepatnya tanggal 22 Mei 2016 aku alias si penulis menyetorkan hafalannya kepada penguji. Eitsss sebelum menuju ke penguji kita bertiga (aku, Dineu, Ibnu) harus ngambil dulu nomor antriannya lalu aku kebagian nomor urutan yang cantik deh wkwk (lebay ahyaitu ke 123 bukan satu dua tiga ya, tapi itu urutan ke seratus dua pulu tiga. Oke selesai setor hafalan kita bertiga bergegas menuju meja penukaran Steak yang ada di depan aula Anwar Musaddad dengan menunjukan Sertifikat yang telah kita dapatkan setelah beres menyetorkan hafalan.

            Setelah dapet voucher-nya lanjut kami mengabadikan momen tersebut, iya kita bertiga difoto sama Yusuf Mansur yang ada di spanduk hahaha walaupun bukan sama YM asli tapi kami bangga bisa ikut berpatisipasi dalam acara beliau yang dinamakan Wisuda Akbar Indonesia Menghafal ke 7. Sebelumnya kita bingung mau siapa yang fotoin karena kita pengen berbarengan dalam foto tersebut (so sweet always together wkwk). Untungnya disana ada temen sekelas kita yang menjadi panitia dalam acara tersebut. Oke dibawah ini adalah hasil jepretannya Andi Muhfi Zandi, kami ucapakn terima kasih kepda saudara Muhfi 🙂

Hafalan Wisuda Akbar 7 2016

Mungkin itulah cerita inspiratif yang menurutku bisa membangkitkan jiwa kaum muda untuk menghafal Al-Qur’an lebih giat lagi. Eh tapi niatnya juga harus karena Allah lho teman, InsyaAllah menghafalnya pun lebih cepat, gampang, enteng dan akan menempel terus sampai kapanpun. Jika niat kita salah hanya karena berburu Steak Gratisnya mungkin kita akan menganggap susah dan cuma karena Steak yang bisa dibeli oleh kita juga. Bagiku tiada yang lebih berharga ketika kita mendapatkan sesuatu dengan usaha sungguh-sungguh.

Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca artikel ciptaan si penulis yang masih belajar ini. Mohon maaf jika ada kata-kata yang gak nyambung dan gaje 😀 

Wassalamu’alaikum!

                                                                                                                        Regards,

                                                                                                

                                                                                                           Sarjana Pertanian 2019

Secepat Itukah ?

Pada pribadi diri seseorang telah mempunyai tiketnya masing-masing. Kita hanya bisa mempersiapkannya berupa banyak amal shaleh ketika kendaraan tujuan Surga itu datang, Cepat atau lambat? Seperti halnya yang terjadi pada teman baruku, yaitu Fitra Aziz Hidayah. Beliau yang menempati kelas I/A memiliki pribadi yang baik, sholeh dan berbakti.

Dalam keramaian kelas baruku, sedetik pun tak  pernah hening. Semuanya dipenuhi dengan canda tawa juga saling berkenalan. Sebuah keberuntungan bagiku untuk berada dikelas itu. Ya, namanya R 3.09 adalah kelas baruku. Disana aku dipertemukan dengan orang-orang yang sama sepertiku. Mereka beruntung bisa mendapatkan satu kursi dalam kelas itu. Aku masih ingat pada tanggal 01 September 2015 jadwal perkuliahan pertama itu dimulai, dimana semua mahasiswa duduk manis dikelas mendengarkan ocehan semua dosen sampai jam mata kuliah selesai. Namun, pada hari perdana itu aku ternyata kesiangan. Ya, mata kuliah tersebut ialah Matematika dan diampu oleh Pak Suryaman.

Aku berlari menuju lantai 3 dengan langkah kaki yang tak beraturan, dan akhirnya sampailah pada ruang kelas R3.09

“tok…tok…” suara pintu terdengar keras siapa lagi kalo bukan aku yang mengetuknya.

“boleh masuk pak?”

“oh iya silahkan” jawab pak dosen.

