Andalan

Change the name of the building on the campus UIN SGD Bandung

Sekarang saya mau membahas acara besar yang telah dilaksanakan oleh Kampus UIN SGD. Walaupun acara tersebut sudah terlewat namun info yang tersampikan belum menyeluruh tersebar secara luas untuk khalayak umum diluar sana. Acara tersebut yakni bernama Dies Natalis UIN SGD Bandung ke-48

Dalam rangka acara Dies Natalies UIN SGD Bandung ke-48 ada banyak bermacam  kegiatan. Oke kalian pasti tidak tahu kapan acara tersebut dilaksanakan dan sampai kapan acara tersebut mencapai puncaknya. Setahu saya sebagai mahasiswi di semester II Jurusan Agroteknologi, acara Dies Nataslies ke-48 dimulai pada akhir bulan Maret, yap sekitar tanggal 28, 29, 30, 31, nah acara puncak terjadi pada tanggal 8 April 2016.

Dalam acara puncak tersebut yaitu pada tanggal 8 April 2016 ada Seminar Internasional yang mengundang tamu special yaitu bapak Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Disini saya akan membagi sebagian hasil dari Seminar Internasional tersebut. Menurut baligo yang pernah saya baca bahwa seminar tersebut ada tamu undangan dari seluruh Rektor Universitas terkenal yang ada di Bandung, seperti ITB, UNPAD, UPI dll.

Lanjut pada topik yang akan saya bagikan yaitu tentang perubahan nama-nama gedung di UIN SGD Bandung. Seperti yang saya jelaskan tadi perubahan nama-nama gedung diatas merupakan sebagian dari isi atau hasil seminar. Karena untuk seluruh isi dari seminar tersebut saya kurang mengetahuinya, disebabkan pada hari itu saya ada jadwal kuliah. Baik langsung saja saya sebutkan gedung-gedung mana saja yang menjadi perubahan nama sebagai tanda dari Dies Natalis ke-48 ini.

Inilah perubahan nama-nama gedung di UIN SGD Bandung

  1. Gedung Aula Multi Purpose             menjadi Gedung Anwar Musaddad
  2. Gedung Aula Lama                            menjadi Gedung Abjan Soelaeman
  3. Gedung Laboratorium Terpadu      menjadi Gedung Solahudin Sanuasi
  4. Gedung Al-Jamiah                              menjadi Gedung O. Djauharudin AR
  5. Gedung Perpustakaan                       menjadi Gedung Rachmat Djatnika

Menurut informasi yang saya dapatkan bahwa perubahan nama tersebut diambil dari nama-nama Rektor UIN Bandung yang telah wafat dan ditanda tangani oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Hanya itu yang bisa saya sampaikan.

Semoga bermanfaat khususnya untuk mahasiswa/i UIN SGD Bandung yang belum mengetahui atas perubahan nama gedung-gedung penting di kampus dan untuk mahasiswa/i baru untuk mengenali sebelum dan sesudah perubahan nama-nama gedung di kampus UIN SGD Bandung.

Berikut gambar dari gedung-gedung di UIN SGD Bandung yang dirubah namanya.

 

 

aula baru
Gedung Anwar Musaddad

 

 

 

aula lama
Gedung Abjan Soelaeman

 

 

 

lab
Gedung Solahudin Sanusi

 

 

 

aljamiah
Gedung O. Djauharudin AR

 

 

 

perpus
Gedung Rachmat Djatnika

 

Dokumentasi Pribadi

Copyright 2016

Iklan

I wanna grow old with You

If I was married to the same age, I wanted to paint ‘Ali and Fathimatuzzahra stories. They both love other for their faith. The patient Fathima even though he returned home without any possessions, also Ali who remained responsible while working as a laborer on the salary of a handful of dates. Ah, it’s beautiful.