Bersyukur aku masih diizinkan masuk, karena waktu itu memang belum lebih dari 20 menit. Setelah masuk kelas langsung saja mataku melihat semua ruangan tersebut dan tentu saja mencari kursi yang kosong. Tak lama kemudian aku mengambil langkah menuju kursi kosong itu yang letaknya dekat dengan arah pintu.

Aku melirik sebelah kanan kiriku, tapi sebelah kiri hanyalah sebidang tembok yang menjulang tinggi dan lebar yang dijadikan pembatas antara kelas dan lorong kelas, sedangkan sebelah kananku ada seorang mahasiswi cantik yang menurutku baik, sholehah dan pendiam. Dalam hasrat ingin sekali berkenalan dengan dirinya, namun apa daya aku hanya tersenyum melihat dia yang sedang menggambar. Entah gambar apa yang dia tuangkan dalam akhir bukunya tersebut, barulah berjalan 3 bulan perkuliahan di semester pertama ini, aku mengenali perempuan itu bernama Intan.

Kelas A, ya itulah kelas kami, 3 bulan berlalu juga dimana kelas kami berduka. Kami telah kehilangan seorang teman begitu baik dan sholeh. Aku punya sedikit cerita tentang dimana aku dan almarhum awal bertemu, berkenalan lalu berbincang-bincang.

             ***

Tepatnya pada hari Senin bulan pertama perkuliahan dimana praktikum Fisika Dasar dimulai. Waktu itu, aku menunggu waktu shalat ashar di perpustakaan umum (Gedung Rachmat Djatnika) untuk sekedar refreshing mencari artikel-arikel yang menarik lalu suara adzan ashar telah berkumandang tandanya aku harus bersiap-siap menutup laptopku dan bergegas menuju masjid ikomah kampus. Tiba di lantai 2 masjid ikomah, akupun shalat dengan berjama’ah untuk mendapatkan ganjaran yang banyak dan berdo’a supaya tidak telat ketika akan masuk ruangan praktikum.

Seusai shalat aku berlari kecil menelusuri anak tangga dengan rasa was-was karena takut telat. Ya, telat telah menjadikan  aku trauma pada hari pertama aku masuk kuliah satu bulan yang lalu. Setelah beres memakai sepatu, aku melihat sekeliling kiranya ada teman sekelas, dan akhirnya aku menemukan salah seorang teman satu kelasku. Tanpa pikir panjang aku berniat untuk mengikutinya dan mengajaknya ke ruangan praktikum bersama. Walaupun aku mengenali wajahnya, namun aku tak tahu siapakah nama dibalik seseorang tersebut. (maklum maba :D).

Aku menghampirinya mengajak untuk berangkat bersama menuju gedung Laboratorium Terpadu (Gedung Solahudin Sanusi). Di trotoar jalan menuju gedung laboratorium aku berjalan sangat cepat dan seketika ia memberi saran.

“Jangan cepat-cepat, orang nyantai aja” ucap almarhum Fitra

Dan akupun tak menghiraukannya sama sekali. Mungkin sakit hati rasanya, ketika ada orang baik untuk menasehati tetapi kita tak menghiraukannya. Hal inilah yang membuatku  hingga sekarang merasa berdosa padanya. Andai saja dulu aku tak sepanik itu mungkin kita bisa berkenalan lebih akrab dan bisa mempunyai kenangan yang indah saat pertama masuk mata kuliah praktikum Fisika Dasar bersamanya.

***

Seperti biasanya jadwal kami banyak sekali praktikum, dan suatu hari aku lupa yang terpenting pagi hari itu adalah jadwal praktikum Kimia Dasar. Kebetulan kuota ku habis dan tidak bisa akses internet yang dimana aku tidak tahu info di grup kelas untuk mengetahui ruangan praktikum dimana dan jam berapa praktikum dimulai. Untuk mensiasati supaya tidak telat, hingga akhirnya aku bernagkat sangat pagi sekali waktu itu.