If I marry a younger man, I want to carve a story like Usman bin ‘Affan and Naila as-Syam. The two continued to love although one had grown gray and the other in her teens. Duhai, the best teacher is a good husband. So, Naila studied on the more mature Usman. Learing to increase his life pressure, until he gave up his fingers for holding back the sword of the enemy that was about to kill his husband. And after Usman died, she had rumpus clawing her beautiful face so no one would ever propose to her. He loved the sweetheart of his soul.

If I marry an older man, I want to carve love like a messenger of God and Khadija al-Kubra. Both loving and spreading love for each other. Khadija was the best wife ever, always comforting as a mother, in company as a true friend, sacrifing her possessions in order to promote her husband edibility. And truly just Khadija, the first love that the apostle never had honed.

Over marriage, age is no longer a problem. Because, marriage is the process of self-improvement, the process of self-improvement, and the process of self-mutilation. Once in a while, take our partners as teachers, we respect them. Every now and then, we make a couple of friends, we laugh together. Every now and then, we treat each other as brothers, we pamper them fully. Once again after marriage, it’s not about age but about what kind of journey. And make sure that our home journey is like a rainbow, with lots of colours shining.

Now Play :

  • I Wanna Grow Old With You – WestLife
  • Menua Bersama – Rahmania Astrini

 

Anggrek di Hari Kamis

Udara hari ini begitu berbeda dari biasanya. Semuanya begitu serba mendadak, serba mengejutkan dan sejenisnya. Ya, seharusnya hari Kamis adalah jadwalnya ngasisten Praktikum Pengolahan Pestisida di semester 6. Tapi, kali ini berbeda yaitu aku disuruh beli Anggrek oleh Bu Yati. Kemanapun yang penting dapat Bunga Anggrek yang sangat cantik, bagaimanapun caranya dan kemanapun belinya 😀 Akhirnya aku dan Kang Agung (Ketua Asisten) memutuskan untuk beli ditempat penjualan khusus Tanaman Hias di Cibeunying dan dekat dengan Cibeunying Park. 

Seperti yang terlihat digambar suasana salah satu kebun disana yang banyak menjual Bunga Anggrek. Rata-rata harganya cukup dikantong  antara Rp. 40.000,- sampai dengan Rp. 180.000,-/. Banyak sekali warna-warna yang cantik, tap ya begitulah harganya tidak sesuai budget 😀 Seperti bunga yang berwarna kuning atau putih corak itu diberi harga Rp. 175.000,- saja. Lalu kami pun -Kang Agung dan Hana- membeli 2 jenis Bunga Anggrek berwarna pink dan putih. Sangat cantik sekali 🙂 seperti aku *pedeamat*. Akhirnya perjalanan pulang akan dilalui, dan aku duduk diataas jok motor Kang Agung dengan memegang 2 pot bunga tersebut secara hati-hati diatas.

Diperjalanan pulang aku kagum dan sekaligus terenyuh melihat orang tak gentar dan pantang menyerah dipinggir jalan. Ia mengadukan nasibnya secara yakin pada semesta raya ini bahwa rizkinya ada di Bunga Anggrek. Yah itu tadi disaat hari Kamis ini aku harus beli bunga Anggrek sama Bu Yati. Tiba diwaktu perjalanan pulang itu juga ada seorang bapak yang berjualan Anggrek jenis bulan dipinggir trotoar jalan. Tak sengaja aku melihat beliau sedang duduk dibawah pohon demi menghindari pancaran sang mentari siang.

Terlihat cucuran keringatnya yang Ia usap dengan lap yang menggantung dilehernya. Terlihat perjuangan seseorang yang berjualan dengan menganggung beban dagangan dipundaknya itu. Dan, terlihat begitu sangat kelelahan. Sungguh menyedihkan dengan posisi disimpan tanggungan dagangannya didepan Ia duduk. Namun, Ia tetap semangat dengan Anggrek Bulan Putih yang menggoda membuat si penjual memancarkan semangatnya.

Pukul siang tengah hari bukannya tidak baik untuk kulit? Ya, Ia pun mengetahuinya untuk istirahat diwaktu tersebut. Namun, hanya duduk dan mengusap keringatnya yang Ia lakukan tanpa makan atau istirahat yang layaknya istirahat. Hanya sebatang pohon diatasnya itulah yang menjadi tempat ternyaman bagi istirahatnya. Aku sangat miris melihat Ia bersama Bunga Anggrek Putihnya.

Dan, entah bagaimana perasaannya melihat aku dengan 2 Bunga Anggrek yang disimpan diatas jok motor. Semoga Ia tidak memikirkan hal yang tidak-tidak, ku berharap begitu. Aku hanya melihat kegigihannya yang luar biasa seperti halnya ayahku dan ayah-ayah teman-teman semua bahwa mencari nafkah itu pengorbanannya tak kenal uisa, waktu dan ruang. Semoga disehatkan ayah kita semua sampai Ia melihat kita sukses Aamiin

 

Pelantikan Asisten Praktikum

Hello everybody.

Alhamdulillah yang paling utama saya panjatkan rasa syukur tiada akhir kepada Allah subhana wa ta’ala. Ternyata satu tahap impianku mulai terkabul, impian dimana saat menjadi maba (mahasiswa baru) ingin rasanya seperti mereka yang duduk didepan -dekan, kajur, sekjur, asdos dan asprak- ketika hari kedua OPAK 2015 yang artinya saat itu pengenalan fakultas dan jurusan masing-masing. Hari itu aku duduk ditengah-tengah barisan teman lainnya, disana ku melihat para atasan di fakultas Sains dan Teknologi, pastinya ada Bapak Opik (Dekan). Setelah itu dipanggil lah satu persatu kajur+sekjur dari setiap jurusan, tiba saatnya jurusan Agroteknologi dikenalkan kajurnya yaitu Bapak Taufik dan sekjurnya Ibu Liberty. Nah setelah itu dipanggilah para dosen/asdosnya yang salah satunya membuat saya terinspirasi ingin seperti orang-orang dipanggil adalah Teh Fika, beliau inspirator saya, beliau semangat saya, jujur saya katakan.

Entah kenapa hanya kepada Teh Fika, waktu itu saya hanya menulis nama kajur, sekjur dan Teh Fika yang nama lengkapnya itu Frieska Mega Wahyuni. Sampai detik ini saya masih terinspirasi olehnya, dari pertemuan di aula lama pertama kenal sampai di praktikum selalu jadi panutan. Mungkin waktu itu jika asdosnya yang hadir bukan Teh Fika mungkin saya tidak akan sampai begini, bisa jadi saya terinspirasi oleh asdos semuanya. Inilah takdir-Mu yang selalu membuat saya terkagum-kagum.

Sejak dahulu saya selalu ingin menjadi atau mempunyai suatu kegiatan/organisasi penting seperti OSIS, MTsN dan MA saya sangat aktif mengikuti OSIS karena entah kenapa saya selalu semangat dengan organisasi apalagi OSIS. Kesannya itu punya banyak pengalaman, itu saja sih paling utama karena yang selebihnya seperti ilmu, kepemimpinan, relasi, keberanian, itu sekedar bonus. Niat dan dan semangat yang kuat bisa mencapai titik tersebut, di MTsN menjadi kabid 10 dan di MA menjadi sekbid 6. Senang? Lebih dari senang, guys.

Nah, ini dia bahasan paling utamanya, tadi hanya pembuka kenapa saya begini dan sangat menyukai kesibukan yang dimana teman-teman lainnya spesifiknya temen deket saya selalu memilih untuk di zona nyaman, sekolah hanya sekolah, belajar hanya sampai pukul 1, untuk kuliah seperti istilah ‘kupu-kupu’, pasti udah tau kepanjanganya yakkkkk. Pokoknya hari Jumat saya senang, titik.

Tidak akan menyangka sampai dititik ini – pengukuhan asisten – mulai dari pendaftaran, pengumpulan dokumen, wawancara, sampai dimasukan ke grup calon asisten yang dimana saya sudah diterima dan lulus di perekrutan dan anggota asisten praktikum.