Kemudian aku menunggu di tempat duduk pinggir lab untuk menunggu teman-teman yang lainnya dan teman yang datang pertama yaitu saudara Fitra. Disitu aku biasa saja karena, berharap teman yang datang pertama inginnya perempuan, tapi tak apa. Beliau tersenyum saja entah bicara apa waktu itu aku sudah lupa, aku hanya menjawab “iya nih, aku nggak punya kuota jadi datangnya pagi HEHE”. Setelah itu kami saling diam karena kami belum saling kenal :’)

Bagiku sulit untuk memahami pelajaran exact, mungkin bisa dibilang agak lambat sehingga aku lebih memilih duduk dibelakang. Dan akhirnya seseorang yang ku temui di masjid ikomah beberapa hari lalu juga lebih memilih duduk dibelakang. Tak tahu tujuan apa ia mengambil barisan paling belakang, yang jelas aku hanya menghindari tunjukan jari dosen ketika harus mengisi latihan di papan tulis. Mungkin tak hanya itu, aku akan mendalami hobiku yaitu menulis.

Berganti mata kuliah setelah Fisika Dasar I akhirnya masuklah dosen PKN yang cantik dan ramah. Menurutku itu dosen favoritku karena beliau sangat berbaur dan mencoba untuk akrab pada kami mahasiswa didiknya. Perkuliahan berlangsung dan sesi tanya jawab pun dibuka, aku melihat ke arah kiri yang mana ada seorang laki-laki yang aku kenali di mesjid ikomah kampus dan ditinggalkan di trotoar waktu itu.

Aku tak habis pikir ternyata beliau orangnya sangat pintar sekali dan aktif walaupun selalu terbata-bata dalam berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar. Maklum, dia asli Jawa dan dibesarkan disana. Mungkin hampir tak ada kekurangan dalam dirinya. Hingga suatu saat pada mata kuliah PKN lagi seseorang aktif itu telah tiada, tentu saja dosen yang bersangkutan merasa kehilangan dan akhirnya menetesakn air mata setelah mendoakan beliau.

      ***

Cerita ini dimulai pada saat malam Jum’at dimana aku rutin untuk selalu membaca surat Yasiin atau kita kenal dengan Yasinan. Saat itu tidak seperti biasanya karena tak kuat dan tak terbendung lagi ketika sedang membaca hadiah yang akan kukirimi untuk almarhum dan almarhumah. Merasa aneh kenapa sampai menangis seperti ini, untuk biasanya tidak sama sekali. Disitu aku mulai merasa ada yang kehilangan, dan mungkin itu adalah pertanda.

Pagi harinya, seperti biasa hari Jum’at adalah mata kuliah bahasa Arab. Dikelas semua orang tak biasanya hening, tentram dan damai. Hingga aku merasa aneh, dan seseorang telah berkata:

“Fitra udah nggak ada”

Aku tak menanggapi serius perkataan tersebut, tetapi batinku memberi jawaban kenapa waktu malam ketika aku berdoa untuk almarhum almarhumah aku menangis terisak-isak, ya mungkin itu pertanda. Perasaanku saat itu campur aduk, karena aku belum sempat meminta maaf dan aku hanya bisa berdoa untuknya memberikan yang terbaik bagi almarhum.

Ternyata beliau mempunyai penyakit yang sudah lama menyerang tubuhnya. Batinku sangat terpukul dan mungkin bisa dikatakan tak menerima atas takdir yang Allah kehendaki. Mungkin Allah kasihan dan sayang kepadanya, sehingga ia dipanggil lebih dahulu ke surga-Nya.

Diciptakan pada hari Jum’at, 4 Desember 2015

 

Semoga cerpen ini dapat dijadikan pelajaran bagi siapapun yang mempunyai teman sholeh maupun sholehah jangan dibiarkan dan disia-siakan begitu saja. Rangkulah dia dan diajak bergabung, siapa tahu dia menjadikan kita sebagai teman baiknya ketika dia telah tiada, begitupun sebaliknya. Karena, umur manusia tidak ada yang tahu!

almarhum 2almarhum