Mengembalikan Bahasa Daerah Sebagai Bahasa Ibu

Dengan buku menjadi banyak tahu tentang dunia dan dengan bahasa seakan kita hidup selamanya. Begitulah singkatnya jika kita bekumpul dengan keluarga yang digunakan untuk menjalin keakraban adalah bahasa, berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari kampung halaman sama pun menggunakan bahasa. Namun, saat ini bahasa-bahasa daerah tersebut akan semakin punah di daerahnya masing-masing akibat paradigma masyarakat yang cenderung menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari dan gengsi jika menggunakan bahasa dari daerah asal mereka. Boleh-boleh saja jikalau ingin belajar bahasa asing dan menguasai berbagai macam bahasa baik itu bahasa Inggris, Korea, Jepang maupun Arab hanya untuk meningkatkan pengetahuan tentunya, tapi jangan sampai bahasa daerah kita sendiri dilupakan serta kita selaku mahasiswa yang akan menjadi penerus bangsa ini kedepannya harus bisa menjaga dan melestarikan budaya lokal. Karena, Negara kita ini sangat kaya akan budaya dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri salah satunya adalah bahasa.

Dari situs berita nasional yang mengutip dari situs riset linguistic dan telaah bahasa dunia, Ethonologue, Indonesia menempati urutan kedua dengan bahasa lokal terbanyak di dunia, situs tersebut menyatakan Indonesia memiliki 707 bahasa daerah. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia mempunyai lebih dari 700 bahasa daerah. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia Negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini. Bahkan berdasarkan buku yang pernah saya baca pun berjudul “Life Science for a Better Life” menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman bahasa daerahnya masing-masing dan isi buku tersebut intinya ingin menggugah kesadaran masyarakat betapa strategisnya life science, mengingat Indonesia memiliki modal kebudayaan dan biodiversitas yang tak tertandingi oleh Negara manapun di dunia. Tahukah kalian? Bahwa dari 700 bahasa daerah di Indonesia saat ini hanya 19 bahasa yang aman dan tetap kita gunakan sebagai alat komunikasi di daerahnya masing-masing. Lalu bahasa yang dinyatakan punah oleh Badan Bahasa sebanyak 11 bahasa, keberadaan bahasa yang telah punah tersebut tersebar di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Kemudian usaha Badan Bahasa untuk melestarikan bahasa daerah sampai tahun 2016 sebanyak 646 bahasa daerah telah didokumentasikan.

Menurut kutipan dari UNESCO menyatakan “ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga, sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah” kemudian menurut data UNESCO, daerah yang paling terancam punah bahasanya adalah Halmahera. Oleh sebab itu, usaha yang bisa membantu guna untuk mempertahankan dan mengembalikan keragaman bahasa daerah sebagai bahasa ibu yaitu penutur sebelumnya ketika memiliki keturunan harus dikenalkan dan diaplikasikan bahasa daerah mulai sejak dini sesuai suku dan budayanya masing-masing. Manfaat yang akan didapatkannya banyak sekali selain untuk menjaga warisan yang sangat berharga, seperti yang telah disebutkan oleh UNESCO maka sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi tersebut akan terjaga dan dilestarikan. Walaupun saat ini rata-rata para orang tua telah meninggalkan bahasa daerahnya dan mengajarkan anak-anaknya ke kelas privat bahasa untuk bisa bahasa asing. Faktor tersebut yang menyebabkan semakin berkurangnya pemakaian bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kutipan dari Dadang Sunendar (Kepala Badan Bahasa) ketika membuka Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional tahun 2017 “Penggunaan bahasa asing harus sesuai dengan tempat dan waktunya”.

Kemudian bahasa daerah harus ada di sekolah sebagai mata pelajaran. Seperti yang telah dikatakan oleh Anies Baswedan adalah “cara agar bahasa tidak hilang adalah dengan diajari di sekolah, di rumah dan semua orang harus mempromosikannya”.  Contohnya di Jawa Barat sendiri ada mata pelajaran khusus bahasa yaitu Bahasa Sunda,  di Jawa ada mata pelajaran Bahasa Jawa. Mereka wajib mempelajarinya, mengetahui  dan mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Dengan begitu para generasi muda akan tahu walau hanya sedikit demi sedikit lalu akan terbiasa dengan bahasa daerah yang mereka pelajari. Selain kenal dengan bahasa daerah masing-masing, mereka juga akan berfikir bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap budaya yang beraneka ragam tersebut. Karena, semboyan Negara kita adalah “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, yang menggambarkan bahwa Negara kita memiliki macam-macam budaya yang salah satunya yaitu bahasa dan setiap dialek bahasa daerahnya pun berbeda-beda. Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh sampai melupakan bahasa daerah tersebut. Seperti Ewis Taime (25) dan Imannuel (20) dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2017 menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan bahasa daerah, karena bagi mereka bahasa merupakan salah satu elemen dan sarana penting sebagai pemersatu bangsa.

Mari kita sudah sepantasnya menjaga dan melestarikan dari Bhinneka Tunggal Ika, dengan cara menggunakan bahasa daerah dan jangan malu untuk melakukan itu. Utamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pemersatu bangsa dan lestarikan bahasa daerah sebagai ciri khas Negara kita yang dimana setiap suku bangsa mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Maka, sudah sangat jelas kita harus mengembalikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Data : Badan Bahasa (2016)

Start a new life~

Akhirnya air mata ini keluar dan membasahi pipi. Setelah sekian lama terakhir aku menangis akibat musibah kapan ya, yang jelas aku baru merasakannya lagi menangis seperti ini. Sakit hati. Dulu yang hilang itu flashdisk dan disitu ada data-data kuliah dan juga albumku yang banyak itu hilang di perpus pusat karena kecorobohan dan sebal wifi-nya tidak nyambung-nyambung. Akhirnya aku pulang dan si flashdisk jatuh dari laptop. Sekarang, musibah sama dan lebih dari flashdisk hilang, semua data di laptop baik itu data kuliah, album masa sekolah, album keluarga, music, video, semuanya hilang seketika akibat ketidaksabaranku, Ya Allah. Ini semua sudah terjadi maka aku harus ikhlas 🙂

Seminggu yang lalu hati ini sudah gundah sekali, menunggu info laptop apakah bisa di downgrade atau tidak. Sebelumnya aku pernah kehilangan semua file laptop karena dijual oleh kakak dan sampai saat ini aku masih bisa memaafkan dan bertahan untuk tidak mengingat masa lalu kenangan di laptop tersebut. Lalu saat ini kejadian sama dengan hilangnya semua file di laptop, aku harus bisa memaafkan terutama ikhlas dan aku pasti bisa hidup tanpa masa lalu. Sedih sekali. Jika ini yang terbaik untuk ku yang dimana aku harus MOVE ON dari masalalu dan aku harus membuka lembaran baru di laptop ini dan dengan semangat impian yang indah, maka aku harus meng-ikhlaskannya.

Aku harus bisa hidup tanpa banyak kenangan kala itu, foto-foto zaman MTs, kenangan nge-journey kesana kemari, album keluarga yang susah ngumpulinnya, dan masih banyak lagi. Ya Allah aku harus bisa, aku harus kuat!!!

Jika ini yang terbaik, aku terima, karena semuanya itu tidak akan dibawa ke akhirat. Semuanya akan musnah, hilang, tenggelam tidak akan kembali lagi seperti file-file yang ada di laptopku, and all the lost. Except, hanya Allah yang bisa berkehendak atas bumi ini, kita hanya menumpang. Berfikir positive akan lebih baik, ya, Han. Karena, Allah akan memberikan ujian yang sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Alhamdulillah….

So, don’t be panic and thinking positive about all, because the earth and all will come back to the Creator is Allah Subhana wa ta’ala.